Senin, 03 November 2008

Ketika Australia Sekali Lagi Menyakiti Hati Bangsa Indonesia

Sebenarnya agak telat nih posting artikel ini, tapi yah...saya ingin sedikit menggaris bawahi hal yang penting:

----------

Jumlah umat Islam di Australia memang terus bertambah. Tapi, problem yang dijumpai dalam keseharian mereka juga bertambah.

Salah satu problem yang belakangan ini dirasakan umat Islam di Negeri Kanguru adalah sertifikasi halal untuk berbagai produk makanan.

Jika di Indonesia urusan itu menjadi wewenang MUI (Majelis Ulama Indonesia), di Australia, siapa pun bisa mendirikan lembaga sertifikasi halal asal memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Dan, saat ini sertifikasi halal menjadi bisnis menggiurkan di Australia.

Mengapa menggiurkan? Ini karena Australia termasuk salah satu negara yang banyak mengekspor produk halal ke negara lain. Sebagai gambaran, menurut data yang dilansir Halal Australia, sebuah lembaga sertifikator halal, populasi muslim dunia mencapai 1,8 miliar orang. Perkembangan per tahun sekitar 2,9 persen.

Dengan populasi seperti itu, diperkirakan kebutuhan makanan halal di seluruh dunia, jika dinominalkan mencapai angka USD 400 miliar - USD 580 miliar, per tahun.

Untuk lokal Australia, pasar makanan halal mencapai AUD 2 miliar per tahun (sekitar Rp 15 triliun, dengan kurs AUD 1 = Rp 7.500). Ini bisa diartikan, total belanja umat Islam di Australia (yang jumlahnya sekitar 400 ribu) untuk makanan halal selama setahun sekitar AUD 2 miliar.

Berdasarkan data yang diperoleh Jawa Pos sejak 2001-2002, nilai ekspor Australia untuk makanan halal mencapai USD 3,7 miliar (sekitar Rp 34,4 triliun dengan kurs USD 1 = Rp 9.300)

Sedangkan khusus untuk produk ekspor kombinasi antara daging sapi, domba, dan kambing mencapai USD 330 juta (sekitar Rp 3 triliun). Jumlah itu adalah data mulai 2001 - 2006.

Belum lagi pasar untuk katering dan makanan yang disediakan untuk penumpang pesawat. Pasar terbesar untuk ekspor Australia adalah Indonesia, Malaysia, dan negara-negara di Timur Tengah.

Melihat begitu besarnya pasar dan kebanyakan pasar adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim, di Australia bermunculan lembaga sertifikator halal. Jadi, lembaga inilah yang akan memberi stempel halal untuk produk-produk makanan yang akan diekspor.

Di antara lembaga sertifikator di Australia, terjadi persaingan yang cukup ketat. Maklum, saat ini setidaknya ada 15 lembaga sertifikator halal di sana. Mereka mendapat lisensi untuk mengeluarkan sertifikat halal dari otoritas pemerintah.

Persaingan di antara mereka sampai pada tataran saling menginvestigasi ketidakberesan lembaga sertifikasi halal lain.

Ini bisa dirasakan Jawa Pos ketika mengunjungi kantor Halal Australia di Auburn, New South Wales. Direktur Eksekutif Halal Australia Muhammad M. Khan menunjukkan temuannya kepada Jawa Pos. Dia menunjukkan foto sebuah produk daging babi yang telah ditempeli label halal. ”Masih ada saja lembaga sertifikasi yang integritasnya diragukan seperti ini,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika kecurangan ini dilakukan lembaga sertifikasi halal, yang sangat dirugikan adalah negara-negara Islam yang menerima produk itu.

Saat mengimpor daging dari Australia, mereka tidak tahu lembaga sertifikator halal yang ditunjuk.

Saya berharap negeri Anda lebih jeli dalam memilih label halal yang dikeluarkan lembaga sertifikator asal Australia,” pesan Khan. Sebab, hal ini terkait standardisasi metode penyembelihan. “Ada yang dipukul dulu menggunakan Mushroom Gun (semacam alat pemukul dari besi yang bentuknya mirip jamur), baru disembelih. Indonesia dan negara negara Timur Tengah masih meloloskan.daging jenis itu. Dalam hal ini Malaysia lebih ketat,” papar Khan.

Di negara bagian Victoria, Jawa Pos berkesempatan mengunjungi rumah jagal bersertifikasi halal Cedar Meats. Perusahaan tersebut memproses daging kambing, dengan jaminan 100 persen halal. Mulai para jagal yang bersertifikasi halal. “Kami mempunyai enam jagal yang semuanya muslim,” kata pemilik Cedar Meats Tony J. Kairouz.

Bentuk rumah jagal diatur sedemikian rupa sehingga ketika menyembelih hewan, para jagal menghadap kiblat, sebagai salah satu syarat halal dalam Islam. Untuk mempercepat proses penyembelihan, mereka menggunakan metode strum (stunning). “Agar kambing linglung, kami menggunakan listrik 200 sampai 300 watt. Tapi, kejutan listrik tersebut tidak mengakibatkan kematian,” kata Tony.

Dengan cara ini, dalam satu menit, delapan ekor kambing bisa disembelih. Dalam sehari, 3.500 ekor kambing diekspor Cedar Meats ke Timur Tengah, Eropa dan Asia, termasuk Indonesia.

Perusahaan itu baru berjalan enam bulan, dan menjadi satu-satunya perusahaan jagal terbesar di Victoria. Tidak hanya daging, Cedar Meats juga mengeskpor kulit, dan jeroan ke Timur Tengah. Dari seluruh bagian kambing, hanya kepalanya yang terbuang sia-sia.***

Sumber: jawapos.com; (candra kurnia harinanto/kum)

http://radiospin.net/archives/2153

======

Sekali lagi orang-orang Australia menyakiti 'hati' bangsa Indonesia dengan perbuatannya. Entah ini untuk yang keberapa kalinya. Btw, yang jelas, bagi bangsa Indonesia ada baiknya untuk bersikap lebih waspada saja. Jangan lagi mudah percaya dengan bangsa asing, lebih-lebih Australia...

Tadi sore saya juga sempat menonton berita, bagaimana Pak Hidayat Nur Wahid (dari PKS) setengahnya protes sama Australia yang mengeluarkan peringatan bagi warganya yang berada di Indonesia terkait dengan masalah Eksekusi yang bakal dijalani Amrozi cs. Tapi reaksi Australia toh adem ayem aja kan? Yah, lagi-lagi mereka menunjukkan sikap arogannya dengan memandang Indonesia secara sebelah mata seperti biasa. Sekarang saya bisa mengerti kalau pemerintah 'malas' memprotes Australia, bagaimana tidak, lha daripada terus-terusan dipandang sebelah mata begitu mending dicuekin ajaaaa...beres kan???

Singkatnya, kalau memang kita bisa berdiri sendiri tanpa harus bergantung pada hasil ternak Australia kenapa juga kita masih mempertahankannya. Mungkin lebih baik kita makan tempe saja, toh jelas lebih bisa dipercaya kandungan gizinya. Atau kalo memang kita benar-benar butuh daging impor, ada baiknya kita menjalin hubungan bisnis dengan orang-orang yang jauh lebih jujur saja. Mungkin dengan orang-orang Eropa, bagaimana? Di satu sisi jelek memang kelakuannya tapi di sisi lain menurut pandangan saya sih lumayan lebih jujur dan lebih elegan atau lebih smart githu deh...

Ratualit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar