Selasa, 09 September 2008

Apa Itu Ruh? (Bagian I)

Selama ribuan tahun manusia berusaha menganalisis dan berteori untuk memecahkan misteri tentang ruh. Namun demikian, tak banyak teori-teori yang dapat membantu memberikan pemahaman yang rasional tentang fungsi sebenarnya dari ruh.

Secara sederhana, manusia bisa hidup karena tersusun dari tiga unsur yakni badan (nafsu), jiwa (rasa, hati), dan ruh. Sayangnya, kebanyakan dari kita selama ini tidak membedakan antara jiwa dan ruh. Atau kalaupun merasakan perbedaannya, kita tidak begitu memperhatikan perbedaannya. Oleh karena itu kita kemudian cukup memandangnya sebagai dua bagian saja. Yang satu berupa fisik yang kelihatan, sedangkan yang lainnya adalah sesuatu yang abstrak. Atau secara singkat menyebut makhluk hidup hanya terdiri dari ’jiwa dan raga’ saja.

Padahal sebenarnya informasi mengenai jiwa dan ruh banyak tersebar di dalam Al Qur’an dengan pemahaman yang berbeda diantara keduanya. Perbedaan ini tidak hanya terkait dengan jumlah ayatnya saja tetapi juga mengenai maknanya.

Kata ’jiwa’ dalam Al Qur’an diwakili oleh kata ’nafs’ sedangkan ’ruh’ dengan ’ruh’. Secara jumlah kata ’jiwa’ lebih banyak digunakan dibandingkan dengan kata ’ruh’. Jiwa seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang bisa ada dan tidak ada, atau bisa keluar dan masuk pada diri seseorang yang hidup, sebagaimana diterangkan ayat berikut:

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekausaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az- Zumar: 42)

Makna lain dari ayat di atas adalah jiwa merupakan sesuatu yang terdapat pada orang yang sedang terjaga atau tersadar. Sementara pada orang pingsan atau mati suri (koma) ini menunjukkan ketidaksadarannya.

Selain itu, jiwa juga bisa berarti sesuatu yang kualitasnya bisa naik dan turun, bisa tumbuh dan berkembang seiring bertambahnya umur seseorang, memiliki kemampuan menangkap ilmu dan hikmah, serta diberi kebebasan untuk memilih kebaikan atau keburukan.

Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syam: 7-10)

Jika pemahaman tentang ’jiwa’ adalah seperti itu maka yang menjadi pertanyaan kita adalah ’Apa itu Ruh?’

Dibandingkan dengan jiwa, informasi mengenai ruh di dalam Al Qur’an jumlahnya jauh lebih sedikit. Namun demikian kita masih bisa membedakan makna diantara keduanya yaitu:

  1. Jika jiwa digambarkan sebagai zat yang dapat berubah-ubah kualitasnya: naik-turun, jelek-baik, kotor-bersih dan seterusnya, maka ruh digambarkan sebagai zat yang selalu baik dan suci serta berkualitas tinggi.
  2. Ketinggian zat yang disebut ruh itu terlihat pada bagaimana Allah mengatakannya sebagai ’Ruh-Ku’. Tidak pernah Allah dalam firman-Nya menyebutkan ’jiwa’ sebagai ’Jiwa-Ku’.

Penggunaan kata Ruh-Ku ini lantas jangan ditafsirkan sebagai Ruh Allah yang masuk ke dalam diri manusia. Melainkan ruh ciptaan Allah. Ibaratnya seperti ini, untuk membuat sebuah komputer menyala dan memproses data maka diperlukan aliran listrik. Begitulah manusia, dia tidak akan bisa konek dengan Allah kalau tidak ada ruh. Maka wajar kalau kemudian Allah menciptakan ruh tersendiri untuk menghidupkan manusia dan mengirim data-data-Nya melalui ruh. Pendeknya, ruh adalah zat yang menjadi media penyampai sifat-sifat Ketuhanan di dalam kehidupan manusia seperti rasa cinta, kasih sayang, kebijaksanaan, keikhlasan, ketangguhan dan seterusnya.

Sementara ruh menjadi media yang keseluruhannya bersifat baik dan suci, maka jiwa yang berada di antara ruh dan badan (hawa nafsu) memfungsikan dirinya sebagai sesuatu yang memiliki kemampuan untuk memilih jalan yang baik atau buruk. Boleh dibilang, untuk menjalankan fungsinya dengan baik jiwa selalu bergantung kepada ruh.

  1. Menurut sifatnya, jiwa bisa berubah-ubah tergantung suasananya misalnya jiwa bisa merasakan sedih, kecewa, gembira, tentram, tenang dan damai. Sementara ruh sifatnya stabil dalam kebaikan. Ruh tidak mengenal perbandingan. Atau dalam istilah lain ruh digambarkan seperti malaikat yang mengajak pada cahaya yang terang benderang. Jika ruh adalah penggerak maka jiwa adalah suatu akibat. Jika ruh selalu mengajak pada kebaikan maka jiwa bertanggung jawab pada segala perbuatannya yang berupa dosa maupun pahala.

Demikianlah, pengertian ruh harus dibedakan dari pengertian jiwa. Tugas dasar ruh adalah memberikan energi kehidupan kepada manusia, yang ’ditiupkan’ oleh Allah kepada cikal bakal badan yang tadinya mati, sehingga ia menjadi hidup dan berfungsi. Bagaikan energi listrik yang dialirkan kepada badan robot. Dan dengan cara itu pulalah ruh bertugas membawa sifat-sifat Allah sehingga manusia dapat hidup sesuai dengan fitrahnya. Karena ruh membawa sifat Hayyat (hidup), maka manusia jadi hidup. Karena ruh membawa sifat Rahman dan Rahim (kasih dan sayang), maka manusia bersifat kasih dan sayang. Karena ruh membawa Qiyamuhu binafsihi (mandiri), maka manusia juga memiliki kecenderungan untuk hidup mandiri, dan seterusnya. Dan akhirnya mengapa manusia, meski seorang ateis sekalipun, akan selalu merasa tergantung pada ’kekuatan’ yang jauh berada di atas dirinya hal itu karena sudah menjadi pembawaan ruh untuk selalu bergantung pada Sang Pemilik ruh, yaitu Allah azza wajalah. (BERSAMBUNG)

***

Buka mataku buka hatiku

Allah terangilah hidupku dengan sinar-Mu

Aku merasa tak berdaya

Tanpa rahmat-Mu aku hilang

Beribu dosa tlah terjadi mewarnai langkahku

Hitam diri hitamlah hari yang lalu

Bila tanpa cahaya-Mu gelap seluruh hidupku

Tak berdaya tak berarti sia-sia

Tak mungkin bisa ku sempurna

Mencintai-mu seperti Kemahaan-Mu

Diri yang hina berlumur noda

Hanya bersimpuh memohon belas kasih-Mu

(Lirik: Opick dalam ”Buka Mata Buka Hati”)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar