Rabu, 06 Agustus 2008

JANGAN LATAH

Salah satu kebiasaan buruk orang Indonesia adalah "MENIRU" atau "LATAH". dari mulai cara berdandan, cara berjalan, berbelanja ala milyarder dan lain sebagainya semuanya dilakukan oleh orang Indonesia. sekarang apakah cara ini bisa dibernarkan oleh Islam? jawabnya adalah

"Orang-orang yang lupa dengan dirinya sendiri, suaranya, gerakan tubuhnya, ucapannya, kemampuannya, dan kondisinya sendiri, kebanyakan akan meniru-niru budaya bangsa lain. Dan itu disebut dengan latah, mengada-ada, berpura-pura, dan membunuh paksa bentuk dan wujud dirinya sendiri.

Seseorang merupakan sesuatu yang lain daripada yang lain. Tak ada seorang pun yang serupa dengan yang lain dalam catatan sejarah kehidupan ini. Maka hiduplah sebagaimana kita diciptakan; jangan mengubah suara, mengganti intonasinya, dan jangan merubah cara berjalan kita. Tuntunlah diri dengan wahyu ilahi dan jangan melupakan kemerdekaan diri sendiri.

Tetaplah berpijak dan berjalan pada kondisi dan karakter diri sendiri:

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepalanya. Maka, berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148)

Anda memiliki corak dan warna tersendiri. Maka jadilah seperti itu adanya. Umat manusia –dengan pelbagai macam tabiat dan wataknya- seperti alam tumbuhan: ada yang manis dan asam, dan ada yang panjang dan ada yang pendek. Dan seperti itulah seharusnya manusia. Sesungguhnya perbedaan warna kulit, bahasa, dan kemampuan kita masing-masing merupakan tanda-tanda kebesaran Sang Maha Pencipta. Karena itu, jangan sekali-kali diingkari."

(Sumber rujukan: La tahzan! Karya: Dr. Aidh al-Qarni)

***

Maka sudah selayaknya kini jika bangsa Indonesia, khususnya umat Muslim, untuk memperhatikan dirinya sendiri, apakah masih layak LATAH pada corak hidup yang kelewat KAPITALIS, KONSUMTIF, dan HEDONIS??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar