Senin, 08 Juni 2009

Apa Kata Orang Bule

[ Jawapos, Minggu, 07 Juni 2009 ]

Berasal dari negara Barat yang memiliki budaya berbeda membuat ketiga orang ini harus melakukan banyak adaptasi saat datang dan tinggal di Surabaya. Apa saja hal yang membuat Alex, Laura, dan Pauline terkaget-kaget dengan kondisi kota ini serta bagaimana mengatasinya? Berikut ini sedikit cerita mereka.

---

Saat pertama datang ke Surabaya, perbedaan budaya apa yang mengejutkan?

Pauline: Kalau saya, tidak ada. Sebab, di Sydney saya mengenal dua keluarga asal Surabaya. Mereka sering bercerita tentang Surabaya. Mereka berpesan agar saya tidak keburu membeli makanan di jalan. Tunggu sampai terbiasa, baru saya bisa mencoba. Selama dua pekan di sini, yang saya alami tidak jauh berbeda dengan yang saya pikirkan sebelumnya. Jadi, belum ada masalah yang berarti.

Laura: Nasi. Ha ha ha. Di AS, nasi bukan makanan yang bisa kami temui setiap hari. Jadi, berada di Surabaya dan harus makan nasi tiga kali dalam sehari membuat saya agak seperti apa ya, berlebihan. Tapi, saya harus beradaptasi. Saya butuh waktu enam bulan sampai akhirnya perut saya tidak bereaksi apa-apa saat makan nasi tiga kali.

Alex: Bule di Surabaya sedikit. Akhirnya, ke mana-mana saya selalu jadi pusat perhatian. Soalnya, sebelum ke Surabaya, saya tinggal di Thailand. Orang asing di sana sangat banyak. Mungkin 20 sampai 30 persen dari total penduduk. Jadi, di sana saya tidak perlu merasa seperti alien. Ha ha ha ha.

Apa yang ditemui di Surabaya dan tidak ada di negara asal kalian?

Laura: Kecap. It's amazing. Saus itu tidak pernah saya temui di AS. Tapi, di Indonesia, saus tersebut ada di mana-mana. Rasanya sangat enak. Saya benar-benar suka. Oh ya, sama motor. Di sana semua orang naik mobil. Jadi, kalau terjebak macet, tidak bisa bergerak. Tapi, di Surabaya ada motor di setiap jalan. Saya juga punya satu. Keren. Murah tapi bisa ke mana-mana. Dengan sepuluh ribu, bisa dari Surabaya ke Sidoarjo. Pakai motor juga bisa nyalip kanan kiri kalau macet. Ha ha ha. Saya agak khawatir, kebiasaan bermotor saya yang agak gila terbawa ke AS. Takutnya, waktu naik mobil, saya berusaha nyalip juga. Kena tilang nanti.

Alex: Saya, apa ya? Mungkin itu, makanan selain tofu (tahu halus). Namanya apa, tempe ya? Makanan itu lucu. Saya makan tempe sih, tapi bukan penggemar. Di Inggris sana, saya tidak pernah bertemu dengan makanan seperti itu.

Pauline: Karena belum lama tinggal di sini, sepertinya saya belum menemukan sesuatu yang membuat terheran-heran. Mungkin kalau saya sudah sebulan atau dua bulan ya?

Selama di Surabaya, tempat apa yang paling sering dikunjungi?

Alex: Apa ya? Soalnya, saya belum lama di sini. Sering sih anak didik saya di EF mengajak jalan atau nongkrong bareng. Tapi, mereka mengajak ke mal. Saya tidak terlalu suka. Paling, saya hanya pergi ke gedung-gedung dengan arsitektur kuno.

Laura: Biasanya, saya pergi ke Batu, Malang, atau kalau libur panjang ke Bali atau Lombok. Di Surabaya, apa ya? Saya pernah ke House of Sampoerna. Terus, saya keliling ke beberapa tempat berdasar panduan dari Lonely Planet. Saya keliling sendiri pakai motor. Tapi, tidak banyak Katanya, sekarang ada bus yang keliling museum ya? Menarik itu. Mungkin saya akan coba.

Pauline: Karena baru sebentar, belum banyak tempat yang saya kunjungi. Tapi, liburan ini saya mau ke Taman Safari. Itu tidak terdapat di Surabaya ya? (any/dos)

Alex Hassan (Alex)

Usia 23 tahun

Berasal dari Cambridge, Inggris

Tinggal di Surabaya satu bulan

Laura Hielscher (Laura)

Usia 26 tahun

Berasal dari St Louis, AS

Tinggal di Surabaya satu tahun

Pauline Gardner

Usia 41 tahun

Berasal dari Sydney, Australia

Tinggal di Surabaya dua pekan
***
Lucu yah...kayaknya kalo aku yang tinggal di luar negeri pasti juga begitu, harus beradaptasi makan roti tiap hari...hehehe...
Jadi inget sama tetanggaku Marry Ann nih...gimana kabarnya dia sekarang yah???@Alit

1 komentar: