Sabtu, 31 Oktober 2009

Susu Kambing Warisan Islam Sepanjang Masa

Ummat Islam tentu tahu bahwa Rasulullah biasa meminum susu kambing, dan bukan susu sapi atau pun unta. Terutama, susu kambing yang dingin. Ternyata kebiasaan atau sunnah beliau yang satu ini juga menyimpan banyak hikmah.

Dibanding susu sapi, susu kambing punya beberapa keunggulan sebagai makanan tambahan bagi anak balita. Selain lebih mudah dicerna, susu kambing mengandung lebih banyak mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak.

Di kalangan masyarakat luas, terutama di negara berkembang, pengertian susu lebih mengacu pada produk susu sapi. Di Amerika saja tidak kurang dari 10 juta ekor sapi dipelihara dan menghasilkan sekitar 56,7 juta ton susu. Padahal selain sapi, ternak lain yang sangat potensial menghasilkan susu adalah kambing. Saat ini susu kambing mulai populer di Indonesia, walaupun penyediaannya belum sebanyak susu sapi.

Jika pada sapi perah dikenal keturunan Holstein sebagai penghasil susu utama, di “keluarga” kambing yang terkenal sebagai penghasil susu berkualitas tinggi dengan kandungan lemak rendah adalah jenis Saanen. Jenis Nubian menghasilkan sedikit susu, tetapi berkadar lemak tinggi. Jenis Toggenburg, LaMancha, Ober hasli, dan Alpine termasuk penghasil susu kualitas menengah.

Bagaimana rasanya? Susu kambing yang berlemak tinggi tentu jauh lebih nikmat dibandingkan dengan yang berlemak rendah. Namun, konsumsi susu berlemak tinggi berpotensi menyebabkan obesitas.

Susu kambing memang memiliki karakteristik yang berbeda dengan susu sapi ataupun ASI. Susu kambing memiliki daya cerna protein yang tinggi dan rasa asam yang sangat khas.

Aroma Kambing

Ada masyarakat yang beranggapan bahwa susu kambing beraroma seperti kambing. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Adanya aroma yang mengganggu sangat tergantung pada cara pengolahan susu tersebut.

Bau kambing pada susu kambing sebenarnya merupakan dampak dari wadah susu yang tercemar aroma yang dihasilkan oleh kelenjar kambing. Jika pengolahan dilakukan secara benar, susu kambing tidak akan memiliki aroma yang terlalu mengganggu.

Pengaturan konsumsi pakan juga memengaruhi kualitas susu kambing. Hal serupa juga berlaku pada susu sapi. Untuk menambah selera, terutama bagi mereka yang mempunyai indra penciuman yang sangat sensitif, konsumsi susu kambing juga dapat dicampur dengan flavor lain seperti cokelat, vanila, atau stroberi.

Susu kambing yang terbaik untuk dikonsumsi adalah dalam bentuk segar (raw milk) karena kandungan gizinya belum banyak yang hilang akibat proses pengolahan. Sayangnya, tidak semua orang bisa mengonsumsi susu kambing segar. Bentuk olahan susu kambing yang lain adalah susu pasteurisasi, yoghurt, es krim, dodol, ataupun kefir (susu asam).

Susu kambing mempunyai struktur dan ukuran lemak yang lebih kecil dibandingkan dengan susu sapi, sehingga lemak mudah sekali larut dan tercampur secara lebih merata (homogen). Hal itulah yang menyebabkan susu kambing terasa lebih halus dan lembut. Di sisi lain, susu kambing mempunyai kandungan lemak relatif lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi.

Mudah Dicerna

Dalam beberapa hal, susu kambing juga mempunyai keunggulan dibanding susu sapi. Kandungan asam lemak pada susu kambing jauh lebih banyak dibanding susu sapi atau susu kedelai. Namun, dibanding asam lemak pada susu sapi, susu kambing lebih banyak mengandung asam lemak berantai pendek dan sedang.

Hal tersebut menyebabkan lemak susu kambing lebih mudah dicerna tubuh untuk menghasilkan energi, sehingga tidak tertimbun sebagai lemak atau kolesterol. Dengan demikian, kekhawatiran menjadi gemuk atau terserang penyakit yang berkaitan dengan kolesterol, tidak perlu terjadi.

Dari hasil penelitian Mack pada tahun 1953 terbukti, kelompok anak yang diberi susu kambing memiliki berat badan, mineralisasi kerangka, kepadatan tulang, vitamin A plasma darah, kalsium, tiamin, riboflavin, niasin, dan konsentrasi hemoglobin yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok anak yang diberi susu sapi.

Selain itu, susu kambing juga memiliki kapasitas buffer yang lebih baik, sehingga bermanfaat bagi anak yang mengalami gangguan pencernaan. Namun, susu kambing juga memiliki kelemahan, yakni kandungan asam folat dan vitamin B12-nya lebih rendah daripada susu sapi.

Susu kambing juga mengandung lebih sedikit orotic acid. Relatif rendahnya kandungan senyawa tersebut berpengaruh baik terhadap pencegahan sindroma perlemakan hati. Hal itu menyebabkan susu kambing sangat baik untuk menjaga kesehatan hati.

Kalsium Lebih Tinggi

andungan kalsium pada susu kambing jauh lebih baik daripada susu sapi atau kedelai, yaitu dalam 100 gramnya masing-masing mengandung 133, 100, dan 15 mg (lihat Tabel 2). Demikian juga dengan kadar fosfornya. Kadar fosfor dalam 100 gram susu kambing, susu sapi, dan susu kedelai adalah 110, 90, dan 49 mg


Konsumsi segelas susu kambing dapat memenuhi 32,6 persen kebutuhan tubuh akan kalsium dan 27 persen kebutuhan tubuh akan fosfor setiap hari. Sebaliknya, segelas susu sapi hanya memenuhi 29,7 persen kebutuhan tubuh akan kalsium dan 23,2 persen fosfor setiap hari.

Kalsium sangat penting untuk pertumbuhan tulang. Selain itu, kalsium juga penting untuk melindungi sel-sel di kolon (usus besar) agar terhindar dari kanker. Kalsium juga dapat mengurangi angka kejadian tulang keropos (osteoporosis), terutama pada ibu-ibu yang sudah memasuki masa menopause.

Manfaat lain dari kalsium adalah mencegah migrain dan mengatur tekanan darah. Menurut sebuah publikasi pada The American Journal of Clinical Nutrition, seorang gadis yang baru mengalami menstruasi sebaiknya diberi asupan susu kambing untuk menjaga kandungan kalsium di dalam tubuhnya.

Kadar protein susu kambing tidak jauh berbeda dengan susu sapi. Konsumsi satu gelas susu kambing dan susu sapi masing-masing dapat memenuhi 17,4 dan 16,3 persen kebutuhan tubuh akan protein setiap hari. Protein merupakan zat gizi yang sangat dibutuhkan untuk mendukung proses tumbuh kembang pada anak. Pada orang dewasa, protein sangat dibutuhkan untuk pemeliharaan jaringan dan penggantian sel tubuh yang rusak.

Susu kambing juga dipercaya dapat mengatasi penyakit darah tinggi karena kandungan kaliumnya yang tinggi. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kandungan kolesterolnya yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi. Karena itu, susu kambing tidak disarankan bagi mereka yang menderita obesitas dan kolesterol tinggi.

Seperti halnya susu sapi, susu kambing juga mengandung laktosa yang cukup tinggi, meskipun sedikit lebih rendah daripada susu sapi. Kadar laktosa pada susu kambing dan susu sapi masing-masing mencapai 4,1 dan 4,7 persen dari total padatan. Karena itu, penderita lactose intolerance sebaiknya menghindari konsumsi susu kambing dalam keadaan segar. Susu kambing dapat juga dikonsumsi dalam bentuk olahan seperti yoghurt maupun kefir yang memiliki kadar laktosa rendah.

Pengganti Susu Sapi

Pada bayi, sering ditemukan kasus alergi terhadap susu sapi. Susu sapi merupakan salah satu bahan pangan penyebab alergi yang paling sering terjadi pada anak-anak. Penyebab alergi lain yang potensial adalah telur, udang, dan ikan.

Hippocrates pertama kali melaporkan adanya reaksi alergi terhadap susu sapi sekitar tahun 370 Masehi. Dalam beberapa dekade belakangan ini, prevalensi dan perhatian terhadap alergi susu sapi semakin meningkat.

Beberapa penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa prevalensi alergi susu sapi dalam tahun pertama kehidupan anak adalah sekitar 2 persen. Sekitar 1-7 persen bayi menderita alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Perlu diingat bahwa sekitar 80 persen susu formula bayi yang beredar di pasaran ternyata menggunakan bahan dasar susu sapi.

Alergi merupakan masalah yang tidak boleh diremehkan. Reaksi yang ditimbulkan dapat mengganggu semua organ tubuh dan perilaku anak, sehingga bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada tahun pertama kehidupan anak, sistem imun tubuhnya relatif masih sangat lemah dan rentan.

Gejala alergi terhadap protein susu biasanya timbul pada bayi yang berumur dua sampai empat minggu, dan gejalanya akan semakin jelas saat usia enam bulan. Bagian tubuh yang terserang alergi adalah saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan kulit. Gejala yang tampak akibat alergi terhadap protein susu antara lain muntah, diare, penyerapan zat gizi yang kurang sempurna, asma, bronkitis, migrain dan hipersensitif.

Menurut Judarwanto (2000), alergi susu sapi 80 persen akan menghilang atau menjadi toleran sebelum anak berusia 3 tahun. Upaya penanganan terhadap alergi susu sapi adalah mengkundari konsumsi susu sapi dan makanan lain yang mengandung susu sapi. Sebagai penggantinya, dapat digunakan susu kedelai atau susu kambing.

Sekitar 20-50 persen dari bayi yang diteliti memperlihatkan gejala tidak toleran terhadap susu kedelai. Karena itu, susu kambing lebih direkomendasikan sebagai pengganti susu sapi pada bayi yang menderita alergi.

Susu kambing dilaporkan telah banyak digunakan sebagai pengganti ataupun bahan pembuatan makanan bagi bayi yang alergi terhadap susu sapi. Alergi pada saluran pencernaan bayi dilaporkan berangsur-angsur dapat disembuhkan setelah diberikan susu kambing.

Menurut Noor (2002), sekitar 40 persen pasien yang alergi terhadap protein susu sapi memiliki toleransi yang baik terhadap susu kambing. Pasien tersebut kemungkinan besar sensitif terhadap laktoglobulin yang terkandung dalam susu sapi. Diduga bahwa laktogloglobulin (salah satu komponen protein susu) merupakan komponen yang paling bertanggung jawab terhadap kejadian alergi protein susu.

Menurut Judarwanto (2000), terdapat lebih dari 40 jenis protein pada susu sapi yang dapat menyebabkan atergi. Selain betalaktoglobulin, komponen protein lain seperti kasein, alfa-laktalbumin, serum albumin, dan immunoglobulin, juga dapat menyebabkan alergi.

Pemanasan hingga 100 derajat Celsius tidak berpengaruh banyak terhadap kandungan protein tersebut (lihat Tabel 1).


Hanya Sebagai Menu Pelengkap

Meskipun susu, baik susu sapi maupun susu kambing mempunyai kandungan gizi yang cukup baik, susu tidak dapat menggantikan peran dari makanan sehari-hari. Selain karbohidrat yang rendah, susu juga mengandung sedikit zat besi sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh sehari-hari.

Selama ini, dengan alasan waktu yang sangat sedikit, banyak orang menggantikan sarapan dengan segelas susu saja. Padahal lebih bergizi bila kita sarapan dengan sepiring nasi dan sebutir telur.

Kalaupun hendak sarapan dengan susu, tetap harus ditambahkan sumber karbohidrat yang juga berprotein tinggi, seperti cereal. Pola sarapan yang diterapkan oleh masyarakat Barat, yaitu susu plus sereal atau roti tawar yang disisipi keju, cukup baik untuk mencukupi kebutuhan gizi di pagi hari.

Konsumsi susu sampai bayi berusia sekitar enam bulan adalah sekitar 900-1.200 mililiter per hari. Setelah berusia diatas enam bulan, kebutuhan susu semakin berku rang karena anak sudah mengenal makanan lain, sehingga cukup diberikan 300-400 ml
per hari.

Setelah usia anak lebih dari dua tahun, cukup sekitar 200 ml susu per hari. Pada usia di atas dua tahun, anak-anak harus diprioritaskan makan tiga kali sehari. Sungguh tidak benar kalau sebagai orangtua memaksa anak untuk minum susu 4-5 gelas dan membiarkannya makan hanya satu atau dua kali sehari.

Karena itu, perhatikan konsumsi susu anak kita. Jangan memaksa anak mengonsumsi terlalu banyak karena mereka akan merasa kenyang mengingat kandungan airnya mencapai 90 persen.

Sabun untuk Kesehatan kulit

Sebelum dikonsumsi, sebaiknya perhatikan mutunya. Susu kambing yang masih baik dapat dicium dari aromanya yang khas.


Susu kambing yang belum dikonsumsi dapat disimpan dalam lemari pendingin. Penyimpanan susu kambing pada suhu ruang dapat menyebabkan susu lebih cepat asam dan rusak.

Susu kambing juga dapat diolah menjadi berbagai produk, mulai dari minuman, makanan, hingga kosmetika. Campuran susu kambing, minyak zaitun, kelapa, kedelai, bubuk cokelat, dan sodium hidroksida merupakan bahan sabun yang lembut sekaligus dapat menjaga kelembaban kulit.

Susu kambing juga menjadi bahan pembuatan cairan pelembab (lotion), lipstik, dan garam untuk mandi. Dibandingkan dengan sabun biasa yang menyebabkan kulit menjadi kering, susu kambing yang diproses menjadi sabun memiliki kadar gliserin alami yang sangat baik bagi kesehatan kulit.

Sumber: Suaramuslim.net (Senior/hotarticle)

Selasa, 27 Oktober 2009

Asyiknya Kumpul-Kumpul Sama keluarga

Lebaran kemarin, Alhamdulillah semua anggota keluarga bisa kumpul . Senang banget rasanya. Momen itu kita manfaatin buat jalan-jalan bareng dan inilah hasilnya:

Lebaran hari pertama, ziarah dulu ke makam dan berdoa deh

Baru setelah itu pulang n' rencanya mo makan-makan
asyiiik...terus puter-puter keliling lebaran sama para sodara&tetangga

Walah, difotho kok ga ada yang jelas begini ekspresinya?


Selanjutnya di hari kedua dan ketiga
mari kita jalan-jalan
...Gooong!!!



Yah pokoknya begitulah liburan lebaranku tahun ini....@Alit

Awas Bahaya Riya’

Awas Bahaya Riya’

Riya’ merupakan perbuatan yang dicela oleh Allah SWT. Orang yang riya’ adalah orang yang memperlihatkan kepada orang lain agar mendapatkan pujian dari mereka. Allah SWT. Berfirman:

Awas Bahaya Riya’

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Maa’uun: 4-6)

Awas Bahaya Riya’

Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

Barangsiapa yang melakukan satu amal dengan menyekutukan-Ku, maka amal itu akan diberikan kepada sesuatu yang disekutukannya dengan-Ku dan Aku tidak akan memberinya apa-apa.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW pun telah mengingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap tiga macam riya, yakni:

Riya perkataan.

Riya’ perkataan adalah ujaran yang disampaikan oleh seseorang, baik yang berisi kalimat-kalimat dzikir maupun nasehat-nasehat, yang ditujukan untuk mendapatkan pujian dari orang banyak atau agar dianggap sebagai orang yang bertakwa serta berilmu.

Riya perbuatan

Riya perbuatan adalah menunjukkan kekhusyukannya dalam sholat, atau memberikan sedekah agar dinilai sebagai orang dermawan.

Riya al-khafiy

Riya’ al-khafiy adalah riya’ yang tidak tampak atau tersembunyi. Riya’ yang satu inilah yang paling harus diwaspadai oleh setiap umat muslim karena riya’ jenis ini dapat merusak perbuatan baik umat manusia secara perlahan-lahan tanpa disadari. Mendeteksi riya’ al khafiy lebih sulit daripada mencari semut yang merayap di malam hari.

Untuk itu Rasulullah SAW. menganjurkan agar kita selalu berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepadamu untuk tidak menyekutukan Engkau dengan sesuatu yang aku ketahui dan aku memohon ampun terhadap segala sesuatu yang tidak aku ketahui.

Berikut ini beberapa contoh riya’ tersembunyi (al-khafiy):

  • Melakukan ketaatan jika dilihat oleh orang lain.
  • Merasa bahagia ketika orang melihat ketaatannya.
  • Senang mendengar pujian orang atas ketaatannya. Namun, jika pujjian itu berkurang atau tidak ada, hatinya merasa berat untuk melakukan ketaatan.
  • Merasa takut akan hinaan orang, seperti takut dianggap sebagai pengecut di tengah para pemberani. Ia berusaha untuk tetap bertahan di medan perang (bisa juga berlaku di tempat kerja dan tempat belajar mengajar, alit.) hanya agar tidak dicela orang lain.

Orang-orang yang tidak melakukan amal saleh atau ketatan karena takut akan tergelincir dalam riya’ sesungguhnya telah masuk dalam perangkap setan. Siapa pun paham bahwa setan akan terus berusaha memalingkan manusia dari pintu ketatan, baik dengan urusan dunia maupun dengan bisikan, “kita adalah orang yang bertakwa dan wara’, karenanya, jangan berlaku taat kepada Allah dihadapan manusia.”

Ketika berada dihadapan orang banyak, lakukanlah segala sesuatu, semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Ketika tidak ada orang, tingkatkan kualitas ibadah itu. Dengan demikian, kita akan membuat setan murka dan bisikan-bisikannya tidak mempunyai pengaruh.

Siapa saja yang sengaja menunjukkan ketaatannya agar dicontoh orang lain, sesungguhnya, dia tidak dianggap sebagai orang yang berbuat riya’. Bahkan, dia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, yakni pahala orang yang berjuang memerangi rasa riya dan pahala orang yang mengajak manusia melakukan ketaatan. (Lakukan saja seperti kita memberikan kado istimewa tanpa nama pada seseorang. Semuanya dilakukan semata-mata karena terdorong rasa ikhlas, alit)

Akan tetapi, dakwah deas Bahaya Riya’Awas Bahaya Riya’ngan cara tersebut hanya dianjurkan bagi orang yang benar-benar kuat imannya, orang yang sempurna keikhlasannya, dan orang yang tidak membutuhkan pujian manusia. Baginya, pujian atau celaan tidak mempunyai arti, dan tidak akan mempengaruhi ketaatannya kepada Allah SWT.

Orang seperti ini tidak memiliki ketergantungan dengan orang lain ketika akan melakukan suatu amal atau aktivitas ibadah. Ia tidak mempedulikan, apakah manusia akan melihat perbuatannya atau tidak. Ia hanya peduli terhadap penilaian Allah SWT, Tuhannya.

Barangsiapa yang merahasiakan perbuatan dosanya, juga tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang riya’. Sebab, Allah SWT pun tidak senang membuka aib manusia. Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang mempunyai aib, hendaknya ia memohon kepada Allah agar aibnya ditutupi.” (HR. Malik)

Barangsiapa yang berniat taat kepada Allah, kemudian ia bergabung dengan sekelompok orang saleh untuk memantapkan niatnya, sehingga ketaatannya bertambah bersama mereka, hal tersebut pun tidak dianggap sebagai bagian dari riya. Bahkan, Allah SWT berfirman,

Awas Bahaya Riya’

...Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa...”(Al-Maa’idah: 2)

Tingkatan Riya’

  1. Tingkat Pertama

Tingkat riya yang pertama adalah menjadikan pujian orang sebagai tujuan utama dari seluruh amal dan ibadah yang dilakukannya, seperti orang yang hanya akan melaksanakan sholat ketika ia berada di tengah orang-orang yang mendirikan sholat. Namun jika ia berada di tengah-tengah mereka, ia pun tidak akan melaksanakan sholat. Ini merupakan tingkatan riya yang paling buruk. Orang yang melaksanakannya dinilai sebagai orang yang berdosa dihadapan Allah.

  1. Tingkat Kedua

Tingkatan kedua terjadi pada orang yang memiliki niat riya’ ketika melakukan suatu amal atau ibadah, namun terselip dalam hatinya sedikit keinginan untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT. Karena niat mencari pahala itu begitu lemah, ketika ia sedang sendiri, amal atau ibadah itu pun urung dilakukan. Riya’ dalam tingkatan ini sama buruknya dan sama ganjarannya dengan riya tingkatan pertama.

  1. Tingkat Ketiga

Pada tingkatan yang ketiga, niat riya dan niat seseorang untuk mendapatkan pahala dari amal atau ibadah yang dilakukannya, sama. Pahala orang yang memiliki niat seperti itu akan terkikis habis karena niat riya’-nya. Dengan demikian, ia tidak akan mendapatkan apa-apa, baik kebaikan maupun keburukan.

  1. Tingkat Keempat

Tingkatan riya yang keempat dialami oleh orang yang ketaatannya dalam beribadah berkurang ketika dilihat oleh orang lain. Akan tetapi, ketika orang-orang tidak melihatnya, ia tetap melaksanakn ketaatannya itu. Orang seperti ini akan mendapatkan pahala seperti yang diniatkannya. Hanya saja, pahala tersebut tetap akan dikurangi untuk menutupi riya’ yang pernah terbersit di dalam hatinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman bahwa orang yang paling sempurna adalah orang yang terbatas dari menyekutukan Allah.” (HR. Ibnu Majah)

Hukum Riya

  • Melakukan segala sesuatu bukan karena Allah, dari awal sampai akhir. Orang seperti ini dianggap tidak pernah berbuat kebaikan apa-apa. Bahkan, ia dianggap berdosa dan hanya akan mendapatkan berbagai kesulitan maupun petaka.
  • Perbuatan yang diniatkan untuk Allah, namun berubah menjadi riya. Seandainya orang itu berusaha untuk menghilangkan niat riya’-nya dan berhasil, ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala untuk usaha menghilangkan niat riya’-nya dan pahala untuk amal yang dilakukannya. Seandainya ia meneruskan keinginannya untuk riya’, sebagian ulama berpendapat bahwa orang ini tetap mendapatkan pahala. Akan tetapi, pahala tersebut akan gugur karena riya’, dengan anggapan, ia melakukan perbuatan dosa.
  • Memulai dan mengakhiri suatu amal karena Allah, tetapi berharap diketahui orang lain. Seandainya ia merasa bangga dan membicarakan amalnya dengan orang lain agar mendapatkan simpati mereka, maka amalnya tidak gugur. Namun, pahala amal itu akan berkurang setiap kali ia membicarakannya, sehingga habislah pahala yang ada. Bahkan, ia akan mendapatkan dosa baru. Karena itu, sebaiknya kita memperbanyak istigfar setiap kali selesai menunaikan suatu amal. Semoga kalimat istigfar yang kita ucapkan dapat menngantikan pahala yang telah berkurang atau hilang ucapan dan perbuatan riya yang kita lakukan.

Seandainya seseorang merasa senang ketika orang lain mengetahui amalnya, jika tidak disengaja atai tidak diniatkan untuk menyombongkan diri, amal itu tidak akan gugur dan pahalanya tidak berkurang sedikitpun. Kebahagiaan-yang dirasakan sebagai kabar gembira dari Allah karena usaha yang dilakukan berhasil-dan penyampainnya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya bukanlah riya, karena tidak diniatkan untuk mendapatkan simpati masyarakat.

Suatu ketika, seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah engkau pernah melihat orang yang mengerjakan perbuatan baik, dan dipuji oleh orang-orang?” Pada waktu itu Rasulullah SAW bersabda, “Ya, itulah kabar gembira yang datang dari Allah dengan cepat.” (HR. Muslim)

Cara-Cara Mengobati Penyakit Riya

  1. Dengan Ilmu

Seseorang yang berbuat riya seharusnya mengetahui bahaya yang ditimbulkan oleh penyakit ini dan siksaan yang menunggunya di akhirat nanti. Sebenarnya, riya lahir dari kegamangan seseorang dalam menanggapi respons masyarakat. Kegamangan itu mendorong seseorang untuk emlakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang-orang yang hidup di sekitarnya. Padahal, keridhaan manusia sangat sulit untuk didapatkan.

Kita dapat melihat bagaimana satu persoalan dapat diterima oleh satu golongan, tetapi tidak oleh golongan yang lain, terlebih lagi opini masyarakat tentang sesuatu, tidak pernah tetap. Hari ini didukung, besok dicela. Ironisnya, inilah kenyataan hidup yang harus kita hadapi sampai sekarang.

Seandainya seseorang telah memahami realitas yang dihadapi, namun masih bersikeras untuk riya, jelaslah bahwa orang tersebut memang senang berbuat riya.

  1. Dengan Amal

Setiap muslim hendaknya melakukan beberapa langkah konkret untuk mengatasi penyakit riya, seperti di bawah ini:

  • Bersungguh-sungguh melatih diri untuk melawan dorongan berbuat riya
  • Memohon perlindungan kepada Allah SWT dari sifat riya
  • Senantiasa mengingatkan diri sendiri akan akibat buruk sifat riya
  • Berusaha menyembunyikan amal dari perhatian orang banyak.

Pada mulanya, hal tersebut memang terasa sangat sulit untuk dilakukan. Akan tetapi, dengan sedikit kesabaran-meskipun berat- Allah akan memberikan pertolongan untuk mengalahkan sifat tersebut, setiap kali datang menggoda. Allah berfirman,

Awas Bahaya Riya’

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Oktober 2009@Alit

***

Pesan Alit sih cuman begini:

Well, pada akhirnya semua pilihan gaya hidup terserah saja kepada diri kita sendiri, mau jadi seperti apa kita di dunia ini itu tergantung diri kita sendiri...caooo...

Jumat, 09 Oktober 2009

Seperempat Penghuni Bumi Adalah Muslim

LONDON - Seorang di antara empat penduduk dunia adalah muslim. Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah muslim terbanyak di seluruh dunia. Laporan itu disampaikan oleh Pew Forum on Religion and Public Life setelah meneliti, menyurvei, dan mengompilasikan data selama tiga tahun dari 232 negara serta teritori di seluruh dunia. Setidaknya, 60 persen dari 1,57 miliar populasi muslim seluruh dunia diperkirakan berada di Asia. Sedangkan 20 persen berada di Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Jika dunia hendak menciptakan pengertian yang lebih baik antara AS dan dunia muslim, kini kita harus terfokus pada wilayah selatan dan Asia Tenggara, bukan Timur Tengah," ungkap Brian Grim, peneliti senior Pew Forum on Religion and Public Life, lembaga survei Amerika, kepada CNN kemarin (8/10).

Penelitian itu menghasilkan daftar sepuluh negara dengan penduduk muslim terbanyak. Peringkat teratas adalah Indonesia. Total umat muslim Indonesia 202.867.000 jiwa. Negeri Zamrud Khatulistiwa tersebut dikenal dengan 88,2 persen penduduknya muslim. Kemudian, ada Pakistan di posisi kedua, India ketiga, Bangladesh keempat. Berturut-turut mulai peringkat kelima hingga kesepuluh, ada Mesir, Nigeria, Iran, Turki, Aljazair, dan Maroko. Sebesar 99 persen penduduk Maroko muslim. Total pemeluk Islam di sana 31.993.000 jiwa.

Lembaga survei tersebut juga mendapatkan data yang tidak pernah disangka sebelumnya. Lebih dari 300 juta umat Islam tinggal di negara yang tidak menjadikan Islam sebagai agama mayoritas. Satu di antara lima muslim di dunia ternyata tinggal di negara minoritas muslim.

Contohnya, jumlah muslim di Jerman ternyata lebih banyak daripada Lebanon. Begitu juga muslim di Rusia, lebih banyak daripada Jordania dan Libya. Selain itu, jumlah muslim di Jerman lebih banyak daripada Lebanon. (cak/ami)

Sumber: Jawa Post, Jum'at, 09 Oktober 2009

****
Yah, jumlah boleh saja besar tapi hal itu masih belum bisa membuat saya puas. Belum sebelum seluruh umat Islam (termasuk saya sendiri) bisa menjalankan syariat agama dengan sebenar-benarnya. Bukan hanya sekedar teori tapi juga aplikasi yang amat sangat nyata. Harapan saya sih kedepannya Islam bisa jauh lebih baik keadaannya dari sekarang. Mari tetap semangaaat berlomba-lomba mencintai Allah bukan karena DUNIA!!! Beramal bukan untuk mengharapkan surga, tapi takut jika bertemu neraka. Cukup katakan saja..AKU INGIN ALLAH...

alit