Selasa, 30 Desember 2008

Serangan Israel, Hendaknya Mempersatukan Umat Islam

SuaraMedia, Senin, 29 Desember 2008 22:20

Padang (Suaramedia) - Pencipta lagu religi Islam, H Haddad Alwi, berpendapat, terjadinya serangan Israel terhadap rakyat Palestina, hendaknya dijadikan momen mempersatukan umat Islam dan tidak bisa tinggal diam dengan tindak kekejaman itu.

"Kita berharap kejadian yang menimpah rakyat Palestina, hendaknya memperkuat persatuan umat Islam dunia. Kita mesti membantu apapun yang bisa dilakukan," kata Haddad Alwi di Padang, usai tabligh akbar dalam rangka menyemarkan 1 Muharram 1430 Hijriah di Lapangan Imam Bonjol Padang, Senin petang. Ia menyatakan, seharusnya kita malu sebagai umat Islam, karena selama ini belum mampu berbuat banyak buat mereka (masyarakat Palestina, red).

Menurut penyanyi lagu religi Islam, dengan album terkenalnya "Cinta Rasul" itu, atas kejadian yang menimpa rakyat Palestin, mestinya harus ada juga hari berkabung nasional.

Pada kesempatan tabligh akbar, Haddad juga mengajak ribuan umat muslim Kota Padang yang hadir untuk bertafakur sejenak sembari membaca surat Al-Fatihah untuk rakyat Palestina yang sedikitnya 200-an tewas akibat tindakan Israel.

"Saya mengajak muslim dan khususnya di Kota Padang, mari berdo`a untuk rakyat Palestina agar selalu diberi kekuatan oleh Allah SWT melawan kebiadan itu," katanya dengan suara lantang.

Selanjutnya, kepada keluarga korban Palestina agar diberi kesabaran dan kemenangan oleh Allah, SWT.

"Hendaknya para syuhada yang tewas dalam peperangan melawan kekejaman itu, ditempatkan oleh Allah, di Surganya," kata Haddad Alwi yang diamini ribuan umat muslim yang hadir pada tabligh akbar itu.(ant) (Sumber: Suaramedia.com)

SIAPA YANG PEDULI PALESTINA?

KOMPAS, Selasa, 30 Desember 2008 | 07:38 WIB

Oleh Zuhairi Misrawi

Tiga ratus warga Palestina di Jalur Gaza tewas dan seribu lainnya terluka. Itulah pelanggaran kemanusiaan terbesar di pengujung tahun 2008, yang telah mengentakkan dunia. Tidak tertutup kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah karena Israel masih akan melanjutkan serangannya dalam beberapa hari mendatang, baik melalui serangan udara maupun serangan darat.

Serangan Israel terhadap Gaza kali ini memberikan makna tersendiri bagi kalangan Muslim karena bertepatan dengan Tahun Baru 1430 Hijriah. Menurut Mahmud Mubarak (2008), serangan Israel kali ini meninggalkan luka yang amat dalam karena terjadi pada saat umat Islam merayakan Tahun Baru, dan atas dukungan dari negara-negara Arab lainnya, dan pihak Palestina juga.

Keputusan Israel menyerang Gaza sebagai sikap politik untuk menumpas habis jantung kekuatan Hamas. Saat ini Hamas merupakan musuh bersama karena mereka merupakan faksi politik terbesar yang diduga kuat akan memenangi pemilu yang akan berlangsung bulan depan. Oleh sebab itu, serangan Israel diduga kuat sebagai paket untuk melumpuhkan kekuatan Hamas menjelang pemilu yang akan menentukan arah politik Israel-Palestina pada tahun-tahun mendatang.

Hamas akan kian populer

Tentu, pihak Israel berharap Hamas tidak meraih dukungan yang signifikan dari rakyat Palestina pada pemilu mendatang. Caranya adalah dengan menangkap tokoh-tokoh kunci Hamas dan menciptakan psikologis terancam bagi kekuatan mereka di Gaza. Dengan demikian, pihak Fatah yang merupakan sahabat karib Israel dan Amerika Serikat dengan mudah dapat memenangi pemilu.

Meskipun demikian, Mahmud Mubarak, analis harian Al-Hayat, meragukan bahwa misi Israel kali ini berhasil, khususnya untuk meredam dan membendung kekuatan Hamas yang telah mengakar di Gaza. Alih-alih membabat habis kekuatan mereka, Hamas justru akan semakin populer. Sebagai kelompok yang terzalimi, itu justru akan memberikan dampak positif. Sejak dulu, dukungan kepada Hamas bukan menyusut, tetapi justru bertambah karena Hamas merupakan pihak yang mempunyai sikap tegas kepada Israel.

Di samping itu, dukungan dari masyarakat Arab kepada Hamas makin luas. Pemerintah dunia Arab makin terdesak antara mendukung Israel atau mendukung Hamas yang merupakan korban dari penyerangan brutal itu. Tidak bisa dielakkan bahwa para pemimpin dunia Arab akan tertekan, dan mau tidak mau harus memberikan dukungan kepada Hamas.

Masa depan Palestina

Terlepas dari itu semua, satu hal yang tak terpikirkan, baik oleh Israel, maupun Hamas adalah soal masa depan Palestina. Sikap antagonistik dan oposisional, Israel-Hamas, pada akhirnya akan menyulitkan Palestina. Di satu sisi, Israel menolak eksistensi Hamas, dan sebaliknya, di sisi lain, Hamas menolak keberadaan Israel.

Sikap kaku semacam itu sudah terbukti gagal. Sudah beberapa tahun ini tidak ada solusi yang adil bagi kedua belah pihak. Belum lagi intervensi dari pihak luar semakin memperumit hubungan Israel-Hamas. Sejumlah perundingan hanya berhenti di atas meja karena Hamas sebagai kekuatan penting di Palestina kerap diabaikan dalam upaya pengambilan keputusan.

Terlebih, harus diakui, konflik internal antara Hamas dan Fatah. Gagalnya perundingan yang dimediasi Liga Arab di Mesir baru-baru ini menggambarkan bahwa ketidakmampuan Hamas dan Fatah untuk membicarakan perihal masa depan Palestina. Jika di antara mereka tidak mampu mencari titik temu untuk kepentingan Palestina, bagaimana dengan pihak internasional? Oleh sebab itu, masalah Palestina pertama-tama sangat bergantung pada sejauh mana kedua faksi tersebut mampu mencapai kemufakatan tentang peta baru politik Palestina, terutama dalam kaitannya dengan Israel.

Pada masa lalu, Hamas yang dikenal sebagai faksi keras dan menggunakan jihad (perang) sebagai salah satu ideologi politiknya sebenarnya mempunyai wajah lain yang relatif moderat. Menurut Shaul Mishal dan Avraham Sela dalam The Palestinian Hamas, Hamas sebenarnya mempunyai pengalaman koeksistensi di tengah konflik, yaitu saat Hamas mau berdamai dengan Organisasi Pembebasan Palestina yang dipimpin mendiang Yasser Arafat. Mereka mempunyai doktrin, yaitu larangan berperang di antara sesama warga Palestina (hurmat al-qital al-dakhily).

Pada akhirnya, kepentingan Palestina harus diletakkan di atas segala-galanya. Termasuk bagi Israel yang sedang melancarkan serangan, bahwa apa yang mereka lakukan saat ini pada hakikatnya hanya menyusahkan warga sipil dan menambah penderitaan bagi Palestina. Serangan mereka kali ini hanya membangkitkan benih-benih radikalisme di Timur Tengah dan dunia pada umumnya.

Zuhairi Misrawi Ketua Moderate Muslim Society



****
Yup, saya setuju sekali nih. Momen seperti ini harusnya bisa menjadikan umat Islam makin erat bersatu. Sudah saatnyalah sekarang bangsa-bangsa Islam di seluruh dunia melupakan sejenak urusan "perut" dan "perhitungan untung"-nya sendiri. Islam punya OKI dan Islam punya hak untuk mempertahankan diri. Lalu kenapa kita tidak ingin melakukannya secara bahu membahu??

Lihat korban-korban peperangan di Palestina ini sejenak, jika anak-anak di Palestina kelak tumbuh menjadi orang-orang yang berhati "keras" siapakah yang patut disalahkan? Bisa-bisa seluruh umat Islam di dunia menanggung beban tanggung jawab dosanya karena tak pernah ada kata "solidaritas" untuk berusaha menghentikan peperangan ini dalam bentuk aplikasi nyata. Semuanya hanya serba "koar-koar" atau "manis dibibir". Apa gunanya "demonstrasi" sana-sini dan "kecam sana-sini" kalau tidak diikuti dengan tindakan nyata?? Ini mengerikan!!Mending diam di rumah, ga usah banyak omong saja, ikut mengumpulkan dana bantuan untuk beli obat-obatan, bahan makanan, dan lain sebagainya. Syukur-syukur kalau ada yang mau mengangkutnya ke Palestina kita bisa nitip. Atau lebih bagus lagi kita pakai strategi perang. Anak-anak, wanita dan orangtua warga Palestina untuk sementara diungsikan ke negara-negara Muslim yang aman. Siapa tahu kita juga diijinkan oleh Pemerintah menyediakan tempat penampungan bagi orang-orang Palestina yang barangkali saja ingin minta suaka, kita bisa menempatkannya di kantor Kepala Desa, Kantor Kecamatan, Kantor Kabupaten, Gedung Serba Guna atau apa githu kek, kalau memang kantor imigrasi sudah terlalu penuh dengan para pengungsi. Hitung-hitung sama-sama dapatnya githu lho. Sementara para Pemuda Palestina berjuang mempertahankan wilayahnya dengan darah mereka, Petinggi-petinggi Negara saling berdiskusi di OKI (karena mengharapkan PBB toh percuma saja) semaksimal mungkin, di sini kita bisa bantu berikan amunisi baru bagi para wanita dan calon-calon pejuang-pejuang masa depan....Mending lupakan sajalah dulu perbedaan mazhab atau aliran yang belakangan ini sudah terlalu sering dipolitisi untuk mengeruk keuntungan dirinya sendiri. Mau Syi'ah kek mau Sunni kek, mau Wahabi kek mau Salaf kek, mau NU kek mau Muhammadiyah kek terserah deh ga peduli. Yang penting sebaiknya, semua umat Islam sedunia bersatu saja deh....Yang penting keselamatan warga Palestina harus didahulukan dari apapun. Gunakan saja Hukum Perang dan Konvensi Hak Asasi Manusia (Convention of human Right, Magna Charta dll) untuk menyerang Politik Zionist kalau dunia internasional menolak pakai Hukum Syariah Islam. Titik!!

SEBAGIAN POTRET PEPERANGAN DI PALESTINA





Indonesia mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bersidang secara formal guna mengeluarkan resolusi bagi Israel.Pada konferensi pers di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan ia telah mengirim surat secara resmi kepada Sesjen PBB Ban Ki-moon dan Presiden DK PBB agar kedua lembaga itu mengeluarkan resolusi bagi Israel untuk menghentikan serangannya ke Jalur Gaza.
Tiga orang perwakilan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia segera berangkat ke Palestina untuk memberikan bantuan kepada rakyat Palestina.Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Departemen Kesehatan (Depkes) menyiapkan bantuan obat-obatan senilai Rp2 miliar kepada bangsa Palestina menyusul serangan Israel hingga mengakibatkan jatuhnya ratusan korban sipil maupun para pejuangnya.















@alit

1 komentar:

  1. iya, sangat memprihatinkan sekali ya...
    kita hanya bisa berdoa....

    BalasHapus