Selasa, 03 Agustus 2010

Ada Alasan Dibalik Infotainment Perlu Diperbaiki

Sebelumnya di media massa senter beredar tentang fatwa MUI yang mengharamkan infotainment. Berikut adalah salah satu kabar beritanya dari media Gatra tanggal 30 Juli 2010:

MUI: Segera Tata Ulang Infotainment

Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma`ruf Amin meminta pemerintah dan lembaga berwenang segera menata ulang acara-acara infotainment, setelah munculnya banyak keresahan masyarakat dan fatwa haram MUI.

"Kita harapkan semacam tindak lanjut segera ditata ulang masalah infotainment ini," katanya di Jakarta, Jumat (30/7).

Menurut Ma`ruf Amin, fatwa haram infotainment karena isinya yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

"Isinyakan mempergunjingkan orang. Kalau dalam Islam itu dinamakan ghibah, itu tidak diperbolehkan. Begitu pula jika sampai dengan menggunjingkan seseorang namun tidak benar, itukan fitnah namanya, dan itu jelas juga dilarang. Jadi itu yang menjadi pokoknya," katanya.

Belum lagi, menurut dia, tayangan infotainment juga kadang memperlihatkan gambar-gambar yang tak senonoh yang dapat memicu tindakan yang tidak benar oleh para penontonnya.

"Kasus video porno sudah menjadi pelajaran kita. Bagaimana kasus itu menjalar, yang kemudian memicu orang itu menonton itu, bahkan sampai dengan anak-anak sd, bahkan menjadi alasan perkosaan, inikan tidak benar, kalau diterus-teruskan berbahaya bagi moral bangsa ini," katanya.

Seperti diberitakan MUI telah menegaskan kembali fatwa haram bagi infotainment karena dinilai isinya bertentangan dengan ajaran agama Islam. Fatwa Haram juga pernah dimunculkan oleh Ormas Islam Nahdlatul Ulama pada sekitar 2006.

Menurut ketentuan umum fatwa mengenai infotainment, menceritakan aib, kejelekan, gosip, dan hal-hal lain terkait pribadi kepada orang lain dan atau khalayak hukumnya haram.

Dalam rumusan fatwa tersebut juga disebutkan upaya membuat berita yang mengorek dan membeberkan aib, kejelekan gosip juga haram. Begitu juga dengan mengambil keuntungan dari berita yang berisi tentang aib dan gosip dinyatakan hukumnya haram oleh MUI.

Namun MUI memperbolehkan dengan pertimbangan yang dibenarkan secara syar`i untuk kepentingan penegakan hukum, memberantas kemungkaran untuk menayangkan dan menyiarkan serta menonton, membaca dan atau mendengarkan berita yang berisi tentang aib. [TMA, Ant]

Dasar-dasar MUI mengambil keputusan tersebut adalah berkenaan dengan syariah yang terdapat dalam agama Islam selaku agama mayoritas penduduk Indonesia. Bagaimana bunyinya? Kurang lebihnya alit rangkum sebagai berikut:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

Adakalanya berbicara itu baik, sehingga hal itu diperintahkan. Namun adakalanya juga tidak baik, sehingga diperintahkan untuk diam.

‘Uqbah bin Amir berkata, “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa keselamatan itu?’ Beliau menjawab, ‘Jagalah lisanmu!’"(HR. Tarmidzi)

Beliau juga bersabda,

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)

Lisan sejatinya termasuk salah satu cobaan yang paling berat di dunia ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Sesungguhnya (bisa jadi) seorang hamba mengucapkan perkataan yang tidak ia renungkan sebelumnya, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara Timur dan Barat.”(HR. Bukhari.)

Syaikh Izzuddin bin Abdussalam menjelaskan “…Yang tidak ia renungkan…ialah perkataan yang pelakunya tidak mengetahui baik dan buruknya. Maka diharamkan bagi seseorang mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui baik dan buruknya.”

An-Nawawi berkata, “Di dalam hadist ini terdapat anjuran menjaga lisan. Karena itu, bagi orang yang ingin berkata, hendaknya merenungi terlebih dahulu apa yang ia ucapkan. Jika ada kebaikan dalam ucapannya, hendaknya ia mengucapkannya. Namun jika tidak, hendaknya dia diam.”

Al Hasan Al Bashri berkata, “Para ulama mengatakan, ‘Lisan orang mukmin ada di balik hatinya. Jika ingin mengucapkan sesuatu, ia merenungkannya dengan hatinya terlebih dahulu, baru kemudian mengucapkannya. Sementara lisan orang munafik berada di depan hatinya. Jika menginginkan sesuatu, ia mengucapkannya dahulu dengan lisannya tanpa merenungkan dengan hatinya.”

Penyakit lisan sejatinya jumlahnya sangat banyak diantaranya berbohong, memfitnah, mengadu domba, debat, berlebih-lebihan, menambah-nambahi, menyakiti orang lain dan mempublikasikan aib. Untuk itu kita perlu hati-hati dengan lisan kita karena sedikit meleset saja akibatnya bisa sangat fatal.

Untuk dipahami tanda kebaikan keislaman seseorang dalam hal lisan adalah saat ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak berguna baginya. Dia hanya mencukupkan dirinya dengan ucapan yang berguna bagi dirinya dan orang-orang disekitarnya. Adapun makna ‘berguna’ di sini ialah yang sesuai dengan ketetapan syariat Islam. Kalaupun akhirnya terpaksa seseorang harus mengghibah, maka ghibah yang diperbolehkan adalah:

Pertama, orang yang terzalimi boleh mengadu kepada pemimpin atau pejabat atau hakim untuk meluruskan orang yang menzaliminya. Contoh: Kesaksian dalam pengadilan

Kedua, meluruskan perkara yang mungkar atau tidak sesuai dengan syariat. Contoh: bimbingan konseling

Ketiga, permintaan fatwa kepada juru fatwa demi menjaga eksistensi syariah. Contoh: masyarakat mengadukan tayangan infotainment yang meresahkan pada MUI seperti saat ini

Keempat, memperingatkan kaum Muslim dari kejelekan

Kelima, terus terang dengan kefasikan atau bid’ahnya, Misalnya pemabuk jangan dipilih sebagai Ketua RT

Keenam, pemberitahuan. Maksudnya, jika seseorang di daerah tertentu dikenal dengan julukan tertentu semisal si pincang atau si buta, maka diperbolehkan untuk menyebutnya demikian dalam pembicaraan asal hal itu tidak dimaksudkan untuk meremehkannya. Namun demikian jika ada ada sebutan yang lebih baik maka sebaiknya sebutan itulah yang dipakai.

Selain hal-hal tersebut di atas pada azasnya dilarang dilakukan oleh syariah karena dianggap tidak ada manfaatnya. Dalam hal ini, Abu Ubaidah pernah meriwayatkan dari Hasan bahwa ia berkata, “Di antara tanda bahwa Allah berpaling dari seorang hamba ialah Dia menjadikan hamba tadi sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, sebagai bentuk penghinaan dari Allah.

Termasuk dalam definisi pembicaraan yang tak berguna adalah melebih-lebihkan cerita dengan memberi tambahan atau mengurangi, mengumpat orang atau mencela sesuatu dari ciptaan Allah. Akan lebih bermanfaat kalau sesuatu itu diucapkan dengan kalimat yang ringkas-hal yang perlu-perlu saja.

Dengan tegas Al Qur'an juga telah menyebutkan:

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hujuraat: 12)

Disamping itu terdapat sunnah yang menyebutkan demikian, "Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, Tahukan kalian apa ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu, engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang tidak disukainya.”

Seseorang bertanya, “Bagaimana jika apa yang aku bicarakan memang ada padanya?” Beliau bersabda, “Jika apa yang engkau bicarakan itu memang ada pada saudaramu, berarti engkau telah mengghibahnya, dan jika tak ada padanya, berarti engkau telah melontarkan tuduhan dusta kepadanya.” (HR. Abu Dawud)

Aisyah ra berkata tentang Rasulullah, “Aku pernah menceritakan seseorang kepada beliau, lalu beliau bersabda, ‘Aku tidak suka menceritakan seseorang, meskipun aku diberi harta.’” (HR. Tarmidzi)

Dan dari semuanya yang paling buruk dari ghibah adalah ghibahnya orang-orang yang berpura-pura taat kepada Allah tapi sebenarnya suka pamer. Diantara mereka ada yang berkata demikian, “Si Fulan ditimpa bahaya besar. Semoga Allah menerima taubat kami dan taubatnya.” Orang tersebut memperlihatkan doa tapi menyembunyikan tujuan hatinya sebenarnya, yakni ingin mengangkat derajat dirinya sendiri dengan cara merendahkan orang lain dibalik ucapan doanya yang baik. Naudzubillah.

(Sumber: Selamatkan Hati dari Tipu Daya Setan, Seri: Gizi Hati, oleh Dr. Ahmad Farid)

****

Pada akhirnya tidak ada media komunikasi yang lebih baik selain pemberitaan media massa di jaman sekarang. Ini sudah tuntutan jaman. Namun demikian, tidak ada salahnya kalau isi beritanya juga yang seperlunya sajalah. Karena jujur saja, alit sendiri kurang begitu hobi menonton berita infotainment bukan lantaran tidak peduli lingkungan tapi malas saja mendengarkan orang bergunjing. Kalau kebetulan berita yang disiarkan sama biasanya alit lebih memilih nonton berita biasa (Reportase, Redaksi sore, Metro hari ini dan semacamnya) saja daripada nonton infotainment. Biar agak membosankan minimal gunjingan yang tidak perlu nyaris tidak ada disana.@ 2010

1 komentar:

  1. KAMI SEKELUARGA TAK LUPA MENGUCAPKAN PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH S,W,T
    dan terima kasih banyak kepada AKI atas nomor yang AKI
    beri 4 angka [5377] alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus .
    dan alhamdulillah sekarang saya bisa melunasi semua utan2 saya yang
    ada sama tetangga.dan juga BANK BRI dan bukan hanya itu KI. insya
    allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
    kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan AKI..
    sekali lagi makasih banyak ya AKI… bagi saudara yang suka PASANG NOMOR
    yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi KI JAYA,,di no (((085-321-606-847)))
    insya allah anda bisa seperti saya…menang NOMOR 850 JUTA , wassalam.

    BalasHapus