Senin, 14 September 2009

Lebaran

Ramadhan emang masih beberapa hari lagi sih, tapi sedihnya berpisah dengan Ramadhan sudah kerasa sejak sekarang. Tapi..yah, apa boleh buat roda kehidupan kan memang harus terus berputar. Jadi, yah...mumpung belum lebaran Mohon Maaf Lahir Bathin aja yah...dan Selamat hari Raya Idul Fitri 1430 H.



Lihat Kartu Ucapan Lainnya
(KapanLagi.com)

Tentang Kubah Masjid

Mengenal Sejarah Kubah

Seperti halnya menara dan mihrab, secara historis kubah belum dikenal pada masa Rasulullah SAW. Arsitektur terkemuka, Prof K Cresswell dalam Early Muslim Architecture menyatakan bahwa pada desain awal masjid Madinah sama sekali belum mengenal kubah. Dalam rekonstruksi arsitekturnya, Cresswell menunjukkan betapa sederhananya masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW.

Arsitektur awal masjid Rasul berbentuk segi empat dengan dinding sebagai pembatas sekelilingnya. Di sepanjang bagian dalam dinding tersebut dibuat semacam serambi yang langsung berhubungan dengan lapangan terbuka yang berada di tengahnya. Seiring berkembangnya teknologi arsitektur, maka kubah pun muncul sebagai penutup bangunan masjid.

Kubah memang bukan berasal dan berakar dari arsitektur Islam. Itu karena memang ajaran Islam tidak membawa secara langsung tradisi budaya fisik atau Islam tidak mengajarkan secara konkrit tata bentuk arsitektur. Islam memberi kesempatan kepada umatnya untuk menentukan pilihan-pilihan fisiknya pada akal-budi.
Hampir semua kebudayaan mengenal dan memiliki kubah. Dari masa ke masa bentuk kubah selalu berubah-ubah. Konon, peradaban pertama yang mengenal dan menggunakan kubah adalah bangsa Mesopotamia sejak 6000 tahun yang lalu. Pada abad ke-14 SM, di Mycenaean Greeks sudah ditemukan bangunan makam berbentuk kubah (tholos tombs).

Namun, ada pula yang menyatakan bahwa kubah mulai muncul pada masa Imperium Romawi, sekitar tahun 100 M. Salah satu buktinya adalah bangunan pantheon (kuil) di kota Roma yang dibangun Raja Hadria pada 118 M - 128 M. Penggunaan kubah tercatat mulai berkembang pesat di periode awal masa Kristen.

Struktur dan bentang kubah pada waktu itu tak terlalu besar, seperti terdapat pada bangunan Santa Costanza di Roma. Pada era kekuasaan Bizantium, Kaisar Justinian juga telah membangun kubah kuno yang megah. Pada tahun 500 M, dia menggunakan kubah pada bangunan Hagia Spohia di Konstantinopel.

Lalu sejak kapan Islam mulai menggunakan kubah pada arsitektur masjid? Secara historis dan arkeologis, kubah pertama dalam arsitektur Islam ditemukan di Kubah Batu (Dome of Rock) atau yang biasa dikenal sebagai Masjid Umar di Yerusalem. Kubah Batu dibangun sekitar tahun 685 M sampai 691 M.

Interior Kubah Batu dihiasi dengan arabesk - hiasan berbentuk geometris, tanaman rambatan dan ornamen kaligrafi. Unsur hiasan sempat menjadi ciri khas arsitektur Islam sejak abad ke-7 M. Hingga kini, kaligrafi masih menjadi ornamen yang menghiasi interior bangunan sebuah masjid.

Sejak saat itulah, para arsitek Islam terus mengembangkan beragam gaya kubah pada masjid yang dibangunnya. Pada abad ke-12 M, di Kairo kubah menjadi semacam lambang arsitektur nasional Mesir dalam struktur masyarakat Islam. Dari masa ke masa bentuk kubah pada masjid juga terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Ketika Islam menyebar dan berinteraksi dengan budaya dan peradaban lain, para arsitek Islam tampaknya tidak segan-segan untuk mengambil pilihan-pilihan bentuk yang sudah ada, termasuk teknik dan cara membangun yang memang sudah dimiliki oleh masyarakat setempat tersebut.

Tak heran, jika bentuk kubah masjid pun terbilang beragam, sesuai dengan budaya dan tempat masyarakat Muslim tinggal. Hampir di setiap negara berpenduduk Muslim memiliki masjid berkubah. Di antara masjid berkubah yang terkenal antara lain; Masjid Biru di Istanbul Turki, Taj Mahal di Agra India, Kubah Batu di Yerusalem, dan lainnya. ( http://cvmicro2000.com/kubah-simbol-kebesaran-islam/)

Komentar Alit:

Sejarah tentang kubah memang belum terlalu jelas detailnya, namun menurut saya nih kubah masjid merupakan bentuk akulturasi dari kebudayaan Islam dan kebudayaan kaum Majusi (Penyembah Api). Hal ini bisa dilihat secara jelas dari bentuk kubah yang tampak seperti nyala api. Tapi Islam adalah agama yang lentur atau fleksibel. Islam boleh menggunakan bentuk bangunan yang sama asal tidak mengimani filosofinya, yakni menyembah api. Hal yang mana juga sama berlakunya dengan budaya tahlilan yang berkembang di sebagian masyarakat Indonesia, budaya nenek moyang boleh sama asal tidak mengimani filosofinya.

Senin, 07 September 2009

Kemoterapi, Khazanah Warisan Islam

Baru tahu soal ini nih aku..keren..keren...Islam emang kereeeen...selamat membaca (alit) :

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Demikian sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim. Muhammad ibnu Ismail al-Bukhari (810 M-870 M) juga menegaskan hal tersebut dalam karyanya Sahih Bukhari, “Tidak ada penyakit yang dibuat oleh Allah tanpa ada pengobatannya.

Allah menciptakan penyakit, Allah pula yang menyembuhkannya melalui seorang perantara, yaitu dokter. Dokter dipercaya menjadi seorang khalifah oleh Allah, untuk membantu menyembuhkan penyakit yang diderita pasien. Nidai, seorang dokter di abad ke- 16 M pernah mencoba memberikan nasihat kepada rekan-rekannya sesama dokter. Ia meminta kepada mereka untuk tidak berbangga diri karena berhasil menyembuhkan pasien.

Menurutnya, seorang dokter harus percaya bahwa kesembuhan datangnya dari Allah. "Jangan katakan saya telah menyembuhkan pasien, sebab asumsi itu adalah dusta".

"Penyakit dan pengobatan berasal dari Sang Pencipta. Dia lakukan apa yang jadi kehendak-Nya. Allah-lah yang berkendak," tutur Nidai.

Para dokter Muslim di era kejayaan peradaban Islam mempercayai hal tersebut. Keimanan yang demikian itu mendorong mereka untuk terus berinovasi dalam dunia kedokteran. Sehingga, mereka berhasil mengidentifikasi ragam penyakit beserta obat dan metode pengobatannya tanpa bertentangan dengan keyakinan agama. Salah satunya adalah Kemoterapi.

Kemoterapi adalah metode pe rawat an penyakit dengan menggunakan zat kimia untuk membunuh sel penyakit kanker. Perawatan ini berfungsi untuk menghambat kerja sel. Dalam penggunaan modernnya, istilah ini merujuk kepada obat antineoplastik yang digunakan untuk melawan kanker.

Di dunia modern, untuk kemoterapi bisa digunakan satu jenis sitostika. Pada sejarah awal penggunaan kemoterapi digunakan satu jenis sitostika, namun dalam perkembangannya kini umumnya dipergunakan kombinasi sitostika atau disebut regimen kemoterapi, dalam usaha untuk mendapatkan hasiat lebih besar. Dalam penggunaan non-oncologi, istilah ini juga merujuk pada antibiotik (kemoterapi antibacterial). Dalam pengertian ini, kemoterapi modern pertama adalah arsphenamine karya Paul Ehrlich, sebuah Arsenic kompleks ditemukan pada tahun 1909 dan digunakan untuk merawat sipilis.

Ini kemudian diikuti oleh sulfonamides ditemukan oleh Domagk, dan penisilin ditemukan oleh Alexander Fleming. Tindakan kemoterapi paling sering digunakan untuk membunuh sel-sel kanker dengan memisahkan sel-sel itu dengan cepat. Hal ini berarti juga memisahkan dengan cepat sel-sel jahat dalam keadaan normal, seperti sel di sumsum tulang, sistem pencernaan dan kantong rambut (hair follicles).

Kegunaan lain dari kemoterapi cytostatic (sitostatik) adalah perawatan penyakit autoimmune seperti multiple sclerosis (sklerosa yang banyak), dan rheumatoid arthritis (radang sendi rheumatoid) dan penindasan penolakan pencangkokan (the suppression of transplant rejections). Namun, kemoterapi ini menimbulkan efek samping seperti rasa lelah fisik, mual dan muntah-muntah, diare atau sembelit, anemia, malnutrisi, kerontokkan rambut, bahkan kehilangan memori.

Melawan Kanker
Pada prinsipnya, kanker adalah pertumbuhan sel yang tak terkendalikan dan bersifat ganas. Kanker disebabkan oleh interaksi antara genetik dan lingkungan kerentanan toxin. Oleh karena itu, kemoterapi bekerja untuk memisahan sel dengan cepat. Terdapat beberapa strategi dalam sistem perawatan kemoterapi yang digunakan sekarang. Kemoterapi dapat diberikan dengan maksud kuratif atau bertujuan untuk memperpanjang hidup atau untuk meredakan gejala.

Sebagian besar kanker sekarang dirawat dengan cara ini. Kombinasi kemoterapi yang sama praktis itu melibatkan pengobatan pasien dengan jumlah obat yang berbeda secara bersamaan. Obat-obatan berbeda dalam mekanisme dan efek sam ping nya.

Dalam kemoterapi neoadjuvant (perawatan preoperative), kemoterapi dirancang untuk menyembunyikan tumor utama, sehingga terapi lokal (operasi atau radioterapi) merusak atau kurang lebih efektif. Kemoterapi adjuvant merupakan perawatan pasca operasi, dapat digunakan apabila ada sedikit bukti tentang kanker, tapi ada risiko kambuh.

Hal ini dapat membantu mengurangi peluang pengembangan resistensi jika tumor tidak berkembang. Ini juga berguna untuk membunuh setiap sel-sel kanker yang telah menyebar ke ba gian tubuh yang lain. Kemoterapi di berikan untuk menurunkan beban tu mor dan meningkatkan harapan hidup.

Semua cara kemoterapi mengharuskan pasien mampu menjalani perawatan. Performa status sering digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah pasien dapat menerima kemoterapi, atau apakah dosis pengurangan diperlukan. "Karena hanya sebagian kecil dari sel tumor yang mati dengan masing-masing pengobatan (membunuh pecahan), dosis harus diulang untuk administratif untuk melanjutkan guna mengurangi ukuran tumor," jelas Skeel, R. T. dalam Handbook of Cancer Chemotherapy.

Bahan kimia
Penggunaan bahan kimia sebagai obat kemoterapi dapat diusut dari peradaban India kuno. Sistem pengobatan tersebut disebut Ayurveda. Di dalam peradaban Islam ada seorang dokter dari Persia, yaitu Muhammad ibnu Zakaria al-Razi (Rhazes), pada abad 10 M yang menemukan metode kemoterapi.

Ia memperkenalkan penggunaan bahan kimia seperti asam belerang, tembaga, merkuri dan garam arsenic, sal ammoniac, scoria emas, kapur, tanah, karang, mutiara, dan alkohol untuk keperluan medis. Hal tersebut disebutkan dalam artikel bertajuk "Science, Technology and Medicine in the Roman Empire" yang mengambil referensi dari Bloch, R. dalam karyanya Etruscan science.

Bahan kimia ini digunakan kembali untuk kemoterapi kanker sekitar abad 20 M. Walaupun begitu, awalnya tidak dimaksudkan untuk tujuan itu. Gas mustard digunakan sebagai bahan kimia selama Perang Dunia I dan dipelajari lebih lanjut selama Perang Dunia II.


Al-Razi, Pencetus Kemoterapi


Al-Razi

Salah satu tokoh Muslim yang berjasa di bidang kedokteran modern adalah al-Razi. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi. Umat Islam mengenalnya dengan nama al-Razi.

Sedangkan masyarakat Barat menyebutnya Rhazes. Ia dilahirkan di Rayy, Teheran sekitar tahun 251 H./865 M. Pada tahun 313 H/925 M, ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, dan meninggalkan segudang karya agung yang bermanfaat bagi umat manusia seluruhnya. Dalam tulisan berjudul "The Valuable Contribution of al-Razi (Rhazes) to the History of Pharmacy," disebutkan bahwa kemoterapi pertama kali diperkenalkan seorang dokter Muslim legendaris bernama al-Razi alias Rhazes (865 M-925 M) pada abad ke-10 M.

Sesungguhnya dalam diri al-Razi terdapat banyak potensi. Tidak saja ilmu kedokteran yang dikuasainya, namun juga disiplin lain. Pada awalnya al-Razi sangat tertarik dengan seni musik. Seiring dengan perkembangan intelektualitasnya, ia kemudian menekuni beberapa disiplin ilmu pengetahuan lainnya seperti kimia, filsafat, logika, matematika dan fisika. Maka, tak heran jika sebagian besar masa hidupnya dihabiskan untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu-ilmu yang dicintainya tersebut.

Beberapa ilmuwan Barat pun mengakui bahwa Al-Razi merupakan penggagas ilmu kimia modern. Hal ini dibuktikan dengan hasil karya tulis maupun hasil penemuan eksperimennya. Al-Razi berhasil memberikan informasi lengkap dari beberapa reaksi kimia serta deskripsi dan desain lebih dari dua puluh instrument untuk analisis kimia. Al-Razi dapat memberikan deskripsi ilmu kimia secara sederhana dan rasional. Dia juga disebut sebagai orang pertama yang mampu menghasilkan asam sulfat serta beberapa asam lainnya serta penggunaan alkohol untuk fermentasi zat yang manis.

Tetapi memang nama al-Razi lebih banyak disangkutpautkan dengan dunia kedokteran. Ia dikenal sebagai ahli pengobatan, walaupun awalnya seorang ahli kimia. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa al-Razi meninggalkan dunia kimia karena penglihatannya mulai kabur akibat ekperimen-eksperimen kimia yang meletihkannya. Dan dengan bekal ilmu kimianya yang luas itu, dia kemudian menekuni dunia medis-kedokteran. Di dunia itu, sang ilmuan juga banyak menelurkan karya dan teori-teori ilmiah. Misalnya, al-Razi mengatakan bahwa seorang pasien yang telah sembuh dari penyakitnya lebih disebabkan oleh respons reaksi kimia yang terdapat di dalam tubuh pasien tersebut.

Maka, tak heran jika kemoterapi pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter Muslim legendaris ini pada abad ke-10 M. Sebagaimana disebut dalam artikel berjudul "The Valuable Contribution of al-Razi (Rhazes) to the History of Pharmacy" di atas. Kepakaran al-Razi dalam bidang kedokteran dibuktikan dengan penemuan-penemuannya yang menjadi dasar pengembangan disiplin ini. Dialah orang pertama yang memperkenalkan penggunaan zat-zat kimia dan obat-obatan dalam pengobatan. Zat-zat kimia ini meliputi belerang, tembaga, merkuri dan garam arsenik, sal ammoniac, gold scoria, zat kapur, tanah liat, karang, mutiara, ter, aspal dan alkohol. she/RioL

Sumber: swaramuslim.net, 21 Juni 2009

Selasa, 01 September 2009

Buah Untuk Sahur Dan Berbuka

Isi postingin ini masih perlu pengkajian lebih dalam lagi sih kayaknya, tapi....bolehlah jadi bahan masukan

Alit

*****

Buah merupakan makanan yang berpengaruh penting untuk menjaga kesehatan dan dayatahan Tubuh. (SuaraMedia News)

Buah merupakan makanan yang berpengaruh penting untuk menjaga kesehatan dan dayatahan Tubuh. (SuaraMedia News)

Aneka buah dapat disantap utuh, diblender ataupun dibuat jus. Untuk keperluan sahur dan berbuka, kenali perbedaan cara menyantap buah yang sehat juga tepat. Seperti apa?

Selama bulan Ramadan, orang yang berpuasa umumnya mengalami perubahan, terutama terkait pola makan yang semula tiga kali sehari menjadi dua kali yaitu saat sahur dan berbuka. Demikian halnya jam makan yang tidak memungkinkan orang berpuasa Ramadan untuk makan dan minum sejak pagi hingga sore hari selama kurang lebih 14 jam.

Penurunan frekuensi makan dan minum menyebabkan metabolisme tubuh berkurang. Akibatnya, energi yang digunakan untuk mempertahankan kelangsungan kinerja fungsi organ tubuh pun ikut menurun. Idealnya, perhitungan persentase makan saat sahur dan buka haruslah memenuhi syarat gizi seimbang harian, yaitu 1.500-2.000 kalori untuk perempuan dewasa dan 1.800-2.500 kalori untuk laki-laki dewasa.

Glukosa yang merupakan salah satu karbohidrat terpenting penghasil tenaga juga harus dikonsumsi secara seimbang. Lengkapi juga dengan sumber lain seperti protein dan lemak yang baik. Di samping itu, amatlah penting untuk mengedepankan konsumsi sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan serat selama berpuasa.

"Setiap hari, makanlah 10 macam buah dengan warna beragam. Juga 3 porsi sayuran," saran ahli gizi dari Semanggi Specialist Clinic Jakarta,Dr Samuel Oetoro SpG(K).

Orang yang berpuasa umumnya akan mengalami beberapa perubahan fisiologis, misalnya terjadi penurunan kadar gula darah (glukosa) di dalam tubuh. Itulah sebabnya, saat berbuka dianjurkan makan-makanan yang manis supaya gula yang hilang cepat tergantikan. Makanan atau minuman yang disantap saat awal berbuka pun hendaknya tak sekedar manis, tapi juga sehat.

Saat beduk magrib bertalu, kebiasaan langsung menyantap es cendol, kolak yang sangat legit, ataupun teh manis bergula banyak, menurut Samuel, kurang tepat. Sebabnya, kandungan gula dalam makanan tersebut cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan kadar gula berlebih, bahkan memicu diabetes. Untuk itulah, Samuel menyarankan alternatif paling tepat adalah dengan meminum jus buah yang kandungan airnya tinggi seperti apel, jambu, dan jeruk.

"Saat berbuka, jangan langsung makan buah utuh ataupun buah yang diblender. Yang terbaik, minumlah jusnya," ujarnya dalam talksow "Sehat di Bulan Ramadan" yang digelar Buavita dan Celebrity Fitness di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mungkin Anda bertanya-tanya, tidakkah menyantap buah utuh lebih baik? Menurut Samuel, hal terpenting saat berbuka adalah selekasnya mengembalikan kadar gula ke posisi normal sehingga tubuh bugar kembali dengan cepat.

"Kalau makan buah utuh ataupun buah yang diblender berarti masih banyak seratnya sehingga kadar gula akan lambat naiknya," jelas dia.

Samuel menambahkan, variasi jenis buah yang dikonsumsi perlu dilakukan agar elektrolit vitamin yang diperoleh lebih lengkap lantaran tidak ada satu buah pun yang komposisinya lengkap. "Seusai minum jus, baru makan dengan gizi seimbang dan tidak tinggi lemak," katanya.

Sumber gula lainnya yang juga dianggap baik untuk disantap saat berbuka adalah kurma. Buah bernama latin Phoenix dactilyfera ini mengandung gula, kalium, magnesium, potasium sekaligus karbohidrat yang baik bagi tubuh.

"Tidak masalah kalau saat berbuka langsung makan kurma dulu untuk mengisi glukosa yang turun," sebut Guru Besar Pangan dan Gizi dari IPB, Prof Dr Ir Ali Khomsan.

Berbeda dengan buka puasa, saat sahur orang dianjurkan menyantap jenis makanan yang lambat dicerna dan tinggi serat sehingga menunda lapar lebih lama. Untuk keperluan ini, Anda disarankan menyantap buah yang masih segar dan utuh.

"Makanlah buah dengan seratnya. Kalau malas dimakan utuh, diblender saja. Gula dan serat pada buah ini akan diserap perlahan-lahan, sehingga kadar gula naiknya pelan dan turunnya juga pelan," papar Samuel.

Perlu diingat bahwa mengonsumsi buah merupakan elemen penting selama berpuasa. Untuk sahur, 15-30 menit setelah makan besar disarankan mengonsumsi buah-buahan segar seperti apel, pir, jeruk, dan jambu. Selain sebagai sumber vitamin dan mineral, buah juga kaya serat terutama di bagian kulitnya sehingga dapat membuat perut kenyang dalam waktu lama.

"Makanan yang berserat membuat proses penyerapan glukosa lebih lambat dan tidak merangsang peningkatan insulin," sebut dia.

Lebih lanjut Samuel menyarankan untuk tidak menambahkan gula saat membuat jus buah segar. Kalaupun tetap ingin diberi gula, tambahkan sedikit saja. Hal ini diterapkan terutama bagi orang dewasa usia di atas 30 dan orang lanjut usia (lansia).

"Kalau pada anak dan remaja tidak perlu terlalu ketat karena sebenarnya pada usia tersebut umumnya tubuh masih mampu menetralisasi kelebihan gula dengan baik," kata dia.

Masih terkait buah, bagi Anda para orangtua sebaiknya rajin memperkenalkan beragam buah pada anak sedini mungkin. Dengan begitu, pada masa mendatang si anak akan suka dan terbiasa menyantap buah, minimal satu macam buah sebagai pendamping makan.

Buah seperti tomat dan mangga juga tinggi betakaroten yang bagus untuk menangkal radikal bebas dan menjaga kesehatan mata si kecil. Ali Khomsan mengatakan, buah baik bagi semua umur, termasuk lansia. Konsumsi buah saat berbuka dan sahur juga membantu meningkatkan asupan cairan sehingga mencegah dehidrasi saat puasa.

"Saat puasa biasanya tubuh lebih sedikit mendapat cairan yang mencukupi. Untuk itu, dianjurkan mengonsumsi buah-buahan berair seperti semangka, melon, dan jeruk. Kalau jeruk dirasa terlalu asam, bisa diganti yang lebih manis seperti apel dan pisang. Bagi penderita maag, sebaiknya juga lebih berhati-hati memilih makanan," pungkas Ali.(okz)

Sumber: www.suaramedia.com, Senin, 31 Agustus 2009