Selasa, 09 September 2008

KEPERCAYAAN DAN TRADISI YANG DILARANG ISLAM

Mentauhidkan Allah SWt adalah inti dari ajaran Islam. Oleh karena itu melindungi kepercayaan dan tauhid tersebut adalah hal pertama yang harus dilakukan masyarakat Islam. Memberantas kepercayaan jahiliyah berupa kepercayaan politeisme merupakan tugas yang harus dilakukan secara bahu-membahu untuk membersihkan Islam dari dosa syirik.

1. Mistik dan Khurafat

Rasulullah saw pernah menjumpai orang yang disebut Kuhhan (dukun) dan arraf (tukang ramal) di tengah-tengah masyarakat. Mereka mengakui mengetahui perkara-perkara gaib baik untuk masa yang telah lalu maupun yang akan datang. Mereka melakukan hal itu dengan bantuan jin dan sebagainya.

Oleh karena itu, Rasulullah saw memproklamirkan perang terhadap hal-hal yang berbau mistik dan khurafat:
”Katakanlah, Tidak ada yang dapat mengetahui perkara gaib di langit dan di bumi melainkan Allah semata.” (QS. An Naml: 65)

Sebagian utusan pernah datang ke tempat Rasulullah saw. Mereka menganggap bahwa Rasulullah saw adalah salah seorang yang mengaku dapat mengetahui perkara gaib. Kemudian mereka menyembunyikan sesuatu di tangannya dan berkata kepada Rasulullah saw: ’Tahukah tuan apakah ini?’ Maka, Rasulullah saw menjawab tegas: ’Aku bukan seorang tenung sebab sesungguhnya tukang tenung dan pekerajaan tenung serta seluruh tukang tenung di neraka.’

Islam tidak membatasi dosa hanya kepada tukang tenung dan peramal saja, tetapi juga seluruh orang yang datang dan bertanya serta membenarkan ucapan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

”Siapa datang ke tempat tukang ramal, kemudian bertanya tentang sesuatu dan emmbenarkan apa yang dikatakan, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (Riwayat Muslim)

2. Mengadu Nasib

Termasuk perbuatan syirik adalah mengadu nasib dengan cara pergi ke kuburan, menggaris-garis tanah, membawa-bawa Al Qur’an membaca piring dan sebagainya. Semua itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Islam.

”(Dan diharamkan juga) kamu mengetahui nasib dengan mengundi bahwa yang demikian itu perbuatan fasik.” (QS. Al Maidaah: 3)

Sabda Rasulullah saw:

”Tidak akan mencapai derajat yang tinggi orang yang menennung atau mengetahui nasib dengan mengundi pada nasib buruk (tathayyur).” (Riwayat Nasa’i)

3. Sihir

Islam menentang keras perbuatan tukang sihir, perbuatan sihir dan ilmu sihir:

”Mereka belajar suatu ilmu yang membahayakan diri mereka sendiri dan tidak bermanfaat buat mereka.” (QS. Al Baqarah: 102)

Haramnya sihir di sini tidak hanya terbatas kepada tukang sihirnya, tetapi meliputi setiap orang yang percaya pada sihir dan pada apa yang dikatakan oleh tukang sihir itu.

”Tidak akan masuk surga pecandu arak dan tidak pula orang yang percaya kepada sihir dan tidak pula orang yang memutuskan silaturahim.” (Riwayat Hibban)

4. Bertolak Balak

Termasuk dalam tolak balak ini adalah bertolak balak pada sebuah kuburan dan sebagainya dengan anggapan hal tersebut dapat menyembuhkan dari penyakit atau dapat melindungi diri dari marabahaya.

Mereka menuliskan tolak balak pada jimat-jimat tertentu dengan anggapan dapat melindungi si pembawa dari gangguan jin, tindak kejahatan, gangguan binatang berbahaya dan lain sebagianya.

Uqbah bin Amir meriwayatkan bahwa ada 10 orang berkendaraan datang ke tempat Rasulullah saw, yang sembilan di bai’at, tetapi yang satu ditahan. Kemudian mereka yang sembilan bertanya, ’Mengapa dia ditahan?’ Rasulullah saw menjawab, ’Karena di lengannya ada tangkal (rajah). Kemudian laki-laki tersebut memotong tangkalnya, maka diabaitlah dia oleh Rasulullah saw seraya bersabda, ’Siapa menggantungkan (tangkal), maka sungguh dia termasuk telah menyekutukan Allah.’ (Riwayat Ahmad dan Hakim)

Tumbal termasuk dalam bab tolak balak.

5. Tathayyur (Merasa Sial)

Merasa sial (percaya nasib buruk) karena tempat, waktu, seseorang dan sebagainya merupakan jenis mistik yangs angat dipercayai orang, baik secara berkelompok atau perorangan.

Pada jaman dulu pernah terjadi dimana Fir’aun dan kaumnya apabila ditimpa suatu musibah, mereka menganggap kesialan itu karena Nabi Musa as dan orang-orang yang bersamanya. Padahal sebenarnya kesialan terjadi umumnya karena ulahnya sendiri, seperti karena kufur dan ingkar terhadap nikmat yang dianuggerahkan oleh Allah SWT kepadanya.

Rasulullah saw berdabda;

”Bukan dari golongan kami siapa yang meras sial atau minta diramalkan kesialannya atau merenung atau minta ditenungkan atau menyihir atau minta disihirkan.” (Riwayat Thabarani)

Menurut Ibnu Mas’ud, perasaan-perasaan tathayyur akan lenyap dari hati orang yang sellau tawakal dan tidak membiarkan perasaan semacam itu tinggal di dalam hati.

6. Ashabiyah

Islam sangat memerangi tradisi jahiliyah yang selalu menghidup-hidupkan ashabiyah, kecongkakan, kesombongan, dan membangga-banggakan golongan.

Rasulullah saw bersabda:

’Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ashabiyah, bukan pula dari golongan kami orang yang ebrperang karena ashabiyah dan tidak juga termasuk golongna kami orang yang mati karena ashabiyah.” (Riwayat Abu Daud)

Sesungguhnya tidak ada keistimewaan khusus dengan warna kulit seseorang, jenisnya, atau karena tanah airnya. Tidak halal seorang muslim merasa fanatik (ta’asshub) karena warna kulit melebihi kulit orang lain, karena golongannya melebihi golongan lainnya dan karena daerahnya melebihi daerah orang lain. Tidak halal pula seorang muslim membela golongannya (chauvinisme) karena ta’asshub baik dalam kebenaran, kebatilan, keadilan, maupun kecongkakan.

Wailah bin Al Asqa’ pernah bertanya kepada Rasulullah saw, ’Apa yang disebut ashabiyah itu?’ Maka jawab Rasulullah saw, ’Yaitu kamu membela golonganmu pada kezaliman.’

”Dan jangan sampai karena kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil.” (QS. Al Maidah: 8)

Pernah satu kali Rasulullah saw bersabda, ’Tolonglah saudaramu yang menganiaya dan yang dianiaya.’ Para sahabat terperangah dan bertanya, ’Ya Rasulullah! Kami bisa saja menolong saudara kami yang dizalimi, tetapi bagaimana kami harus menolong saudara kami yang berbuat zalim?’ Maka jawab Rasulullah saw, ’Yaitu kamu tahan dia berbuat zalim. Yang demikian itu berarti suatu pertolongan buat dia.’ (Riwayat Abu Daud)

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa setiap anjuran di kalangan kaum muslim kepada fanatisme daerah, golongan, hingga rasa nasionalisme berlebihan merupakan propaganda jahiliyah yang sama sekali tidak diakui oleh Islam, Rasulullah saw dan Al Qur’an.

(Sumber rujukan: Halal dan Haram, Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi)

***

BAHAYA ASHABIYAH

Ada satu hal yang membuat saya lebih takut melebihi rasa takut saya pada bahaya sihir dan perbuatan mistik, yakni bahaya ’ashabiyah’. Kalau perbuatan mistik dan khurafat masih bisa dideteksi oleh mata, tapi tidak dengan ashabiyah. Ashabiyah bisa terjadi dengan sangat halus dan tak terkendali bagaikan sel kanker yang sedang tumbuh. Membutuhkan penjelasan? Baiklah saya akan ambil contoh konkrit di dunia Islam kita sekarang.

Di Arab Saudi pernah berdiri satu kelompok yang sangat anti tradisi-tradisi jahiliyah. Kelompok itu disebut dengan Wahabiyah. Didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787). Nama Wahabiyah sendiri diberikan oleh orang-orang yang melawan gerakan ini dan kemudian digunakan oleh orang-orang Eropa. Mereka mengaku sebagai golongan sunni, pengikut mazhab Ahmad bin Hanbal versi Ibnu Taimiyah yang dalam tulisan-tulisannya banyak menyerang pemujaan berlebihan kepada syekh-syekh tarekat. Ajaran Wahabi merupakan ajaran yang berusaha memurnikan ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw. Menurut mereka ajaran-ajaran Rasulullah saw telah mengalami banyak penyimpangan, terutama terkait dengan pengkultusan wali-wali dan syekh-syekh tarekat, penyembahan pohon-pohon keramat, dan sajian-sajian di makam-makam wali-wali dan syekh-syekh tersebut. Hanya sayangnya, karena orientasinya adalah kembali ke masa Rasulullah saw yang sederhana, maka kesederhanaan itu pun dilestarikan. Keyakinan (fanatisme) itulah agaknya yang mendorong gerakan ini menghancurkan makam-makam, seperti makam Zaid bin Khattab, dan buku-buku teologi.

Hingga abad 20, kaum ini berkembang menjadi penguasa di Saudi Arabia. Seorang penguasa Wahabi, Ibnu Sa’ud, di antara tahun 1924-1925 melakukan tindakan yang sangat menggemparkan dunia Islam. Dia melakukan pembersihan praktik-praktik keagamaan yang dianggap Wahabi menyeleweng dari ajaran Islam yang murni. Dia memprakarsai adanya konggres Mekkah dan mengundang negara-negara Islam untuk mengikutinya. Dari Indonesia diwakili oleh H.O.S Cokroaminoto dari Syarekat Islam dan K.H. Mas Mansur dari Muhammadiyah.

Pihak-pihak yang merasa kontra dengan pandangan Wahabi, khususnya di Indonesia, merasa perlu untuk membela diri. Mereka membentuk suatu komite yang disebut dengan Komite Merembuk Hijaz. Tujuannya adalah melindungi hal-hal yang terancam dihancurkan oleh Wahabi. Perlindungan yang berusaha diberikan itu diantaranya seperti berusaha mempertahankan praktek-praktek ajaran keagamaan tradisional yang berasal dari hasil penafsiran para sahabat Rasulullah saw hingga mazhab-mazhab semacam Imam Syafi’i dan Hanafi atau sering disebut dengan ajaran-ajaran mazhab yang empat, dan juga berusaha mempertahankan tradisi pemeliharaan makam Rasulullah saw serta keempat sahabatnya di Madinah. Komite ini kemudian diubah namanya menjadi Nahdatul Ulama di tahun 1927-an. Tapi lagi-lagi sikap fanatisme yang berlebihan membuat tujuan awal didirikannya kelompok baru ini pun menjadi hal yang kadang-kadang dianggap terlalu sakral oleh sebagian orang yang tak memahami ajaran Islam dengan benar. Sementara pihak yang pro-Wahabi menganggap kelompok tradisional sebagai ahli bid’ah dan ahli taqlid, sebaliknya pihak yang tradisional menganggap pihak pro-Wahabi (modernis) sebagai penghambat perkembangan agama Islam.

Itulah salah satu dampaknya jika fanatisme berlebihan mencengkam masing-masing kelompok keagamaan. Jika sekarang umat muslim di Indonesia menjadi terkotak-kotak dan saling serang satu sama lain, hal ini benar-benar memprihatinkan. Semoga pembaca bisa lebih memahami mengapa saya lebih khawatir terhadap bahaya ’ashabiyah’ ketimbang yang lain. Karena sikap fanatisme bisa menghancurkan ’akal sehat’ manusia, siapapun itu yang berselisih pendapat. Dan pada akhirnya hanya membuat pengikutnya saling mencaci dan membenci. Mengapa umat muslim jadi begini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar