Kamis, 21 Agustus 2008

Kue Apem Dalam Tradisi 'Megengan'

Ramadhan sebentar lagi akan tiba, orang-orang sudah mulai terlihat ribut mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi bulan yang suci ini. Lihat saja, sebentar lagi sebagian masyarakat tradisional bakal ramai-ramai mengadakan sebuah acara tahunan yang disebut dengan 'megengan.' Acara semacam itu biasanya diadakan beberapa hari menjelang Ramadhan tiba. Menu utamanya biasanya kue apem. Tradisi semacam ini sudah menjadi budaya di kalangan suku Jawa sejak bertahun-tahun lalu.

Memang, masih ada kontroversi di antara para ulama. Sebagian ada yang beranggapan kalau acara seperti Megengan dengan menu utama kue apem ini sebagai pemborosan atau bahkan bid'ah. Namun terlepas dari kontroversi yang terjadi di masyarakat, sebetulnya acara semacam ini memiliki makna filosofis. Dan karena adat orang Jawa selalu kental dengan makna-makna filosofis, maka tidak heran kalau kue apem-pun memiliki sebuah makna filosofis yang unik.

Konon menurut sejarah, suatu hari di bulan safar, ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya kembali dari perjalanannya ke tanah suci. Ia membawa oleh-oleh 3 buah makanan dari sana. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tidak memadai. Maka bersama sang istri iapun mencoba membuat kue yang sejenis. Setelah jadi, kue-kue ini kemudian disebarkan kepada penduduk setempat. Pada penduduk yang berebutan mendapatkannya ki Ageng Gribig meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “Tuhan berilah kekuatan

ImagesSelanjutnya makanan ini dikenal oleh masyarakat sebagai kue apem, yakni berasal dari saduran bahasa arab “affan” yang bermakna ampunan. Tujuannya adalah agar masyarakat juga terdorong selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Lambat laun kebiasaan 'membagi-bagikan' kue apem ini berlanjut pada acara-acara selamatan menjelang Ramadhan. Harapannya, semoga Allah berkenan membukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya kepada umat muslim yang hendak menjalankan ibadah puasa. Dengan begitu umat muslim yang menjalankan ibadah puasa berharap dapat menjalankannya dengan lapang dada dan tenang juga.

Tapi itulah tradisi, bisa diikuti bisa juga tidak terserah bagaimana orang ingin memandang maknanya.@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar