Selasa, 29 Desember 2009

Sidon, Kota Gunung Sampah

Teranyata yang bermasalah dengan sampah tuh tidak hanya Indonesia ya, kalau tidakpercaya coba deh baca atikel ini:

Sidon, Kota di Lebanon yang Terancam Gunung Sampah
Siprus Kena Getah, Jadi Gantungan Hidup Pengungsi

Tumpukan sampah di pinggir Pantai Sidon setinggi gedung empat lantai. Bantuan luar negeri banyak, tapi terhadang pertikaian birokrasi.

Dua orang berdiri di atas gunung sampah
---

BAU yang luar biasa menusuk itu menjadi makanan sehari-hari Mohamad. Maklum, sebagai nelayan, tiap kali melaut dia harus melewati gunung sampah -dalam bahasa setempat disebut Makab- di pinggir Laut Mediterania sebelah selatan kota tempat tinggalnya, Sidon, Lebanon.

''Mengerikan, bukan? Anda bahkan sudah bisa mencium baunya sebelum melihat sampahnya," kata Mohammad kepada BBC.

Dari semula tempat pembuangan sementara yang dibangun pada 1975, Makab kini ''berkembang" menjadi gunung dengan volume sampah mencapai 50 juta meter persegi. Adalah serangan udara Israel ke Lebanon pada 1982 yang menjadi awal masalah Makab Sidon.

Sampah-sampah bangunan yang hancur akibat serangan tersebut dibuang ke Makab. Perlahan, volumenya terus menggelembung hingga kini menjadi "ikon" Sidon. Segala macam sampah dari warga kota yang berumur 6 ribu tahun dan berpenghuni 350 ribu orang itu menumpuk di sana.

Bagi nelayan seperti Mohammad, polusi bau bukanlah masalah utama. Yang jauh lebih mengganggu dari itu, limbah dari Makab telah mencemari perairan Mediterania di sekitarnya. Akibatnya, banyak ikan mati. Jala nelayan pun sering rusak karena lebih sering menjaring sampah.

''Padahal, jala kami itu berharga USD 500 (sekitar Rp 4,6 juta). Kalau rusak, kami tak mampu membeli lagi," keluh Mohammad.

Saking lamanya beroperasi tanpa didukung fasilitas daur ulang dan daya tampung yang sudah melewati batas normal, tiap hari sebagian sampah Makab pun melorot ke laut dan hanyut. Kabarnya, sampah dari Makab itu sampai ke Siprus, yang juga terletak di kawasan Mediaterania.

Termasuk sampah dari rumah sakit di Sidon. ''Banyak sekali sampah jarum, darah, daging, bahkan ginjal di sini (Makab)," kata Mohammad Hamdan, seorang pemulung yang merupakan pengungsi Palestina, kepada BBC.

Tak heran, limbah beracun dari Makab diyakini sangat mengancam kehidupan laut di Mediterania. ''Ekosistem di sepanjang Pantai Sidon sangat rusak," kata Garabed Kazanjian, aktivis lingkungan dari Greenpeace.

Pemerintah Kota Sidon bukan tak sadar akan ancaman tersebut. Rencana memindahkan lokasi Makab sudah lama disusun, tapi tak jua terwujud hingga kini. Padahal, bantuan dana dari luar negeri terus menguncur.

Pangeran Alwaleed dari Uni Emirat Arab telah mendonasikan USD 5 juta (Rp 46,5 miliar). Pemerintah Arab Saudi merogoh kocek USD 20 juta (Rp 186 miliar). Pemerintah Lebanon juga tak ketinggalan. Mereka menawarkan dana total USD 20 juta untuk membangun tanggul penahan air, pelabuhan, dan fasilitas daur ulang.

Wali Kota Sidon Dr Abdul Rahman Bizri mengakui, dana sebanyak itu belum termanfaatkan maksimal karena perpecahan di birokrasi Sidon akibat politik sektarian. ''Padahal, kondisi Sidon sudah benar-benar terancam karena Makab. Dari total tujuh kilometer persegi wilayah kota ini, empat kilometer di antaranya telah tercemari. Sudah tak mungkin lagi mengembalikan Sidon sebagai daerah tujuan memancing atau ekoturisme," kata Bizri kepada situs Emirates Business.

Satu-satunya pihak yang bisa mengambil sisi positif dari Makab barangkali cuma para pengungsi Palestina. Sebab, di Makab-lah mereka menggantungkan hidup sebagai pemulung.

''Sulit mencari pekerjaan di kota ini. Banyak di antara pemulung di sini yang bergelar sarjana. Apa boleh buat, kalau tak memulung, pilihan bagi kami hanya mengemis," kata Hamdan. (cak/ttg)

Sumber: Jawa pos; Senin, 28 Desember 2009


potret seorang pemulung