Minggu, 22 November 2009

Indonesia Hitung Kerugian Pencemaran Laut Timor

Kalau biasanya Indonesia yang jadi bulan-bulanan Australia (walaupun persoalannya kadang-kadang sangat sepele), nah sekarang mestinya Indonesia-lah yang menunjukkan taringnya. Jangan biarkan tetangga terus-terusan bertampang sangar dengan kita. Sebaliknya sekarang Indonesia sangat-sangat-sangat "BERHAK" menuntut Australia untuk bertanggung jawab pada pencemaran yang dibuatnya! HARUS!! Ayo Indonesia jangan menyerah!!! (Waduh jadi seperti lagunya D'Masiv-Jangan menyerah..Jangan menyerah!!)

Alit

***
KUPANG (SuaraMedia News) - Menteri Luar Negeri (Menlu) Kabinet Indonesia Bersatu II, Marty Natalegawa telah membentuk panitia nasional untuk menghitung kerugian yang dialami akibat pencemaran Laut Timor yang disebabkan meledaknya ladang minyak Montara.

"Menlu telah membentuk panitia nasional guna menghitung kerugian yang dialami Indonesia akibat pencemaran Laut Timor," kata Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) Ferdi Tanoni di sela-sela diskusi publik media dalam reformasi sektor keamanan di Kupang, Sabtu.

Pencemaran Laut Timor terjadi akibat meledaknya ladang minyak Montara pada 20 Agustus lalu yang setiap harinya memuntahkan sedikitnya 500.000 liter minyak mentah ke Laut Timor.

Dia memberikan apresiasi dengan dibentuknya panitia nasional yang akan menghitung kerugian akibat pencemaran tersebut, karena pencemaran Laut Timor kurang mendapat perhatian serius dari Pemerintah dan DPRD NTT. "Kami gembira dengan pembentukan forum tersebut, sehingga kita tahu berapa kerugian yang dialami Indonesia akibat pencemaran tersebu," katanya.

Walaupun telah dibentuk panitia nasional, namun Dia merasa kecewa dengan sikap pemerintah daerah dan DPRD NTT yang kurang memberikan perhatian serius terhadap pencemaran yang terjadi di Laut Timor.

"Pemda dan DPRD NTT kurang memberikan perhatian serius dalam melakukan kajian mendalam tentang pencemaran Laut Timor," katanya.

Selama ini, lanjutnya, Pemerintah pusat dan daerah mengabaikan hak-hak warga NTT, khususnya nelayan di Laut Timor. Padahal, negara lain di Eropa mendukung YPTB untuk terus memperjuangkan kerugian yang dialami Indonesia akibat pencemaran Laut Timor. "Gerakan kita didukung oleh negara-negara di eropa," katanya.

Akibat dari meledaknya ladang minyak Montara, katanya, Indonesia sangat dirugikan, karena banyak terumbu karang dan ikan yang berada di perairan tersebut ikut tercemar. Sehingga masyarakat NTT selalu menyuarakan pencemaran tersebut.

Dia berharap dengan adanya perhitungan kerugian tersebut, maka Indonesia dapat mengklaim kerugian yang dialami ke Pemerintah Australia, akibat meledaknya ladang minyak tersebut.

Sebelumnya, Ferdi Tanoni mengatakan, masalah pencemaran Laut Timor tidak hanya menjadi masalah bilateral antara Indonesia-Asutralia, namun masalah ini sudah menjadi masalah trilateral, karena Negara Timor Leste juga masuk dalam pembahasan tentang pencemaran Laut Timor.

"Masalah Laut Timor sudah tidak lagi menjadi urusan Indonesia-Australia. Masalah itu sudah menjadi urusan antara Australia dan Timor Leste," katanya.

Departemen Luar Negeri pernah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan persoalan di laut Timor bukan urusan Indonesia, melainkan Australia dan Timor Leste.(ant)
Sumber: www.suaramedia.com

Selasa, 03 November 2009

Nonton TV Pun Ada Aturannya

Ternyata nonton TV tidak boleh sembarangan. Ada aturan-aturan tertentu yang harus diperhatikan jika ingin mata tetap sehat tanpa keluar biaya. (Alit)

****
Nonton TV 21 Inci Sebaiknya Tak Kurang dari 2,5 Meter

KEHADIRAN teknologi sering sulit ditolak. Begitu pula televisi. Televisi layar datar sudah menggantikan televisi layar cembung. ''Karena kehadiran teknologi tidak bisa ditolak, orang tua perlu melindungi anak dengan menyampaikan tata cara menonton televisi yang benar,'' kata dr Hendrian D. Soebagjo SpM.

Dokter spesialis mata RSUD dr Soetomo itu mengatakan, ada rumus untuk mengatur jarak mata dengan layar televisi. Untuk televisi berukuran 21 inci, jarak terdekat menonton adalah 2,5 meter. Sementara untuk televisi 30 inci, jarak pandang terdekatnya adalah 3-4 meter. ''Intinya, makin banyak incinya, jarak pandang terdekatnya tambah jauh,'' jelasnya.

Dengan menonton televisi sesuai jarak pandang tersebut, mata menjadi rileks. Sebaliknya, bila menonton dari jarak lebih dekat, otot mata bekerja keras. ''Lama-kelamaan, mata bisa jadi cembung,'' lanjut Hendrian.

Bila lensa mata ''dipaksa'' cembung terus, penglihatan anak di masa depan bisa terpengaruh. ''Anak berpotensi menggunakan kacamata minus saat beranjak dewasa,'' imbuh dokter alumnus FK Unair tersebut.

Selain menjaga jarak baca dekat, lanjut dia, mata harus sering berkedip saat melihat suatu objek. Dengan begitu, tak terjadi dry eye (mata kering). Dengan sering berkedip, kelenjar yang berada di kelopak mata akan memproduksi air mata untuk melindungi mata agar tak rusak.

''Orang tua perlu terus mengingatkan anak untuk berkedip. Sebab, bila sudah serius main laptop atau game di handphone, anak sering lupa berkedip,'' kata Hendrian.

Kalau memang perlu, pelumas mata bisa dimanfaatkan. Namun, Hendrian menyarankan untuk membeli pelumas mata yang tak menggunakan bahan pengawet. ''Jadi, masa penggunaannya hanya 24 jam. Itu lebih menyehatkan untuk anak,'' tuturnya.

Yang juga perlu diperhatikan orang tua, ingatkan anak untuk tak mematikan atau meredupkan lampu bila menyalakan televisi atau laptop. Jangan seperti menonton film di bioskop.

Hendrian menjelaskan, bila cahaya yang keluar dari laptop lebih terang daripada sekitarnya (cahaya ruang), mata akan silau. ''Cahaya ruang minimal sama dengan yang keluar dari monitor atau TV,'' ingatnya. (ai/soe)

Sumber: Jawapos.com, 2 Nopember 2009