Senin, 01 Desember 2008

Beragam Hal Tentang HIV/AIDS

Tahun 2020, HIV Diprediksi Capai 2 Juta Kasus

JIMBARAN - Kasus HIV dan AIDS pada tahun 2020 diprediksi melonjak menjadi 2 juta kasus. Sekitar 80 persen di antaranya menimpa kaum laki-laki.

"Dari kajian epidemologis yang kami lakukan, sampai 2020 proporsi terbesar yang paling banyak menyumbang penyebaran virus dalam epidemi HIV adalah laki-laki," jelas Sekretaris Nasional Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi di sela-sela pertemuan regional penanggulangan HIV di Hotel Goodway Jimbaran Bali, Senin (21/7/2008).

Laki-laki yang hobi "jajan" atau menjadi pelanggan penjaja seks, kata Nafsiah, menjadi penyumbang virus terbesar. Populasi rentan lainnya adalah laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan laki-laki, atau biasa disebut homo seksual. Terakhir, para pengguna narkoba suntik yang saat ini masih didominasi kaum laki-laki.

"Saat ini hanya 17 persen dari pengguna narkoba suntik adalah perempuan. Sebagian besar adalah laki-laki," jelas Nafsiah.

Sementara itu, sekitar 20 persen dari infeksi HIV tersebut diperkirakan akan menimpa kalangan pekerja seks dan ibu rumah tangga. Nafsiah justru mengkhawatirkan penularan lebih banyak kepada kalangan ibu rumah tangga, karena kebanyakan suami secara sembunyi-sembunyi melakukan hubungan seks di luar rumah dan tidak mau menggunakan kondom ketika berhubungan dengan istri

Untuk mengantisipasi penularan yang makin tak terkendali, Nafsiah menilai penmting untuk memulai kampanye penyelamatan terhadap kaum laki-laki. "Kalau laki-laki tidak mengubah perilakunya, maka 80 persen yang terinfeksi HIV adalah kaum laki-laki, baik yang jadi pelanggan penjaja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, atau laki-laki pengguna narkoba suntik," Nafsiah mengingatkan.

Berdasarkan data KPA Nasional, total kasus HIV/AIDS yang dilaporkan saat ini encapai sekitar 20.000 kasus. Sementara berdasarkan kajian epidemologis, total kasus HIV/AIDS saat ini diperkirakan telah mencapai 200.000 kasus.

"Ini adalah PR (pekerjaan rumah) kita untuk bisa membongkar fenomena gunung es ini. Masih banyak sekali kasus yang belum bisa diungkap," tegas Nafsiah.

95 Persen HIV Menular Lewat Jarum Suntik

SERANG, SENIN - Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) terus berupaya menekan angka penularan HIV/AIDS, yang 95 persen di antaranya menular melalui narkotika dengan jarum suntik.

"Angka penderita HIV/AIDS di Provinsi Banten pada 2008 mencapai 1.271 orang, dan 42 orang di antaranya meninggal dunia," kata Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah pada talk show tentang HIV/AIDS dalam memperingati Hari AIDS se-Dunia di Serang, Senin.

Menurut dia, untuk menekan tingginya angka penderita HIV/AIDS di Banten pihaknya melalui Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Daerah terus berupaya melakukan pembinaan terhadap warga binaan.
Selain itu, juga memberikan pelayanan akses langsung ke rumah sakit yang telah ditunjuk untuk merawat pasien penderita HIV/AIDS yakni Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang, RSU Kabupaten Serang dan RS Qadr di Tangerang dengan membentuk tim visiting.

Juga ada tujuh puskesmas di Banten yang dijadikan klinik Methadone yang akan memberikan pelayanan terapi methadone bagi para pecandu narkoba, serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menghindari penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya yang disebabkan akibat hubungan seksual yang tidak aman dan berganti-ganti pasangan.

Program Officer KPA Provinsi Banten Arif Mulyawan mengatakan 59 persen dari sekitar 1.271 kasus penderita HIV/AIDS di Banten penularannya melalui pengguna narkotika yang memakai jarum suntik.

Sedangkan lainnya penularannya di antaranya melalui hubungan seks dan sebagainya. Ia menyebutkan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang merupakan dua daerah yang paling banyak ditemukan penderita HIV/AIDS.

Arief mengatakan sarana untuk menangani korban kecanduan narkotik dan zat adiktif itu akan dioperasikan di enam puskesmas di wilayah Kabupaten Tangerang, dan satu di RSUD Tangerang.

Enam puskesmas yang akan dilengkapi Klinik Metadon yakni Puskesmas Ciputat, Cipondoh, Cibodas Sari, Karawaci Tengah, Ciledug dan Puskesmas Serang Kota.

Sampai sekarang jumlah pecandu narkotika yang memakai jarum suntik di wilayah Banten sekitar 3.000 orang. (KOMPAS, 1 Desember 2008)

Setiap Satu Jam, Satu Pemuda Terjangkit AIDS

Setiap satu jam, seorang pemuda di Indonesia terjangkit HIV. Demikian menurut data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Sementara itu, berdasarkan data Departemen Kesehatan RI, hingga September 2008 tercatat 21.151 orang Indonesia telah terinfeksi HIV, 15.136 orang berada dalam fase AIDS, sebanyak 54,3 persen di antaranya adalah kaum muda usia 15-29 tahun."Persentase kaum muda dengan HIV/AAIDS itu mengingatkan kita untuk segera bertindak guna menyelamatkan generasi penerus kita. Namun, bukan berarti kampanye kondom di kampus itu untuk melegalkan hubungan seks di luar nikah, intinya memberi informasi yang benar kepada generasi muda terhadap perilaku seksual beresiko," ujar Ketua KPAN Aburizal Bakrie seusai membuka Konferensi Kondom di JW Marriot, Jakarta, Senin (1/12).

Menurut Sekretaris KPAN Nafsiah Mboi, penularan virus HIV melalui hubungan seksual beresiko di Indonesia cukup tinggi, yakni sekitar 50,2 persen.

Ia juga menjelaskan tiga langkah pencegahan infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV dan pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan. Ketiga langkah itu dikenal dengan A,B,C, yakni absyinence dengan berpantang melakukan hubungan seks sebelum menikah, be faithful dengan saling setia kepada pasangan, dan condom yang digunakan pada setiap hubungan seksual yang beresiko kehamilan tak direncanakan. "Penggunaan kondom ini yang paling perlu disosialisasikan. Ini tak hanya sekadar angka, tetapi juga fakta di lapangan bisa lebih lagi," ujarnya.

Sementara itu, menurut Country Director DKT Indonesia Todd Calahan, di Indonesia hubungan seksual di luar nikah itu sudah fakta di lapangan. "Melihat fakta tersebut, penggunaan kondom seharusnya digalakkan lagi, mengingat peredaran kondom di Indonesia hanya sekitar 100 juta dalam setahun, angka ini termasuk rendah. Tingkat penggunaan kondom yang relatif rendah ini karena lingkungan sosial yang masih belum sepenuhnya mendukung penggunaan kondom," kata Todd.

Sementara itu, gabungan tujuh perusahaan besar dalam Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) telah melakukan beberapa upaya sosialisasi, seperti memasukkan isu AIDS dalam kurikulum di 10 SMP dan 10 SMU di Surabaya. "Kami juga sosialisasikan bagaimana pendidikan seks yang sehat pada usia remaja. Maka bentuk informasinya juga yang mengena untuk seusia mereka," ujar Shinta Widjaya Kamdani dari IBCA.( KOMPAS, 1Desember 2008)

Awas... HIV di Kalangan Remaja

Sebanyak 74 remaja di Kalimantan Barat positif mengidap virus HIV. Sebanyak 23 yang lainnya bahkan sudah terinfeksi AIDS.

"Ini menunjukkan bahwa harus ada penanganan serius terhadap HIV/AIDS, karena jumlah yang belum terungkap juga masih banyak lagi," kata aktivis LSM Global Fund AIDS, Tubercolosis, dan Malaria Kalbar, Rizal Ardiansyah di Pontianak, Kamis (20/11).

Menurut dia, sejak ditemukan 1993 lalu hingga Oktober 2008, jumlah warga Kalbar yang positif terinfeksi HIV mencapai 1.606 orang dan AIDS 915 orang.

Sebanyak 244 orang diantaranya telah meninggal dunia. "Kehadiran Voluntary Counselling and Testing (VCT) sangat membantu membongkar fenomena gunung es HIV/AIDS di Kalbar," kata Rizal.

Kota Pontianak memiliki jumlah pengidap HIV/AIDS terbanyak, yaitu 732 orang HIV positif dan 548 orang AIDS dengan 99 orang meninggal dunia. Sedangkan Kabupaten Kapuas Hulu memiliki jumlah pengidap terendah, yaitu hanya 13 orang yang terdeteksi HIV positif, dan tujuh orang meninggal dunia akibat virus mematikan itu.

Untuk mengungkap kasus HIV/AIDS di Kalbar, lanjut Rizal, pihaknya membentuk Voluntary Counselling and Testing di sejumlah kabupaten dan kota. Pihaknya juga telah membentuk VCT mobile.

"Untuk menjangkau daerah-daerah terpencil, pedalaman dan perbatasan, kami operasikan VCT mobile. Gerakan ini sudah menunjukan hasil dan masyarakat mulai sadar untuk memeriksakan dirinya," paparnya.

Rizal juga menerangkan, orang yang melakukan hubungan seksual berisiko, pernah menerima transfusi darah, pengguna narkoba suntik, atau yang mengalami infeksi seksual berulang, sebaiknya melakukan VCT.

Hingga 2008, Kalbar memiliki sembilan VCT yang terletak di rumah sakit, di antaranya Klinik Melati di RSUD Soedarso dan Klinik Lazarus di RSU St Antonius.

Selain itu, VCT juga dibentuk dengan berbasis kelompok masyarakat, seperti Puskesmas Pemangkat di Kabupaten Sambas. Bahkan sekarang ini sudah tersedia VCT mobile.(KOMPAS, 20 November 2008)

Ternyata Remaja Kita....

Sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap para remaja menunjukkan kecenderungan revolusi perilaku remaja dalam urusan seks. Seperti hasil survei Synovate Research tentang perilaku seksual remaja (15 - 24 tahun) di kota Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan, September 2004. Hasilnya, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16-18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13-15 tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%).

Penelitian mutakhir dilakukan oleh Dr Rita Damayanti saat meraih program doktoralnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ia meneliti 8.941 pelajar dari 119 SMA atau yang sederajat di Jakarta, tahun 2007 lalu. Hasilnya, sekitar 5% pelajar telah melakukan perilaku seks pranikah.(penapendidikan.com, 02/04/08)

Salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam perubahan perilaku remaja dalam urusan seks adalah masuknya budaya barat ke negara berkembang seperti Indonesia. Banyaknya media remaja yang getol menyajikan budaya Barat semakin mendekatkan remaja pada kehidupan serba boleh (permissif ) alias bebas berbuat selama tidak ada orang lain yang terganggu. Termasuk dalam urusan seks.

Karena di beberapa negara Barat, perilaku seks bebas remaja memang tinggi sekali. Pitchkal (2002) melaporkan bahwa di AS, 25% anak perempuan berusia 15 tahun dan 30% anak laki-laki usia 15 tahun telah berhubungan intim. Di Inggris, lebih dari 20% anak perempuan berusia 14 tahun rata-rata telah berhubungan seks dengan tiga laki-laki. Di Spanyol, dalam survei yang dilakukan tahun 2003, 94,1% pria hilang keperjakaannya pada usia 18 tahun dan 93,4% wanita hilang keperawanannya pada usia 19 tahun. (Iwan Januar, ’Sex Before Married?’, 2007).

Sikap permissif remaja dalam urusan seks juga dikampanyekan oleh film-film remaja produksi luar negeri. Seperti film American Pie. Film ini dengan gamblang mengupas budaya mesum di kalangan remaja amerika. Mulai dari perilaku anak perempuan yang doyan mengekspos daya tarik seksualnya, cara berpikir mayoritas remaja yang beorientasi seks, hingga ’perjuangan’ untuk melepaskan keperjakaan atau keperawanan saat prom night. Dan buruknya, kampanye budaya mesum secara terselubung juga sering dipertunjukkan melalui tayangan sinetron remaja atau film layar lebar produksi lokal.

Otomatis, remaja Indonesia ikut-ikutan membeo. Dr Rita Damayanti mengatakan, perilaku permisif remaja dalam masalah seks berawal dari proses pacaran. Masuknya budaya luar lewat hiburan, menyebabkan remaja kian bebas dalam berpacaran. Berdasarkan penelitiannya, perilaku remaja laki-laki menjadi jauh lebih agresif dibandingkan dengan remaja perempuan. Mereka tak hanya terbiasa dengan ciuman bibir, tapi sudah berani melakukan hal-hal yang lebih jauh, mulai dari meraba dada, hingga akhirnya melakukan seks pranikah.(dunia.pelajar-islam.or.id)

Maka tidak lagi mengherankan kalau saat ini jumlah penderita HIV/AIDS meningkat tajam, mengingat penyebaran melalui jarum suntik secara bergantian tidak menjadi penyebab satu-satunya. Hubungan seks yang cenderung bebas sebebas-bebasnya juga bisa menjadi pemicu utamanya. Mungkin pendekatan secara agama sudah saatnya dilakukan sekarang ini. Bagi yang beragama Kristen, Hindhu maupun Budha pasti punya cara-caranya sendiri, sementara untuk yang beragama Islam-karena saya sendiri beragama Islam-mungkin ada suatu cara khusus yang patut dilakukan perlu dibahas tuntas. Berikut ada sebuah program Kampanye No Free Sex, No Drug yang mungkin bisa jadi bahan kajian di sini:

Selamatkan Remaja Muslim

Menurut dr Faizah Ar-Rosyidah, S.Ked., AIDS adalah penyakit perilaku, sehingga untuk mengatasinya cara yang paling efektif adalah memperbaiki perilaku, tentunya sesuai dengan agama Islam perbaikan itu harus dilakukan dengan syariat Islam. Perlu digarisbawahi adalah maraknya program-program pemberantasan AIDS dari beberapa LSM bahkan dilembagai oleh pemerintah sendiri yang justru menyesatkan. Alih-alih mengajarkan tentang berperilaku benar, program ini memberi fasilitas pada seks bebas dengan pembagian kondom gratis, jarum suntik gratis, hingga yang paling kontroversi belakangan adalah adanya ATM kondom

Awalnya memang baik kita diajari untuk menjaga diri dari perilaku bebas, namun opsi selanjutnya ditambahkan bahwa jika kita tak mampu menahan gejolak itu maklum lah namanya juga masih puber ya kalau tidak tahan ya cobalah setia dengan pasangan kita, tapi sangat lucu saat point yang diberikan pada pelajar SMP bahwa kita harus setia dengan pasangan kita, yang notabene pelajar SMP tidak mungkin ada yang sudah berumah tangga, sehingga pasangan yang dimaksud dalam point ini tentunya yang dimaksud adalah tentu saja pacarnya. Oh iya saya setia dengan pacar saya si A kemudian putus lalu saya dengan si B oh..saya setia dengan si B, putus lagi dan seterusnya ya memang bener setia tapi gonta-ganti sama saja” jelas dr. Faizah disambut gelak peserta seminar. “Kalau masih gak bisa juga setia gak papa masih ada solusi lain yaitu dengan kondom, bahkan kondom dibagikan gratis, malu beli kondom diberikan pula ATM kondom, sehingga jelas bahwa bukannya memperbaiki perilaku yang ada malah memberi fasilitas pada kerusakan tambah dokter Faizah. Beliau memberikan penjelasan tambahan tentang bagaimana Islam mengatur pergaulan pria dan wanita sebagai bentuk aturan yang baik bagi manusia.

Menurut Ustadz Hisyam Hidayat dari DPD HTI, yang menyebabkan penyakit perilaku tersebut, tak lain adalah sistem sekulerisme yang melingkupi negeri ini bahkan dunia secara global. Konsep HAM yaitu freedom yang digembor-gemborkan bahwa hak pribadi seseorang apakah dia ingin berperilaku bebas atau tidak, karena memang aturanya freedom dalam segala hal. Buktinya polisi tidak akan menindak seseorang yang melakukan hubungan seks jika itu dilakukan suka sama suka tapi jika tidak baru orang tersebut dapat dikenai sanksi. Bahkan perzinaan bisa menjadi legal dengan surat-surat dan pembayaran pajak seperti lokalisasi Dolly (lokalisasi WTS di Surabaya-red), bahkan pajaknya gak sedikit”, jelas Ustadz Hisyam. Oleh karena itu, pemberantasan AIDS secara optimal adalah secara sistemik, yaitu mengintegrasikan syariah dalam kehidupan bernegara. Hal ini karena Islam adalah sebuah sistem yang lengkap, yang menjaga umat manusia. “Selain memberlakukan syariah Islam secara kaffah, perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang tata cara bergaul Islami sehingga tumbuh kesadaran dalam diri mereka bukan hanya karena takut kepada sanksi”, jelas Ustadz Hisyam. (if, sby. syariahpublications.com)

Pendeknya, Pemerintah memang tidak punya kewajiban untuk melindungi warga negaranya yang non muslim yang mungkin saja merasa keberatan untuk menjalankan 'aturan-aturan Hukum Islam', namun demikian Pemerintah hendaknya tidak sampai melupakan hak-hak umat Muslim untuk menegakkan syariat agamanya sendiri. Mereka juga berhak untuk melaksanakan syariat agamanya dan melupakan saja aturan-aturan hukum yang sekuler yang mungkin menjadi pilihan bagi umat agama lain untuk diikuti secara bebas. Itu sepenuhnya hak mereka, tapi bukan diperuntukkan bagi umat Islam. Dalam hal ini mungkin Majelis Ulama Indonesia (MUI) bisa turut andil mengeluarkan fatwa larangan 'berpacaran' dikalangan umat Muslim sebagaimana MUI selama ini sanggup mengeluarkan fatwa-fatwa tentang larangan memakan daging babi khusus bagi umat Islam.@

Alit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar