Selasa, 05 Mei 2009

Animo Membatik di Kalangan WNA

Menjaga citra Kampoeng Batik Laweyan sebagai sentra industri batik di Solo, Jawa Tengah, warga memasang kain batik di atas jalan, Selasa (18/3). Selain membuat suasana kental sebagai kampung batik, pemasangan kain tersebut juga untuk menyukseskan tahun kunjungan Laweyan atau Visit Laweyan 2008.
.

JAKARTA, KOMPAS.com — Para warga negara asing (WNA) yang tinggal di ibu kota Jakarta dewasa ini semakin meminati dunia batik, baik untuk sekadar belajar membuatnya dan membawa buah tangan dari Tanah Air atau pun dipamerkan. "Turis atau WNA yang tinggal sementara terutama mereka yang dari Jepang banyak mempelajari cara membatik ke tempat ini, baik sekadar belajar atau membuat pameran di negara asal," ujar pengajar membatik Museum Tekstil, Krismini (47), di Jakarta, Selasa (5/5).

Bahkan, menurutnya, ada murid-murid yang datang dari negeri bunga sakura itu dan beberapa negara lain, baik secara individu atau pun berkelompok, secara khusus hanya untuk mempelajari kerajinan tangan yang berasal dari suku Jawa itu. Krismini yang telah menjadi staf pengajar membuat batik selama 10 tahun di Museum Tekstil mengaku telah memiliki murid sekitar 1.000 orang dan separuh di antaranya berasal dari Amerika Serikat, Australia, Perancis, Inggris, Jepang, Korea Selatan, dan Afrika Selatan.

"Awal 2009 hingga kini sedikitnya saya memiliki 20 murid dari luar negeri dan didominasi dari Jepang, pada bulan Juni-Juli mendatang terdapat beberapa kelompok dari Australia yang dijadwalkan belajar membatik ke Museum Tekstil," kata dia.

Menurut dia, produk batik yang dihasilkan murid yang berasal dari luar negeri jauh lebih bagus dibanding batik yang dihasilkan oleh murid yang berasal dari dalam negeri seperti dari perguruan tinggi, masyarakat Jakarta dan sekitarnya.
"Mereka yang dari luar negeri rasa ingin tahunya lebih dalam sehingga batik yang dihasilkan lebih halus, memiliki berbagai motif dan sangat sabar dalam pembuatan. Kalau orang kita enggak sabaran dan terkadang hanya sekadar ingin tahu saja," jelas Krismini.

Suyoun Kim, (32) wanita berkebangsaan Korea Selatan, mengaku telah setahun mempelajari cara pembuatan batik di Museum Tekstil, yang terletak di Jalan Aipda KS Tubun, Jakarta. "Batik merupakan kain tradisional yang cantik dan membuat saya suka, tapi orang Korea tidak banyak yang tahu. Nanti kalau balik ke Korea saya ingin perkenalkan kain cantik ini dan membuatnya di sana," ujar Kim yang mencoba berbahasa Indonesia dengan terbata-bata.

Pengelola Museum Tekstil, Eko Hartoyo, mengatakan, kegiatan wisata edukatif membatik di museum itu telah dibuka sejak tahun 1999, setelah pihaknya melakukan sosialisasi keberadaan museum ini yang diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto pada 28 Juni 1976.

SUMBER: Kompas.com, Selasa, 5 Mei 2009

*****

Wah, bagus nih batik Indonesia bisa dikenal di seluruh dunia. Apalagi animo mereka untuk belajar membatik juga demikian besar. Hanya satu masalahnya, kita sebagai orang Indoensia jangan pernah lengah. Jangan sampai di belakang hari ribut-ribut lagi soal hak paten dan lain sebagainya karena karya anak bangsa di curi bangsa lain.

Gimana? Mungkin udah saatnya nih bagi kita orang Indonesia untuk belajar "membatik" dengan menggunakan "hati" biar hasilnya nanti bisa lebih bagus dari karya orang lain. Aaaah..jadi pingin belajar membatik nih....Siapa mau ngajarin saya nih???Hehehe...

Alit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar