Selasa, 12 Agustus 2008

SISTEM DAN POLA DIDIK ANAK YANG SALAH

Banyak hasil penelitian di lapangan membuktikan bahwa banyaknya kasus-kasus kekerasan terhadap anak selain dipengaruhi oleh faktor kepribadian seseorang juga dikarenakan pengaruh lingkungan atau budaya setempat. Ironisnya lagi, kadang-kadang kekerasan secara sosial ini justru mendapatkan persetujuan dan pembenaran oleh negara.

Dalam laporannya UNICEF mengatakan bahwa sekitar 40 juta anak-anak di seluruh dunia telah menjadi korban kekerasan, mulai dari dicubit, dijewer, dipukuli dengan kayu hingga dilacurkan untuk alasan ekonomi.

Kita sering mendapati dalam kehidupan masyarakat kita, disiplin melalui hukuman fisik dan mempermalukan, menakut-nakuti hingga pelecehan seksual dipandang sebagai sesuatu yang normal. Ketiadaan akibat kasat mata dan cedera fisik yang parah, bagi kebanyakan orang tua dipandang bukan sebagai masalah sama sekali.

Mungkin awalnya memang hanya karena ingin menghukum anak agar tidak mengulangi kesalahannya. Namun ketika anak tidak terlihat mematuhinya hukumannya menjadi berlipat-lipat, bahkan bisa sampai menimbulkan dampak negatif pada kesehatan fisik dan psikis anak. Dalam hal ini anak tidak pernah diajak berkomunikasi secara baik-baik. Bagi orang tua, secara hirarki kedudukan seorang anak adalah di bawah kekuasaan orang dewasa sehingga tidak ada yang bisa dia lakukan selain hanya boleh menuruti saja apa kata orang tua. Anak tidak diperbolehkan sama sekali mengungkapkan pendapatnya sendiri karena hal itu bisa dianggap tabu. Model mendidik anak dengan cara demikian, khususnya di Indonesia, bisa jadi dikarenakan sistem kasta yang telah terlanjur mengakar kuat dalam darah dan daging orang-orang Indonesia sejak ribuan tahun lalu.

Contoh paling konkrit yang bisa kita lihat adalah doktrin orang Jawa yang beranggapan bahwa anak yang paling muda harus selalu ’manut’ kepada orang-orang yang lebih tua darinya, tidak peduli apakah orang yang lebih tua tersebut salah atau benar. Yang jelas semakin muda usia seseorang maka kedudukan hirarkinya juga semakin rendah. Karena secara hirarki rendah maka semakin pendiam dan manut dirinya maka hal itu semakin baik baginya. Akibatnya, komunikasi yang terjalin antara orang tua dengan anak-anak hanya berlaku satu arah. Orang tua boleh berpendapat apapun akan tetapi anak hanya diperbolehkan diam. Berdasarkan pengalaman pribadi dalam keluarga saya saja, misalnya, kalau ada yang berani mengajukan pendapat yang berbeda orang tua biasanya langsung mencap kami sebagai anak durhaka. Mereka tidak pernah mempertanyakan alasannya mengapa kami mempunyai pendapat yang berbeda lalu membahasnya secara terbuka. Belum lagi pengalaman di lingkungan sekolah juga tidak kalah buruknya, rata-rata sekolah di Indonesia memperlakukan murid-muridnya layaknya seorang penguasa kepada bawahannya. Berdasarkan pengalaman saya, guru matematika saya di sekolah dulu suka sekali memukulkan penggaris kayu atau menggebrak meja kalau ada murid yang tidak bisa mengerjakan tugas. Memang tidak menyakitkan secara fisik, tapi secara psikis hal itu membuat kami sangat tertekan. Imbasnya saya jadi malas belajar matematika sampai sekarang. Mungkin tanpa disadari saya merasa dendam pada pelajaran matematika, makanya kalau bisa saya tidak mau bersentuhan sedikitpun dengan bidang yang satu itu.

Sumber Kekerasan Anak Dalam Perspektif Sosiologis

Menurut kacamata sosiologi, kekerasan terhadap anak awalnya bersumber dari kecenderungan orang tua dan lingkungan untuk bertindak diskriminatif terhadap anak. Sumber diskriminasi itu sendiri dapat berasal dari alasan-alasan seperti ini:

  • Anak-anak dipandang tidak matang, tidak kompeten, tidak bertanggung jawab dan irasional, karenanya tidak dapat dipercaya
  • Karena orang dewasa pernah menjadi anak-anak, maka orang dewasa merasa layak untuk bertindak atas nama anak-anak
  • Anak-anak sepantasnya diperlakukan sebagai pihak yang pasif dan bergantung kepada orang tua
  • Bagi kebanyakan orang dewasa memberikan kebebasan kepada anak dipandang sebagai ancaman bagi kekuasaan orang dewasa

Tindakan-tindakan diskriminatif terhadap anak yang mulanya hanya bersifat lokal itu kemudian dilestarikan oleh sekelompok masyarakat dan bahkan dijadikan semacam aturan baku pada kelompoknya. Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana diskriminasi terhadap anak-anak juga terjadi di jajaran otoritas pemerintahan terjadi. Hal itu terjadi karena mereka beralasan:

  • Selaku abdi negara mereka merasa berhak untuk melegitimasi wewenang mengambil keputusan bagi anak-anak berdasarkan kacamata orang dewasa
  • Adanya anggapan anak-anak cenderung tidak terlihat dalam hitungan statistik
  • Anak-anak dipandang sebagai anggota masyarakat yang tidak produktif, sehingga kebutuhan dan kepentingan mereka dapat dikalahkan oleh kepentingan dan kebutuhan orang dewasa

Akibat dari tindakan diskriminatif ini dalam jangka panjang sudah jelas adalah munculnya berbagai kasus kekerasan terhadap anak-anak, seperti telah diutarakan di awal tulisan. Lebih lanjut, anak-anak akan tumbuh dewasa dengan kecenderungan negatif. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang pencemas, sulit berkonsentrasi, disorientasi seksual, mengalami gangguan fisik dan emosional, agresif, pendendam, dan cenderung meniru tingkah laku orangtuanya yang kasar. Mungkin pembunuh berdarah dingin sekelas Verry Idham Henyansyah alias Ryan, awal mulanya juga seperti itu. Karena tidak ada model didikan yang dapat mendukung perkembangan sisi emosinya secara baik akhirnya mereka tumbuh dewasa sebagai pribadi yang tidak stabil.

Solusi Dari Sudut Pandang Psikologi

Menurut Kak Seto Mulyadi, Ketua KOMNAS Perlindungan Anak Indonesia, orang tua sangat berperan dan bertanggung jawab untuk mendidik putra-putrinya dengan baik. Namun perlu senantiasa kita ingat bahwa anak-anak sebagai generasi yang unggul tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka sungguh memerlukan lingkungan subur yang sengaja diciptakan sehingga memungkinkan potensi mereka dapat tumbuh dengan optimal.

Bayi-bayi yang memperoleh berbagai rangsangan mental dalam bentuk pengalaman yang kaya, juga cenderung akan memiliki perkembangan jiwa yang sehat. Pengalaman tersebut dapat berupa sentuhan hangat, dekapan, belaian, senandung lagu-lagu yang merdu atau dongeng indah yang dibacakan ibu dalam suasana kasih sayang yang hangat.

Bayi-bayi yang memperoleh sentuhan emosional demikian akan tumbuh sehat dan cerdas di kelak kemudian hari. Pendidikan terhadap anak baru dianggap berhasil jika para orang tua dan guru mampu memahami anak sebagai individu yang unik, di mana setiap anak dilihat sebagai individu yang memiliki potensi-potensi yang berbeda satu sama lain namun saling melengkapi dan berharga.

Selain itu, ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan dalam kaitannya dengan upaya kita memahami anak:

  • Anak bukan orang dewasa mini. Mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan dibandingkan dengan orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang khas dan harus dilihat dengan kacamata anak-anak. Untuk itu untuk menghadapi mereka dibutuhkan kesabaran, pengertian dan toleransi yang mendalam.
  • Sesuatu akan dilakukan oleh anak-anak dengan penuh semangat apabila terkait dengan suasana yang menyenangkan. Namun sebaliknya akan dibenci dan dijauhi jika suasananya tidak menyenangkan. Seorang anak akan rajin belajar dan melakukan pekerjaan rumahnya apabila suasana belajarnya menyenangkan dan menumbuhkan tantangan.
  • Selain itu anak juga akan berkembang secara psikologis. Ada fase-fase perkembangan yang dilaluinya dan anak menampilkan berbagai perilaku sesuai dengan ciri-ciri masing-masing fase perkembangan tersebut. Dengan memahami bahwa anak berkembang, kita akan tetap tenang dan bersikap dengan tepat menghadapi berbagai gejala yang mungkin muncul pada setiap tahap tertentu perkembangannya tersebut
  • Salah satu proses pembentukan tingkah laku anak-anak adalah diperoleh dengan cara meniru. Anak-anak yang gemar membaca adalah anak-anak yang mempunyai lingkungan dimana orang-orang disekelilingnya juga gemar membaca. Mereka meniru ibu, ayah, kakak, atau orang-orang lain di sekelilingnya yang mempunyai kebiasaan tersebut. Dengan demikian maka orang tua dan guru dituntut untuk bisa memberikan contoh-contoh keteladanan yang nyata akan hal-hal yang baik, termasuk perilaku bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru
  • Anak-anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajinasinya tinggi, minatnya luas, tidak takut salah, bebas dalam berpikir, senang dengan hal-hal baru, dan sebagainya. Namun sering dikatakan bahwa begitu anak masuk sekolah kreatifitas anak menjadi menurun. Hal ini disebabkan pola pengajaran disekolah terlalu menekankan cara berpikir konvergen, sementara cara berpikir divergen kurang dirangsang.

Khusus untuk orang tua di rumah, agar tidak terjebak pada pola pikir yang konvergen, maka hendaknya mereka bersikap terbuka ketika menerima gagasan-gagasan dari anak-anak meskipun kelihatannya tampak aneh dan tidak lazim. Bagaimanapun, mereka perlu diberi kesempatan untuk berimajinasi (berpendapat dengan caranya sendiri). Jangan memaksakan kehendak kepada mereka.

  • Memahami anak juga dapat dilakukan dengan cara menjalin komunikasi yang senantiasa terbuka antara orang tua dan anak. Rata-rata anak-anak tidak mau melanjutkan komunikasi dengan orang tuanya dikarenakan ketika anak menceritakan masalahnya orang tua cenderung ikut campur, kemudian menyalahkan atau memberi mereka kuliah yang panjang lebar. Reaksi-reaksi semacam ini tentu saja akan merusak komunikasi. Anak-anak akan jadi tersinggung dan tidak akan mau melanjutkan komunikasinya. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih terbuka pada anak-anak. Tunjukkan bahwa orang tua mengerti bagaimana perasaan anak, sehingga anakpun akan terdorong untuk lebih mudah menerima masukan dari orang tuanya. Selain itu anak juga akan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap masalah yang dihadapinya karena dia diberi kepercayaan untuk memecahkan masalahnya sendiri.

Sebaliknya, dalam memberikan nasehat orangtua juga dituntut agar lebih efektif memilih suatu cara untuk mempengaruhi anak agar mengubah tingkah lakunya yang tidak dapat diterima oleh orang tuanya. Dalam hal ini, orang tua harus jujur mengatakan akibat dari tingkah lakunya tersebut. Jangan langsung mencapnya dengan sesuatu yang buruk seperti kamu ’jahat’ atau ’bandel’.

Anggapan kolot mayoritas orang Indonesia bahwa anak merupakan ”properti” milik mereka sehingga mereka berhak mengatur anaknya sesuka hatinya sudah selayaknya diubah sekarang. Semboyan ”Banyak anak banyak rejeki” kini sudah sepatutnya mendapatkan penafsiran yang lebih manusiawi. Orang tua harus sadar bahwa anak bukanlah ”sumber investasi” melainkan ”amanah” dari Tuhan. ”Amanah” itu merupakan satu individu tersendiri yang tidak ada kaitannya dengan diri kita. Kita hanya bertugas mengantarkan ”amanah” itu sampai ke tujuannya sendiri dengan selamat. Selebihnya kita tidak berhak memiliki ”amanah” itu sebagai harta milik pribadi, apalagi sampai mengesploitasinya sebagai mesin pencetak uang.

Perkara sebagai tanda bakti anak-anak lantas diwajibkan membalas kebaikan orang tua dan merawatnya di hari tua itu adalah masalah lain. Yang penting di sini, anak jangan pernah dituntut harus bisa memenuhi semua standar yang diinginkan orang tuanya. Biarkan saja mereka berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri dan menghasilkan karya ciptanya sendiri selagi mereka sanggup bertanggung jawab untuk itu. Karena akan percuma saja ribuan peraturan perundang-undangan tentang perlindungan anak dibuat pemerintah negara ini kalau masyarakatnya sendiri juga tidak mau mengubah pola hidupnya yang ala raja-raja kuno dan kolonial memperlakukan anak-anaknya. Selamanya anak-anak akan merasa tertekan dan tidak berkembang. Padahal bisa jadi kenapa Indonesia punya banyak koruptor saat ini, salah satu alasannya adalah dulu sewaktu mereka masih anak-anak mereka selalu ditekan oleh orang tuanya agar punya target mendapatkan pekerjaan yang bisa cepat menghasilkan uang sehingga bisa segera memperbaiki perekonomian keluarga. Pada mereka tidak pernah diberikan kesempatan bagaimana caranya mengembangkan bakat atau potensi yang sudah ada pada diri mereka sebelumnya. Semua-muanya harus selalu sesuai dengan selera orang tua.@

***

Maka pesan bagi orang tua dan para calon orang tua yang beragama muslim:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

-diambil dari berbagai sumber-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar