Selasa, 12 Agustus 2008

Teks-Teks Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Islam?

Pada prinsipnya, Islam lahir dimaksudkan untuk meletakkan dasar-dasar sosial baru yang anti diskriminasi dan anti kekerasan. Akan tetapi para penafsir Al Qur’an dan Hadits seringkali mengasumsikannya dengan cara yang salah sehingga terkesan bahwa wanita memang sudah sepatutnya berada di posisi yang subordinat (rendah) dibanding pria.

Pemahaman terhadap teks-teks keagamaan seperti itu perlu diluruskan karena bila tidak, maka akan memberi kesan kontradiktif dengan visi kesetaraan dan kemuliaan manusia. Mengapa sudut pandang yang diskriminatif bisa terjadi dalam pemikiran keagamaan? Ada beberapa kemungkinan jawabannya, yaitu:

  1. karena kekeliruan dalam menginterpretasikan bunyi teks secara harfiah;
  2. karena cara atau metode penafsiran yang parsial atau tidak utuh, sepotong-sepotong, sebagian, atau separo dari keseluruhan teks;
  3. karena sering kali didasari dan dikuatkan oleh hadits-hadits lemah (dha’if), hadits palsu (maudhu’) atau hadits-hadits isra’liyyat.

Tiga kemungkinan itu pada akhirnya terakumulasi dalam interpretasi dan sering kali kurang memperhatikan sosiokultur di mana dan kapan firman itu diturunkan, atau disebut dengan asbab an-nuzl dan as-bab al wurud. Selain adanya manipulasi hadits-hadits nabi untuk kepentingan politis.

Salah satu dari sejumlah faktor yang membuat fenomena terhadap perempuan menjadi kuat dan efektif adalah karena adanya dukungan atau kultur patriarkhi yang hegemonik. Selanjutnya, beberapa contoh teks kekerasan terhadap perempuan dalam Al Qur’an itu mendapat legitimasi dari pandangan atau pemahaman penafsiran tertentu.

Konsep-konsep dalam ajaran Islam yang biasa dipakai untuk membenarkan kekerasan atau menyudutkan wanita misalnya, larangan untuk meninggalkan rumah, kecuali ada keperluan mendesak. Seperti termaktub dalam surat Al Ahzab 33:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dulu.

Oleh sebagian orang, ayat ini dipahami sebagai ketentuan Tuhan yang mewajibkan kaum perempuan untuk tinggal di dalam rumah.

Pemahaman ini juga didukung oleh sebagian hadits, antara lain bahwa sahabat Utsman bin Affan berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Seorang istri yang keluar dari rumah suaminya akan dilaknat oleh segala yang ada di muka bumi hingga ikan-ikan di laut.”

Memahami firman Allah tersebut dengan pemahaman seperti itu tidaklah komprehensif. Ayat di atas sebenarnya ditujukan kepada para istri Nabi dan untuk konteks tertentu, bukan ditujukan kepada semua muslimah.

Hal ini menjadi jelas ketika dilihat bahwa rangkaian ayat tersebut dilengkapi dengan penjelasan yang lain, “Hai para istri nabi, kalian tidak sama dengan para istri yang lain, jika kalian bertakwa.” Beberapa mufasir, misalnya Ibnu Hajar, mengatakan dalam tafsirnya bahwa ayat ini ditujukan hanya untuk para istri Nabi. Demikian pula Ibnu Asyur dalam tafsirnya At-Tahrir at-Tanwir.

Beberapa contoh teks-teks hadits lemah yang kemudian menjadi pemicu kekerasan terhadap wanita adalah:

  • Konsep wali dalam perkawinan. Karena seorang wali haruslah seorang pria, maka pria bisa memaksa kehendaknya kepada wanita ketika si wanita tidak setuju pada pilihan wali. Dan hal semacam ini masih dipahami sebagai doktrin kebenaran bagi kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini;
  • Konsep cerai dan poligami. Untuk sementara ini banyak kasus terjadi, pihak perempuan sengaja disetir dan tidak diperdayakan untuk mempertahankan hak-haknya. Alasannya adalah karena wanita dianggap memiliki sifat ketergantungan yang sangat tinggi kepada suaminya, maka mereka hanya diperkenankan untuk berlaku pasif.
  • Suami dibenarkan memukul istri menurut agama. Apakah Islam pernah mengijinkan seorang suami memukul atau menyiksa batin istrinya? Sebenarnya tidak ada yang seperti itu. Islam hanya memberikan ruang bagi suami untuk memukul istrinya ketika istri sudah berlaku di luar batas kewajaran. Itupun dengan syarat tidak diperbolehkan hingga menimbulkan luka atau bekas siksaan di tubuhnya. Ibaratnya, jika istri harus dicambuk seratus kali, maka istri tersebut hanya boleh dipukul sekali dengan seratus helai rumput kering.
  • Konsep muhrim. Konsep ini seakan mempersempit dan membatasi ruang gerak wanita secara mandiri;
  • Konsep khitan bagi wanita. Ini dipakai untuk mengurangi kepekaan genital wanita. Ditemukan adanya dasar dari sabda Rasulullah saw: “Khitan adalah sunnah bagi laki-laki dan suatu kemuliaan bagi wanita.” Dikatakan oleh Imam asy-Syaukani dalam kitabnya Nail al Authar bahwa hadits di atas diriwayatkan oleh Hajjaj bin Artha’ah, seorang perawi yang sering melakukan kekeliruan (mudallas). Menurut Imam al Baihaqi yang juga meriwayatkan hadits ini, disebutnya sebagai hadits lemah (dha-if) karena terputusnya sanad (munqathi). Sayangnya, pandangan bahwa khitan kewajiban atau sunnah bagi wanita dikalangan sebagian muslim masih saja ada. Umumnya hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi sosiokultur yang subordinat terhadap wanita. Wanita dituntut untuk senantiasa melayani kebutuhan seksual suami sementara dia sendiri dianggap tabu jika bertindak aktif atau agresif. Sepertinya mereka percaya agar tingkat agresivitas seksual wanita bisa dikurangi dan tak melebihi pria selaku pemimpin mereka, maka Islam mewajibkan wanita disunat. Padahal, khitan disyariatkan oleh Islam itu karena ada kaitannya dengan persoalan medis dan bukan karena alasan gender.
  • Menstruasi. Ketika wanita dalam keadaan menstruasi dilarang memasuki tempat-tempat ibadah, misalnya masjid. Padahal, pemahaman ini hanya ada menurut Imam Syafi’i, sementara menurut imam-imam yang lain tidaklah demikian.
  • Terlambat melayani kebutuhan seksual suami. Dalam ajaran Islam suami adalah pakaian istri, begitupun sebaliknya istri adalah pakaian bagi suaminya. Dengan kata lain, sejatinya di antara keduanya terdapat kedudukan yang seimbang satu sama lain. Kemitraan dalam hubungan seksual antara suami dan istri sangat dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga. Hubungan seks tidak diperkenankan dilakukan secara paksa. Adalah terlalu ekstrim jika beranggapan bahwa segala amal kebajikan wanita dianggap gugur jika terlambat melayani kebutuhan suaminya tanpa melihat terlebih dahulu apa alasannya.

Seperti halnya memahami hadits berikut, ”Ketika wanita diajak oleh suaminya kemudian tidak mau, maka dia akan dilaknat oleh malaikat sampai pagi.”

Hadits ini tidak bisa disimpulkan begitu saja. Bagaimana kalau sewaktu suami meminta istrinya untuk melayaninya sedangkan istrinya dalam keadaan lelah atau sakit dan suami tetap memaksa? Apakah yang demikian itu tidak berarti bahwa suami telah melanggar prinsip mu’asyarah bi al ma’ruf ?

Persoalan diskriminasi gender dan kekerasan terhadap wanita pada akhirnya berujung pada problem metodelogi penafsiran terhadap teks-teks keagamaan. Analisis terhadap teks-teks tersebut mengalami kemandegan yang sangat kritis.

Seharusnya pernyataan-pernyataan Al Qur’an yang mengkritik secara tajam kebudayaan Arab yang diskrimintaif dan misoginis terhadap wanita sebelum Al Qur’an diturunkan, seharusnya menjadi dasar metodologi untuk melangkah ke arah perwujudan cita-cita Al Qur’an itu. Bukannya malah sebaliknya. Apa tidak aneh dunia kita sekarang ini, Al Qur’an yang semestinya mengoreksi budaya jahiliyah malah dikoreksi oleh budaya jahiliyah untuk disesuaikan dengan budaya jahiliyah?@Agustus 2008

(kemarin lagi asyik liat-liat koleksi buku-buku lama, eh ketemu salah satu literatur jaman sibuk-sibuknya bikin skripsi dulu. Ya udah, daripada bukunya cuman didiemin nganggur begitu, saya coba bikin semacam resume githu-lah.Ratualit)

2 komentar:

  1. Jika memang bukan berasal dari Allah, bagaimana pun cara menutupi kekurangan alquran, tetap tidak akan pernah bisa.

    Karena banyaknya kekurangan alquran, makanya quran menutup diri bahkan akan mengancam siapapun yg berani mengkritik isinya. BERISI PENUH ANCAMAN.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada ayat2 ancaman bukan berarti gak ada ayat2 yg penuh kasih, bung

      Ironisnya, bnyk org yg salah tafsir kl aturan2 tegas dlm al qur'an itu sbg kekejaman. Pdhl justru suatu agama yg gak punya aturan tegaslah yg sejatinya mengembangbiakkan kekejaman

      Hapus