Sabtu, 11 Oktober 2008

Penyakit "Lebih Mematikan" Muncul Akibat Perubahan Iklim

Barcelona, Spanyol (ANTARA News) - Penyakit "yang beberapa kali lebih mematikan" mulai dari flu unggas hingga demam kuning tampak lebih menyebar akibat perubahan iklim, demikian pengumuman Wildlife Conservation Society, Selasa.

Perhimpunan itu, yang berpusat di Bronx Zoo di Amerika Serikat dan yang beroperasi di 60 negara, mendesak pemantauan lebih baik atas kesehatan margasatwa untuk membantu memberi peringatan dini tentang bagaimana hama mungkin menyebar sejalan dengan pemanasan global.

Organisasi tersebut mendaftar penyakit "yang berkali-kali lebih mematikan" sebagai flu unggas, babesia yang ditularkan kutu, kolera, ebola, parasit, wabah, penyakit menular, wabah ganggang, demam Rift Valley, gangguan tidur, tuberculosis dan demam kuning.

"Bahkan gangguan kecil dapat memiliki jangkauan jauh mengenai penyakit apa yang mungkin dihadapi hewan dan menular saat iklim berubah," kata Steven Sanderson, pemimpin perhimpunan tersebut.

"Istilah `perubahan iklim` membangkitkan kenangan mengenai lapisan pencairan es dan kenaikan permukaan air laut sehingga mengancam negara dan kota besar di pantai, tapi yang sama pentingnya ialah bagaimana kenaikan temperatur dan naik-turunnya tingkat hujan akan mengubah pembagian patogen berbahaya," katanya.

"Pemantauan kesehatan margasatwa akan membantu kita meramalkan di mana tempat masalah akan muncul dan merencanakan cara mempersiapkan diri," kata Sanderson dalam suatu pernyataan.

U.N. Climate Panel menyatakan bahwa buangan gas rumah kaca, terutama dari penggunaan bahan bakar fosil oleh manusia, meningkatkan temperatur dan akan mengganggu pola curah hujan dan memiliki dampak mulai dari gelombang panas hingga sungai es yang mencair.

"Selama ribuan tahun, orang telah mengetahui mengenai hubungan antara kesehatan dan iklim," kata William Karesh dari perhimpunan tersebut pada suatu taklimat di Barcelona untuk meluncurkan laporan saat kongres International Union for Conservation of Nature.

Di antaranya, orang mengatakan mereka mereka "berada di bawah cuaca" saat sakit, katanya.

Ia mengatakan laporan tersebut bukan daftar yang sudah jenuh tapi suatu gambaran mengenai jajaran penyakit menular yang mungkin mengancam manusia dan hewan.
(Uu.C003)
(Uu.SYS/A/C003/A/C003) 08-10-2008 11:12:47
NNNN

COPYRIGHT © 8/10/2008

SUMBER: antara.co.id

2 komentar: