Sabtu, 12 Juli 2008

KALAU SISTEM PARPOL BENAR-BENAR PAYAH

Gaung perayaan PEMILU tahun 2009 sudah senter terdengar dimana-mana sekarang. Dari mulai media massa, gedung perkantoran, pasar bahkan dapur ibu-ibu rumah tangga, semuanya ramai membicarakannya. Ada yang pro namun tidak jarang yang kontra dengan keberadaan partai-partai tersebut.

Sebenarnya dibentuknya partai-partai politik (parpol) ini bertujuan baik. Ini bisa menjadi bukti bahwa Indonesia benar-benar menganut asas demokrasi yang bebas aktif dalam berpendapat dan berekspresi. Hanya sayang, dari segi marketing partai-partai politik benar-benar payah. Lihat saja cara mereka ketika merekerut anggota baru parpol, boleh dibilang lebih menyeramkan ketimbang bisnis MLM. Ya memang, tidak semua orang yang bergabung dengan parpol itu karena dia mau dibayar dengan sejumlah uang, namun demikian dalam prakteknya banyak orang mau bergabung dengan parpol karena mereka kena iming-iming uang.

Berdasarkan pengalaman PEMILU tahun 2004 lalu, terungkap fakta bahwa ketika sebuah pihak parpol mencoba bernegoisasi dengan seorang target tertentu –umumnya tokoh-tokoh yang punya figur dan pengaruh kuat di masyarakat- berbagai bujuk rayu berusaha dilancarkan. Lumayan, jika seorang negosiator berhasil memasukkan si target ke lingkungan parpol-nya dia akan mendapatkan jatah komisi setidaknya 5 juta rupiah atau lebih (untuk ukuran parpol besar). Padahal seorang negoisator biasanya hanyalah seorang pekerja tidak tetap, namun demikian dia sudah bisa mengantongi gaji sebesar itu. Sementara untuk tokoh yang ditargetkan umumnya akan dipancing dengan sponsor parpol yang berani memasang tarif hingga bermilyar-milyar rupiah untuk satu kali pencalonan, entah itu di lembaga eksekutif maupun di lembaga legislatif.

Hanya sayang ibarat orang berhutang pada bank, tatkala si target akhirnya berhasil masuk ke dalam jajaran kursi pemerintahan, maka pada waktu itulah si target harus mulai mencicil hutangnya kepada parpol yang membesarkan namanya. Tak ayal lagi berbagai carapun dilakukan si target untuk bisa mengembalikan hutangnya pada parpol. Beruntung kalau dia seorang yang cukup kaya raya hingga mengumpulkan uang sekian milyar bisa dilakukan dengan mudah dan sangat singkat. Namun tidak demikian halnya dengan mereka yang sebelum menjadi anggota parpol hidupnya terbilang pas-pasan. Tidak heran kalau banyak dari orang-orang ini berusaha mencari tambahan gaji sebesar-besarnya. Namun kalau tidak berhasil ya menyabet proyek ini itu yang ujung-ujungnya malah memanipulasi dana, terlibat skandal suap, sampai ada yang terlibat dalam proyek-proyek bisnis kotor. Apa yang awalnya membawa visi dan misi yang bertujuan bagus akhirnya malah berakhir dengan air kubangan.

Jika selanjutnya dikatakan, semua itu adalah kesalahan mereka sendiri ’siapa suruh mereka mau menjadi anggota partai?’ , ya itu memang salah mereka dan jelas harus dipertanggungjawabkan di meja pengadilan. Tapi kalau kita hanya berkutat dengan masalah-masalah semacam ini saja setiap hari kapan akar masalahnya mau coba diselesaikan?

Jika Mau Bijak Maka....

Jika mau melaksanakan perbaikan dan pembaharuan bersama-sama di negeri ini, kita tidak cukup hanya membahas masalah yang terlihat di permukaan saja. Pejabat korupsi, meminta tambahan gaji besar dan lain sebagainya, semua itu baru satu masalah saja. Lebih dari itu, di depan sana masih ada pekerjaan rumah yang menunggu untuk ditangani.

Pertama-tama, sistem manajemen parpol harus mengalami perombakan besar-besaran. Sistem yang ideal adalah yang tidak memakai parpol untuk urusan bisnis. Memang benar tidak bisa dipungkiri bahwa ketika sebuah parpol dibentuk maka dibutuhkan dana yang besar untuk menghidupinya. Namun demikian apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk mengumpulkan dana, dengan memperbanyak kegiatan sosial misalnya?

Kedua, yang tidak kalah penting adalah upaya pembinaan sikap mental para anggota parpol. Ketika suatu parpol menetapkan suatu visi dan misi tertentu, usahakan untuk mempertahankan itu sebagai fokus utamanya. Parpol jangan hanya mau bekerja kalau ada yang berani bertaruh dengan sejumlah uang besar. Karena pada dasarnya parpol dibentuk adalah sebagai pengabdi masyarakat, maka fokuskan pola pikiran hanya pada tujuan itu, jangan melenceng kemana-mana. Tanamkan rasa ikhlas sejak awal bahwa orang berpartai politik adalah seorang pelayan. Tugasnya adalah untuk melayani dan bukan dilayani. Ini penting untuk menanggalkan rasa gengsi yang masih menyerang mayoritas golongan elit politik di seantero dunia dewasa ini, termasuk Indonesia. Harus tertanam dalam benak mereka bahwa yang membayar gaji mereka adalah rakyat, jadi sejatinya majikan mereka adalah rakyat bukan sebaliknya. Majikan harus selalu mendapatkan prioritas utama ketimbang pelayannya. Nah, kalau tidak mau menjadi pelayan ya jangan bermimpi menjadi anggota parpol.

Ketiga, belajar dari kesalahan-kesalahan di masa lalu adalah sebuah keharusan mutlak guna menempatkan batu pijakan bagi masa depan. Andai pun masih ditemukan hal-hal yang positif di masa lalu maka jadikanlah itu sebagai patokan untuk berbuat yang lebih baik lagi. Intinya, dalam setiap pembelajaran silahkan untuk mengambil yang baik-baik dan menanggalkan yang buruk-buruk.

Harapan kita semoga saja PEMILU tahun 2009 nanti bisa memberikan harapan baru bagi demokrasi Indonesia.@

Ditulis 11 Juli 2008. ratualit

2 komentar: