Sabtu, 23 Agustus 2008

PRO KONTRA ADAB BERZIARAH KUBUR

Maksud utama dari berziarah kubur adalah mendoakan jenazah yang ada di dalam makam yang diziarahi. Pengertiannya, penziarah membacakan doa-doa yang pahalanya dihadiahkan kepada jenasah penghuni makam tersebut. Hal ini disunatkan bagi laki-laki sedangkan bagi perempuan hukumnya adalah makruh karena ditakutkan akan menjadi keluh kesah yang dapat membuatnya lupa pada kekuasaan Allah SWT.

Manfaat dari berziarah kubur ini adalah agar kita selalu ingat kepada kehidupan sesudah mati, sebagaimana dalam riwayat Muslim Rasulullah saw pernah bersabda,

Ziarahilah kubur, karena ia akan mengingatkanmu kepada kematian.”

Dalam hal adab atau etika ketika berziarah kubur, hingga detik ini masih banyak terjadi khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama. Masing-masing pihak mengklaim memiliki dalil-dalil yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lain.

Ulama Golongan Pertama Berpendapat:

Ziarah kubur memang disyariatkan oleh Islam, namun demikian menurut para ulama golongan pertama ada banyak batasan yang tidak boleh dilanggar oleh umat muslim, sebagian diantaranya adalah:

1.Tidak boleh mengkhususkan ziarah kubur pada hari tertentu, karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Ulama golongan pertama mendasarkannya pada hadist ini:

Barangsiapa membuat perkara baru dalam agama ini, padahal bukan menjadi bagian (agama)-nya, ia tertolak.”

2.Adalah bid’ah membaca Al Fatihah atau ayat-ayat suci Al Qur’an di makam. Alasannya karena Rasulullah saw tidak pernah membaca apapun di makam kecuali berdoa untuk jenazah dan memintakan ampunan baginya.

3.Tidak diperbolehkan mengadakan suatu perjalanan khusus (dalam jarak jauh) untuk berziarah kubur. Rasulullah saw bersabda,

Janganlah kalian bersusah payah mengadakan suatu perjalanan kecuali ke tiga tempat: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa.”

4.Meletakkan/menaburkan bunga pada jenazah atau makamnya. Hal ini dianggap menyerupai orang-orang kafir. Padahal Rasulullah saw bersabda,

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk kaum itu.”

Termasuk kategori ini adalah mengukir nisan, membuat bangunan di atas makam, mengapur makam dan lain-lain.

5.Kerabat jenazah tidak diperbolehkan membaca Al Qur’an dan melakukan shalat dengan maksud pahala shalatnya ditujukan kepada mayat. Namun demikian mereka diperbolehkan melakukan ibadah tertentu seperti berdoa, berhaji, umrah, shadaqah dan berkurban untuknya. Demikian juga membayar hutang puasa jenazah.

Golongan Ulama Kedua Berpendapat:

Ziarah kubur disyariatkan oleh Islam. Namun berbeda dengan pendapat ulama pada golongan pertama, ulama golongan kedua tidak banyak memberikan batasan-batasan. Berbanding terbalik dengan golongan ulama pertama, mereka berpendapat seperti ini:

1.Lebih utama berziarah ke makam pada malam Jum’at atau hari Jum’at. Hal ini mereka landaskan pada perkataan Muhammad bin Annuman tentang perkataan Rasulullah saw:

Siapa yang berziarah ke makam ayah ibunya tiap-tiap hari Jum’at, maka akan diampunkan baginya dan dituliskan sebagai anak yang berbakti.”

2.Membaca Al Qur’an dan surat-surat pendek di makam adalah disunahkan. Dari Anas bin Malik diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa berziarah ke kuburan, lalu membaca surat Yasin, maka Allah SWT meringankan siksa seluruh ahli kubur pada waktu itu. Selanjutnya, pembaca surat Yasin memperoleh pahala yang sama dengan jumlah pahala ahli kubur yang ada

Hal ini juga dapat dirujuk pada Ensiklopedia Tematis Al Qur’an Buku 2: Konsep Taqwa, terbitan Kharisma Ilmu, halaman 114.

3.Diperbolehkan mengadakan perjalanan khusus (dalam jarak jauh) apabila keadaannya cukup memungkinkan untuk itu. Namun jika tidak mampu atau dirasa tidak mendesak, tidak ada paksaan untuk melakukannya. Dasarnya adalah dari Buraidah, Rasulullah saw pernah bersabda:

Dulu aku melarang kamu berziarah kubur, sekarang Muhammad telah mendapat izin berziarah ke makam ibunya, maka ziarahlah kamu, karena sesungguhnya ziarah itu mengingatkan kepada akhirat.”

Sementara Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya juga mengatakan bahwa ”Rasulullah saw pernah berziarah ke makam ibunya bersama seribu orang berkuda dan bersenjata. Pada waktu itu, beliau menangis tersedu-sedu dan belum pernah beliau menangis seperti itu.”

Terakhir dari Ibnu Hibban dari Ibnu Mas’ud dikatakan, ”Rasulullah bersabda, ’Sesungguhnya makam yang kalian lihat aku berdoa, adalah makam ibuku, Aminah binti Wahab, aku memohonkan ampun baginya, tetapi Allah tidak memberiku ijin untuk memohonkan ampun dan Allah menurunkan firman-Nya: ”Tidaklah pantas bagi seorang Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampun bagi orang-orang musyrik.(QS. At Taubah: 113). Maka aku merasa kasihan kepada ibuku, sampai aku menangis.’”

4.Meletakkan/menaburkan bunga di atas pusara makam adalah sunnah Rasulullah saw. Alasannya, dalam satu riwayat Rasulullah saw pernah meletakkan pelepah daun kurma segar di atas dua makam. Para ulama golongan kedua berpendapat, sebagai ganti dari pelepah daun kurma segar maka bunga adalah yang paling tepat. Hal ini dikarenakan bunga segar lebih mudah didapatkan di lingkungan kita daripada pelepah daun kurma. Kalau kemudian kebiasaan semacam ini ada kemiripan dengan tradisi kuno, terutama tradisi Kejawen, hal ini tidak berarti bermakna sama.

Lebih lengkapnya riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

Dari Jabir bin Abdullah dikatakan: ”Aku pernah bepergian bersama Rasulullah saw. Di perjalanan Rasulullah saw menghampiri dua makam yang penghuninya sama-sama disiksa. Rasulullah saw kemudian bersabda: ’Sesungguhnya penghuni makam ini disiksa. Tidak disiksa karena dosa-dosa besar. Melainkan seorang dari mereka karena mengumpat orang lain sedangkan orang yang kedua karena tidak membersihkan sisa kencingnya.’

Kemudian Rasulullah saw meminta satu pelepah daun kurma yang masih segar dan membelahnya menjadi dua. Lalu memerintahkan kepadaku untuk menancapkan kepada masing-masing makam tersebut, seraya berkata: ’Ingatlah bahwa siksa kedua orang itu diringankan selama kedua pelepah tersebut masih belum mengering.’

5.Berbagai jenis ibadah yang dilakukan kerabat jenazah, jika niatnya ditujukan sepenuhnya hanya untuk memohon rahmat dari Allah SWT namun pahalanya diniatkan untuk dihadiahkan pada jenazah, maka hal ini sah-sah saja untuk dilaksanakan. Hal ini meliputi, membaca Al Qur’an, berhaji, umrah, shadaqah, berkurban dan membayar hutang puasa jenazah. Ijma’ kaum muslim juga memperbolehkannya (didasarkan dari An Nawawy dalam Ensiklopedia Ijma’ keluaran Hakim Agama Damaskus).

Sebetulnya masih ada satu lagi perbedaan diantara kedua golongan ulama di atas, namun tidak terlalu mencolok. Perbedaan itu terletak pada penafsiran sebuah hadist berikut:

Ibnu Abbas berkata, "Rasulullah saw telah mengutuk wanita yang berziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan kubur itu sebagai masjid dan menyalakan lampu padanya."

Dalam hal ini, ulama golongan pertama memberikan penafsiran secara tegas melarang membangun masjid di atas makam, shalat di masjid yang ada makamnya di tengah, samping atau arah kiblatnya. Begitu pula membaca Al Qur'an di sana disamakan dengan hukum larangan shalat di makam.


Makam Rasulullah saw

Sementara itu ulama golongan kedua memberi penafsiran bahwa yang dilarang dilakukan adalah shalat di pemakaman, menghadap makam, atau diatasnya. Namun demikian, apabila ada sebuah masjid yang telah berdiri terlebih dahulu akan tetapi kemudian di sekelilingnya dijadikan pemakaman, maka berdasarkan ijma' Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Anas dan Abu Hurairah; siapapun tidak dilarang shalat di dalamnya. Hal ini pulalah yang menjelaskan pada kita mengapa makam Rasulullah saw bisa dibiarkan berada di dalam kompleks Masjid Nabawi. Makam itu hanya dibatasi oleh pagar dinding yang tinggi dan kuat serta atap yang sangat kokoh, sementara orang-orang bebas beribadah apa saja di masjid yang tepat bersisian dengan makam Rasulullah saw.

Memang benar Rasulullah saw pernah bersabda seperti ini,

"Ketahuilah, orang sebelum kamu membangun masjid di atas makam nabi-nabi dan orang-orang salih diantara mereka. Janganlah membangun masjid di atas kubur, karena aku melarangnya."

Bahkan saat tiba detik-detik sakratulmaut, beliau masih sempat berpesan, "Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan makam nabi mereka sebagai masjidnya."

Namun demikian Rasulullah saw, tidak pernah menjelaskan jika yang akan terjadi sebaliknya, yaitu bagaimana jika masjid sudah ada sebelum ada makam.

Rasulullah saw hanya pernah terlihat begitu cemas tatkala menyadari kalau-kalau ada orang yang tidak menghormati makam dan meratakannya dengan tanah. Itu bisa kita lihat dari nada yang beliau pakai ketika menyatakan perkataan ini:

"Jika seseorang duduk di atas bara api sehingga terbakar pakaiannya dan menembus ke kulit badannya, maka itu lebih baik (ringan) daripada duduk di atas kubur."

Tapi apapun perbedaan pendapat di antara dua golongan ulama di atas, kita mungkin patut merasa sedikit tenang karena diantara keduanya tetap masih ada celah yang menyatukan mereka. Apa yang menyatukan mereka itu adalah mereka sama-sama tidak mengakui perbuatan syirik. Kalaupun ada sebagian masyarakat yang masih memegang tradisi nenek moyang dan memasukkannya ke dalam ritual keagamaan mereka, sejatinya baik golongan ulama pertama maupun golongan ulama kedua, keduanya sama-sama sepakat tidak mau mengakui itu sebagai bagian yang disyariatkan oleh hukum Islam.

Kesepakatan itu diantaranya berupa larangan melakukan thawaf mengelilingi makam, meminta jenazah supaya mengabulkan keinginannya dan menyembah makam karena dianggap memiliki wasilah (ngalab berkah-istilah Jawanya).

Pada awalnya ziarah kubur juga dilarang di masa Rasulullah saw, karena ditakutkan akan mengarah pada hal-hal semacam di atas. Namun, ketika umat muslim sudah mulai dapat diajari bagaimana caranya niat berziarah yang benar, Allah SWT mengijinkan Rasulullah saw, para sahabat, dan orang-orang yang hidup kemudian untuk berziarah ke makam. Ini juga menjadi suatu bukti bagi kita bahwasannya segala sesuatu dapat saja dilakukan, asal tergantung niat dan tata kramanya. Selama itu tidak berlebihan saya rasa semua ulama pasti akan sepakat kalau ziarah kubur hanyalah cukup dipandang sebagai sebuah sarana ibadah kepada Allah SWT. Toh, Rasulullah saw sendiri tidak pernah kaku dengan tata etika berziarah kubur.

Dari Aisyah ra. diriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw suka spontan pergi berziarah ke Pemakaman Baqi' dan berdoa di sana. Seringnya beliau melakukannya pada malam hari. Berikut salah satu kisah yang dinukil dari kisah Aisyah ra dalam Buku Aisyah The Greatest Woman in Islam:

Pada suatu malam, saat Rasulullah saw berada di tempat Aisyah ra, beliau keluar tiba-tiba. Aisyah ra membuntutinya hingga sampai di pemakaman Baqi'. Di sana Rasulullah saw mengangkat kedua tangan beliau dan berdiam agak lama, lalu pergi. Aisyah ra pun ikut beranjak dari sana. Aisyah ra menuturkan, "Beliau berjalan sangat cepat, aku mengikutinya dengan cepat pula. Beliau berlari, aku ikut berlari. Beliau sampai, aku pun sampai di sana sebelum beliau, lalu bersembunyi sambil berbaring. Beliau lalu masuk dan berkata, 'Ada apa denganmu, wahai Aisyah, bersembunyi di situ?' Aku menjawab,'Tidak ada apa-apa.' Kemudian beliau berkata lagi, 'Kau beritahu aku, atau Allah yang memberitahuku?' Maka aku berkata, 'Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku…'. Akhirnya aku menuturkan hal tersebut kepada beliau.

Akhirnya, menurut hemat saya, apapun perbedaan pendapat diantara kalangan ulama, jika masing-masing pihak sudah merasa yakin dapat mempertanggungjawabkan dalil-dalil yang mereka jadikan rujukan, lalu untuk apa lagi harus saling menyalahkan bahkan cenderung saling menghujat? Karena selalu berkutat mempersoalkan suatu hadist tertentu adalah lemah sanadnya atau hadist tertentu tidak dapat digunakan dalam persoalan ini hanya akan membuang-buang waktu saja. Kalau orang terus menerus hanya meributkan hal-hal semacam itu lalu kapan akan dimulai ibadahnya? Padahal Allah SWT sudah cukup bersabar menunggu kapan mau mulai disembah oleh hamba-hamba-Nya.

Mungkin akan jauh lebih baik kalau kita serahkan saja semua permasalahan ini kembali hanya kepada Allah SWT. Karena biar bagaimanapun hanya Dia satu-satunya yang berhak menghakimi seorang hamba. Kita mesti waspada terhadap ucapan Rasulullah saw di suatu malam di Pemakaman Baqi' ini:

"Keselamatan atasmu, wahai penghuni kubur. Bergembiralah di alammu, yang jauh lebih baik dari negeri yang kini dihuni manusia. Fitnah akan datang kepada mereka secara beruntun, seperti beruntunnya potongan-potongan malam yang gelap. Yang terakhir menyusul yang terdahulu, dan yang terakhir lebih buruk dari yang sebelumnya."

Siapakah yang dimaksud dengan kata 'mereka' itu? Bisa jadi itu adalah para ulama kita yang saat ini begitu tenggelam dalam pertikaian, saling menyalahkan dan saling fitnah. Atau yang lebih buruk lagi 'mereka' itu adalah justru kita-kita sendiri yang sadar atau tidak sadar sudah ikut terseret dalam pertikaian tersebut. Naudzubilah.

Semoga Allah SWT selalu melindungi kita dan menjauhkan kita dari segala bentuk kejahatan berupa fitnah.@

****

Para pembaca mungkin sudah lebih tahu alamat-alamat site mana yang bisa dijadikan bahan rujukan terkait dengan tema ini. Tapi untuk bahan rujukan pustaka, saya bisa berikan daftar sejumlah referensinya:

  • Buku Pintar Agama Islam Edisi Senior, oleh Syamsul Rijal Hamid
  • Malam Pertama di Alam Kubur, oleh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al Uraifi
  • Mendaki Tangga Ma'rifat, oleh Syekh Jabr ar Rummi
  • Irsyadul Ibad Ila Sabilirrasyad (Petunjuk ke Jalan Lurus)
  • Muhammad, oleh Martin Lings
  • Aisyah The Greatest Woman in Islam, oleh Sulaiman an Nadawi
  • Tawa dan Air Mata Rasulullah, oleh Dr. Ahmad Mustofa Qasim Tohtowiy
  • Ensiklopedia Ijma', dikeluarkan oleh Hakim Agama Damaskus
  • Ensiklopedia Tematis Al Qur'an , diterbitkan oleh Kharisma Ilmu
  • Majmu' Syarif Kamil

2 komentar:

  1. terima kasih sharing info/ilmunya...
    saya membuat tulisan tentang "Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?"
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. terima kasih kunjungannya. Saya sudah baca artikelnya mas Faisol. Cukup bagus juga untuk dijadikan bahan masukan baru. Trims

    BalasHapus