Kamis, 30 Oktober 2008

Awas Ancaman Stroke!

Ngorok, Awas Ancaman Stroke!

Berdasar kajian terkini, ada peningkatan risiko stroke sebesar 2,52 kali pada penderita sleep apnea.

BAGI Anda yang selalu saja terjaga di malam hari karena kesulitan bernafas ketika tidur sebaiknya waspada. Bukan tidak mungkin, Anda termasuk dalam kelompok yang berisiko mengidap stroke.

Menurut Direktur RS BethesdaYogyakarta, dr Sugianto, Rabu (29/10), gangguan tidur yang berkaitan dengan pola nafas atau dalam bahasa medis disebut sebagai sleep disorder breathing (SDB) memiliki hubungan dengan risiko stroke.

"Dalam penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara stroke dengan gangguan tidur yang paling umum dijumpai yaitu ’obstructive sleep apnea’ atau lebih dikenal dengan ngorok," ungkap Sugianto pada acara memperingati Hari Stroke Sedunia.

Obstructive sleep apnea (OSA) adalah suatu bentuk gangguan tidur yaitu berhentinya nafas pada saat tidur lebih dari 10 detik karena tertutupnya atau menyempitnya saluran pernafasan. Tertutupnya saluran pernafasan itu sendiri terjadi karena turunnya lidah dan pengenduran otot serta jaringan lunak saluran pernafasan.

Dari hasil penelitian, OSA kerap ditemukan pada penderita stroke yang bertahan hidup, bahkan persentasenya lebih dari separuh penderita yang hidup, yaitu sekitar 63 persen. Penyempitan saluran pernafasan akan menurunkan saturasi oksigen lebih dari tiga persen, misalnya suplai oksigen ke otak dan juga melambatkan detak jantung.

"Apnea
bisa terjadi ratusan kali dalam satu malam dan kadang-kadang tidak disadari oleh penderitanya, namun disadari oleh pasangan tidurnya," katanya.

Berdasar kajian terkini, ada peningkatan risiko stroke sebesar 2,52 kali pada penderita sleep apnea. Dengan kondisi tersebut, Sugianto berharap mereka yang mengalami gangguan tidur dapat melakukan diagnosis dini untuk tujuan pencegahan.

Selain itu, pengenalan terhadap faktor risiko utama penyebab stroke juga harus terus diperhatikan, diantaranya tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes dan merokok. (sumber: ant)

Adapun tanda-tanda munculnya serangan stroke dapat diperhatikan dari ciri-ciri berikut:

@ Rasa bebal atau mati mendadak atau kehilangan rasa dan lemas pada muka, tangan atau kaki, terutama pada satu bagian tubuh saja
@ Rasa bingung yang mendadak, sulit bicara atau sulit mengerti
@ Satu mata atau kedua mata mendadak kabur
@ Mendadak sukar berjalan, terhuyung dan kehilangan keseimbangan
@ Mendadak merasa pusing dan sakit kepala tanpa diketahui sebab musababnya/

Selain itu harus dijelaskan pula kemungkinan munculnya tanda-tanda ikutan lain yang bisa timbul dan atau harus diwaspadai, yaitu;
@ Rasa mual, panas dan sangat sering muntah-muntah
@ Rasa pingsan mendadak, atau merasa hilang kesadaran secara mendadak

5 Gaya Hidup Hindari Stroke

Di Indonesia kini, diperkirakan setiap tahunnya ada sekitar 500 ribu penduduk terkena serangan stroke. Agaknya stroke masih merupakan pembunuh utama (first killer) di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit .

Untuk mencegah terjadinya stroke, para ahli melalui hasil riset terbarunya merekomendasikan lima kebiasaan atau gaya hidup sehat yang harus dijalani secara disiplin. Dengan menerapkan lima gaya hidup ini, risiko Anda mengalami stroke dapat menurun drastis hingga 80 persen.

Rekomendasi yang diberikan ini adalah hasil dari suatu riset kesehatan yang dilakukan ilmuwan Harvard School of Public Health terhadap 43.685 pria dan 71.243 wanita. Rata-rata usia partisipan pada saat riset dimulai yakni 54 tahun pada pria dan 50 tahun pada wanita.

Ketika riset ini berjalan, tak seorangpun partisipan yang mengalami penyakit kardiovaskular atau pun kanker. Setiap partisipan selalu didata mengenai kebiasaan atau gaya hidup serta kondisi medisnya sejak 1986 hingga 2002. Selama penelitian bergulit, tercatat 1.559 kasus stroke terjadi pada wanita dan 994 stroke terjadi pada pria.

Dari hasil riset yang dimuat jurnal Circulation ini, para peneliti mendefinisikan 5 kebiasaan yang menekan risiko stroke sebagai berikut:

1. Tidak merokok.
2. Memelihara bobot badan ideal. Ini berarti bahwa body mass index (BMI)-nya kurang dari 25. Angka BMI yang berkisar antara 25 hingga 29,9 dipertimbangkan dalam kategori normal, sedangkan lebih dari 30 dipertimbangkan sebagai obesitas atau kegemukan.
3. Lakukan olahraga atau gerakan fisik selama minimal setengah jam selama setiap hari .
4. Disipilin dalam menjalani diet menu seimbang termasuk di antaranya menghindari lemak jahat dan rajin mengonsumsi buah dan sayuran, daging rendah lemak seperti ayam dan ikan, serat, kacang dan polong-polongan.
5. Batasi atau hentikan konsumsi alkohol.

Dari riset terungkap, para wanita yang disiplin menjalani lima gaya hidup di atas memiliki risiko 79 persen lebih rendah mengidap semua jenis stroke dan 81 persen lebih rendah risikonya mengalami risiko stroke iskemik ketimbang wanita yang tidak menjalani gaya hidup sehat.

Sementara pria yang melewati kesehariannya dengan lima panduan gaya hidup tersebut mencatat 69 persen risiko lebih rendah dari semua jenis stroke dan 80 persen risiko lebih rendah mengidap stroke iskemik, dibandingkan pria yang tak menjalani lima pola gaya hidup sehat tersebut.

"Lebih dari 50 persen kasus stroke iskemik dapat dicegah melalui kedisiplinan pada gaya hidup yang sehat. Sedangkan untuk kasus stroke secara keseluruhan, 47 kasusnya pada wanita dan 35 persen kasus pada pria dapat dicegah," ujar Stephanie E. Chiuve, ScD, peneliti dari Harvard School of Public Health.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menjalani gaya hidup yang sehat, yang berkaitan dengan 80 persen risiko yang lebih rendah dengan kasus jantung koroner dan 90 persen risiko lebih rendah mengidap diabetes, juga dapat mencegah lebih dari 50 persen kasus stroke iskemik," tandas Chiuve. (sumber: WebMD)

Kadar Tinggi Vitamin C Lindungi Tubuh dari Stroke

KADAR vitamin C yang tinggi di dalam tubuh dapat menghindari seseorang dari resiko serangan stroke. Hasil studi selama 9,5 tahun ini diadakan terhadap 20.000 orang usia pertengahan atau lebih tua di Norfolk, Inggris.

Dalam rentang studi selama itu diketemukan 448 kasus stroke. Para periset menemukan mereka yang mempunyai konsentrasi vitamin C tinggi, sejak studi tersebut dimulai, mempunyai resiko 42 persen lebih kecil terserang stroke dalam kurun 10 tahun ketimbang mereka yang mempunyai kadar vitamin C rendah.

Efek protektif dari vitamin C terhadap stroke tidak terpengaruh oleh sejumlah faktor pencetus stroke, diantaranya seperti usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, indeks massa tubuh, tekanan darah, kolesterol, aktivitas fisik, diabetes, serta pemakaian suplemen.

Hasil studi Dr. Phyo K. Myint dan timnya dari Universitas Cambridge, Inggris, tersebut diterbitkan American Journal of Nutrition. "Hasil studi ini memperkuat bukti yang mengindikasikan bahwa konsumsi buah-buahan dan sayuran dalam jumlah besar berfungsi melindungi tubuh dari serangan stroke," jelas Dr. Phyo K. Myint. (sumber: Reuters)

SUMBER LINK: kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar