Jumat, 15 Agustus 2008

Yang Terlupa Dari Lingkaran Koruptor dan Penyuap

Fenomena yang banyak terjadi saat ini adalah semua fokus tertuju hanya kepada Pelaku Korupsi dan Pelaku Suap belaka, sedangkan orang-orang yang berdiri di belakang mereka sama sekali tidak tersentuh ranah Hukum. Seorang Pejabat misalnya, sebelum menjadi pejabat dan terlibat sebuah tender tertentu dengan para Pelaku Suap selaku pihak ketiga, seringkali harus berhubungan lebih dulu dengan anggota tim suksesi dari partai-partai tertentu. Kadang-kadang kasihan juga mereka. Apa yang mulanya dilandasi oleh niat tulus ingin menolong rakyat, tapi karena keluguan mereka, akhirnya mereka malah diperalat dan diperas habis-habisan oleh orang-orang di lingkungan partai. Orang yang awalnya jujur dan baik bisa berubah menjadi amoral. Orang yang awalnya hidup dengan prinsip kuat bisa berubah menjadi sangat egois. Orang yang awalnya tidak ingin menjadi penguasa akhirnya malah jadi gila kekuasaan. Sedikit demi sedikit keimanan mereka terkikis habis. Dan semua itu terjadi karena pengaruh solidaritas partai.

Berdasarkan pengamatan intensif yang saya lakukan, dalam beberapa kasus yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut:

  1. Mula-mula tim suksesi berusaha mendekati dan mendatangi Caleg atau Calon Pejabat yang dianggap potensial. Mereka mengadakan negoisasi intern atau istilahnya ”bisik-bisik” dulu. Umumnya mereka berasal dari utusan-utusan partai-partai tertentu.
  2. Kemudian tim suksesi ini akan menawarkan diri, bersedia mengorbitkan sang Caleg dan Calon Pejabat dengan syarat Caleg atau Calon Pejabat tersebut bersedia menyetorkan sejumlah dana kepada partai yang bersangkutan.
  3. Jika Caleg atau Calon Pejabat yang dimaksud bersedia menerima persyaratan dari tim suksesi ini, maka Caleg atau Calon Pejabat ini akan berusaha mencari sumber dana bagi pencalonan dirinya. Mereka akan melakukan tender di sana-sini atau bahkan hutang ke sana kemari demi mencapai target yang telah dia sepakati dengan partai tempat ia akan diorbitkan. Tender-tender besar pun dimulai. Orang yang ingin mencalonkan diri sebagai pejabat akan berhubungan dengan para pemilik modal dan melakukan negoisasi-negoisasi tertentu dengan mereka.
  4. Ketika sudah mencapai tahap ini, tim suksesi akan lepas tangan. Mereka tidak mau tahu lagi urusan hutang-piutang antara Caleg atau Calon Pejabat dengan pihak ketiga. Menang atau kalah dalam sebuah pencalonan seorang Caleg atau Calon Pejabat harus tetap menyetor sejumlah uang kepada partai. Itu sudah menjadi aturan mainnya.
  5. Jika menang, Caleg atau Calon Pejabat yang kini telah menjadi Pejabat, akan terikat dengan partainya sampai masa jabatannya berakhir. Dan karena dia telah terikat dengan partainya, maka mau tidak mau dia akan harus mengikuti aturan main pihak partai. Termasuk jika partai itu terus menerus minta jatah bagian keuntungan. Pejabat yang bersangkutan harus sanggup memenuhinya. Dalam salah satu kasus di suatu daerah, misalnya, ada tender sebuah pembangunan mall yang kini telah menjadi milik kelompok partai tertentu. Itu terjadi lantaran pejabat yang bersangkutan berada di bawah pengaruh kuat partainya.

Begitulah awal mulanya lingkaran yang terjalin antara seorang Pejabat (Koruptor) dengan Pemilik Modal (Penyuap) dimulai. Sementara mereka terlibat kasus-kasus korupsi dan penyuapan, anehnya tim suksesi yang terlibat sama sekali menghilang tanpa bekas kejahatan. Ini jelas sangat tidak adil, sementara Koruptor dan Penyuap bisa sewaktu-waktu ditangkap KPK, partai yang mengusung sang Koruptor justru dibiarkan saja menikmati sendiri uang hasil suapannya.

Untuk itu, sudah waktunya aturan perundang-undangan tentang korupsi di Indonesia ini di amandemen. Harus ada ketetapan hukum pasti yang menyatakan bahwa partai-partai yang menjadi tim suksesi dari seorang pejabat yang terbukti korupsi juga diwajibkan ikut bertanggung jawab. Termasuk di dalamnya adalah orang-orang di luar partai yang bersedia mendukung partai yang mengorbitkan Koruptor. Karena selama manajemen partai yang seperti rentenir ini belum berakhir, jangan harap kasus-kasus korupsi akan mudah diberantas.@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar