Kamis, 03 Juli 2008

BUDAYA PATRIARKHIS DAN GERAKAN FEMINISME

Pada awalnya antara pria dan wanita terdapat kesetaraan jender. Pembagian kerja di antara mereka dilakukan berdasarkan fungsi biologis (kodrat) masing-masing. Namun dalam perkembangannya kemudian muncul perbedaan jenis pekerjaan yaitu pekerjaan luar (publik) yang umum dilakukan oleh pria dan pekerjaan dalam/rumah tangga (domestik) yang umumnya dikerjakan oleh wanita.

Pemisahan lingkup kerja yang awalnya hanya digunakan untuk memudahkan sistem pembagian tugas pada akhirnya menjadi semacam kebiasaan yang membudaya. Dan budaya ini menjadi semakin mantap tatkala pria sebagai pengumpul harta membutuhkan aturan mengenai hak waris. Karena kebutuhan pelimpahan hak waris ini maka laki-laki mulai mencari keturunannya untuk diberi hak waris. Sejak itu anak dikenal berdasar garis keturunan ayahnya. awalnya perubahan budaya itu terjadi secara wajar-wajar saja. Namun sayangnya dalam proses selanjutnya pandangan manusia atas hak milik diperluas. Bukan hanya hak milik atas barang-barang, tetapi juga hak untuk mengambil segala keputusan dalam hidup. Pada waktu yang sama, terjadilah perampasan hak wanita dalam pengambilan keputusan. Peristiwa perampasan ini menjadi semakin kuat lagi ketika manusia menghargai nilai harta lebih tinggi dari nilai manusia.

Perjalanan budaya patriarkhi mulanya terjadi pada tatanan sosial kemasyarakatan feodal (kerajaan). Kemudian berkembang pada masyarakat yang kapitalis dan akhirnya patriarkhis pun bercorak militer. Akibat perubahan sosial tersebut, dalam masryarakat terdapat pandangan bahwa norma manusia baru dianggap benar apabila dipandang dari sudut laki-laki. Semua ini berlaku di hampir semua aspek kehidupan, dari mulai sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, sampai agama. Keadaan ini akhirnya melahirkan diskriminasi terhadap perempuan.

Nasib Wanita di Bawah Kekuasaan Dominasi Patriarkhis Kuno

  • Wanita di Yunani Kuno

Dalam masyarakat Yunani Kuno wanita diperjual belikan layaknya barang dagangan. Wanita hanya dianggap sebagai tempat pelampiasan nafsu semata. Ini dapat dibuktikan dengan satu legenda masyarakat setempat yang berkisah tentang Dewi Aphrodite. Dikisahkan bahwa Dewi Aphrodite dengan mudahnya mengkhianati ketiga suaminya yang juga Dewa. Ia dikatakan melahirkan Cupid (Dewa Cinta) dari hasil perselingkuhannya dengan seorang kekasihnya. Ada yang mengatakan bahwa kekasih Dewi Aphrodite itu adalah Adonis, seorang manusia yang terlahir dengan fisik yang sempurna dan sangat tampan.

Entah kisah itu apa memang benar begitu atau sudah dibuat bermacam-macam versinya, namun yang jelas jika kita mengamati cerita legenda tersebut kita bisa melihat bagaimana pola pikir masyarakat umum pada masa itu. Dengan menggambarkan Dewi Aphrodite sedemikian rupa bukankah sama artinya dengan menghina makna cinta dan status sosial bagi seorang wanita.

  • Wanita di Romawi Kuno dan Mesir Kuno

Tak jauh berbeda dengan masyarakat Yunani, dalam pandangan masyarakat Romawi Kuno posisi wanita dianggap lemah. Kaum prianya beranggapan wanita adalah anak asuh roh-roh jahat. Dalam komunitas bangsa tersebut seorang tidak harus mengakui anaknya. Jika seorang wanita melahirkan, pihak keluarga wanita itu akan membawa bayinya ke hadapan sang ayah dan diletakkan di bawah kakinya. Apabila si ayah mengangkat dan menggendongnya, maka silsilah (nasab) anak tersebut mengikuti ayahnya. Kalau ayahnya membiarkannya saja, mereka akan memungutnya dan meletakkannya begitu saja di lapangan terbuka atau tempat-tempat ibadah. Apabila ada yang iba, bayi itu akan menjadi budaknya dan berhak diperlakukan apa saja. Namun jika tidak ada yang memungutnya bayi itu akan mati dengan sendirinya karena kehausan dan kelaparan.

Semula dalam sistem Romawi Kuno seorang pria berhak membunuh istri dan anak-anaknya. Akan tetapi sewaktu Kaisar Justinian (550 M) berkuasa dikeluarkanlah Undang-Undang Justinian yang diantaranya memuat pelarangan seorang pria membunuh istri dan anaknya. Namun demikian undang-undang ini masih memberi peluang kepada pria untuk menjual istri dan anaknya di pasar budak.

Dalam masyarakat ini juga dikenal satu prinsip; kaum wanita selamanya akan tertawan, terikat, dan tak pernah bebas, kecuali meninggal dunia. Sebuah ungkapan populer dideklarasikan oleh pakar hukum Romawi bernama Kato: Nunquam Exvitus Mu-liedrus (ikatan yang diberikan kepada wanita tersebut selamanya tak boleh dilepaskan).

Sementara itu di Mesir, masyarakat kuno hanya menghormati para wanita yang berasal dari kalangan bangsawan dan penguasa. Sejumlah wanita bangsawan yang pernah menjadi penguasa di Mesir adalah Nefertiti, Hatsyibut dan Cleopatra.

Namun demikian dalam sejarah bangsa Mesir (sekitar 2950-2575 SM), ketika Raja Aha, dari Dinasti terkuno Mesir meninggal rakyatnya mengadakan semacam upacara pemujaan. Kemudian di akhir pemujaan itu beberapa orang pilihan diminta minum secawan minuman yang telah dibubuhi racun di dalamnya. Di dekat kuburan sang Raja para arkeolog ternyata menemukan sebuah makam seorang wanita bangsawan. Agaknya wanita itu dimakamkan tidak lama setelah Raja Aha meninggal. Ini mengindikasikan meski wanita itu seorang bangsawan, namun jika rajanya meninggal maka selayaknya dia juga ikut meninggal bersamanya. Belum ditemukan kisah yang sebaliknya, ketika seorang penguasa wanita yang meninggal apakah suaminya juga akan dipaksa meninggal juga.

  • Wanita di India Kuno

Konstitusi Manu memandang wanita hanya sebagai pengikut dan bayang-bayang suami. Jika suaminya meninggal maka dia harus ikut meninggal bersamanya. Karenanya, apabila seorang suami meninggal dunia, sang istri akan berbaring di samping jenazah suaminya dan dibakar hidup-hidup bersamanya. Ia dibakar dalam satu prosesi besar-besaran.

  • Wanita di Arab Jahiliyah

Bagi seorang suami adalah aib jika istrinya sampai melahirkan anak wanita. Ia akan berusaha menghindar dari khalayak ramai dan menguburkan anaknya. Anak yang dikuburkan semacam ini disebut dengan al mau’udah (yang dikubur hidup-hidup). Atau kalau orang itu terlalu iba jika harus membunuh anaknya, maka dia masih punya pilihan lainnya, yakni menjual anaknya ke pasar budak. Wanita Arab jahiliyah juga tidak pernah berhak mewarisi harta seseorang. Bila seorang ayah kandung meninggal, maka anak tertua yang mencintai istri ayah kandungnya (kecuali ibu kandungnya) berhak menikahinya dan memiliki harta yang dimiliki wanita itu sepenuhnya.

  • Wanita di Inggris

Pandangan yang merendahkan derajat wanita akibat budaya patriarkhis bentukan tangan-tangan manusia terus berkembang hingga abad pertengahan. Undang-undang Inggris tahun 1805 masih membenarkan kaum pria memperdagangkan istrinya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Ikatan pernikahan di antara keduanya tidak lagi menjadi sah jika sudah terjadi transaksi jual-beli. Undang-undang itu mengesahkan standar harga untuk penjualan istri sebesar 6 Poundsterling.

Tahun 1931, pernah terjadi sebuah kasus. Salah seorang suami jatuh bangkrut dan kebetulan dia memiliki seorang istri yang cantik. Ia pun menjual istrinya kepada salah seorang tetangganya seharga 500 poundsterling. Kedua pihak pun sepakat dan sang istri pun siap diangkut oleh sang tetangga. Tapi wanita itu tidak terima dan melarikan diri ke kantor polisi.

Polisi pun memanggil suaminya dan sang pembeli untuk dimintai keterangan. Sang suami menjawab dengan enteng, ”Saya tidak melanggar undang-undang. Undang-undang Inggris membenarkan penjualan istri.” Ia mengatakan itu sambil menunjukkan undang-undang yang dikeluarkan tahun 1805 tersebut. Akhirnya oleh pihak kepolisian kasus ini dilimpahkan ke pengadilan dan oleh hakim diputuskan bahwa undang-undang yang diberlakukan tahun 1805 itu sudah tidak berlaku lagi. Sebagai gantinya, sang suami akhirnya dipenjara selama 10 bulan dan kontrak jual-beli pun dibatalkan.

  • Wanita di Perancis

Slogan persamaan, kebebasan dan keadilan yang digaungkan Revolusi Perancis ternyata hanya berlaku bagi kaum pria. Undang-undang sipil Perancis ternyata tetap tidak memperbolehkan wanita mengadakan perjanjian tanpa ijin walinya. Artinya, kaum wanita diperlakukan layaknya anak kecil, tidak waras atau kekurangan akal, yang dalam bahasa hukumnya disebut sebagai kelompok ’tidak cakap’. Wanita Perancis baru mendapatkan hak-haknya setelah tahun 1938, itupun belum sepenuhnya terutama bagi mereka yang telah menikah.

Reaksi Gerakan Feminis Dunia

Ketidakadilan jender yang diakibatkan oleh sistem patriarkhis yang keterlaluan di masa lalu menyebabkan banyak gerakan feminisme mulai bermunculan untuk melawannya. Gerakan-gerakan itu mulai bermunculan di tahun 1960-an atau 1970-an. Namun sayangnya, kadang-kadang gerakan ini bereaksi terlalu berlebihan:

  • Feminis Radikal

Feminis Radikal dirintis oleh Charlotte Perkins Gilman, Emma Goldman, dan Margaret Sanger. Mereka menyatakan bahwa wanita harus melakukan kontrol radikal terhadap tubuh dan kehidupan mereka. Bagi mereka penindasan wanita berasal dari sistem penempatan wanita di kelas lebih rendah dan lemah (inferior) dibandingkan dengan kelas pria. Oleh karena itu sistemnya harus dihancurkan. Fokusnya adalah bagaimana mengalahkan aturan-aturan yang selama ini di dominasi kaum pria.

Tujuan pembentukannya sebetulnya bagus, sayangnya akhirnya hanya membuat kesan kalau kelompok ini dibentuk sebagai ajang balas dendam. Ekstrimnya, untuk menyeimbangkan hubungan antara pria dan wanita maka keterpusatan politik (penentu keputusan) seharusnya ditangani oleh wanita.

  • Feminis Liberal

Feminis liberal mendasarkan visi dan misinya sepenuhnya pada kebebasan individu. Bagusnya, mereka merasa perlu menyetarakan hak-hak wanita dalam bidang kesejahteraan, layanan kesehatan, peluang pendidikan, termasuk juga persamaan di muka hukum. Hanya sayangnya, karena sifatnya yang sangat liberalis gerakan ini pada akhirnya malah menjadi berlebihan. Inti keyakinan mereka terletak pada kebebasan tanpa batas. Mereka berprinsip kehidupan pribadi seseorang tidak semestinya menjadi obyek peraturan masyarakat. Dengan kata lain, seorang wanita dapat memperlakukan tubuhnya sesuka hatinya, termasuk jika dia berkeinginan untuk tiba-tiba melakukan aborsi. Pendukung gerakan ini di antaranya adalah Mary Wollstonecraft dan Zillah Eisentein.

Wanita dalam Islam

Berbeda dengan prinsip-prinsip yang dianut kelompok-kelompok Feminis barat, Islam mendasarkan pandangan Feminis-nya pada Al Qur’an. Boleh dibilang perintis pertama gerakan Feminis di dunia sebetulnya adalah Nabi Muhammad saw. Dan karena yang membawa faham-faham perubahan itu seorang Rasul utusan Allah swt sudah bisa dipastikan jika visi dan misinya adalah yang paling sempurna diantara gerakan feminis yang lainnya.

Memang sejauh ini masih ada persepsi, baik dari kalangan kecil muslim maupun sebagian non-Muslim, yang mendeskritkan Nabi Muhammad saw. Mereka beranggapan bahwa ajaran-ajaran dan petunjuk-petunjuk yang dibawa Nabi cenderung diskriminatif terhadap wanita. Seolah-olah ajaran Islam mengajarkan dominasi pria atas wanita. Padahal sejujurnya dalam sejarah Islam tidak ada pergesekan antara ajaran Islam yang murni dengan hak-hak kaum wanita. Bahkan dapat dikatakan tidak ada ajaran apapun yang mampu menandingi pengaturan hubungan antara pria dan wanita yang diajarkan Islam. Tak satupun ayat dalam Al Qur’an yang pernah menempatkan pria sebagai wujud dominan yang dipertuhankan oleh kaum wanita serta tunduk patuh pada mereka tanpa pilihan.

Kalaupun memang benar ada diskriminasi wanita dalam Islam yang dilakukan sebagian muslim, sejatinya itu hanyalah karena pengaruh budaya patriarkhi yang sudah terlanjur berkembang menjadi adat kebiasaan. Dan sewaktu mereka masuk Islam budaya itu tetap terbawa dan dijadikan doktrin turun-temurun.

Selain itu penyebab utama kesalahpahaman mayoritas orang adalah karena kesalahan mereka dalam memahami apa yang dimaksud dengan ”equality” (kesetaraan). Mereka membuat pengertian ’setara’ sebagai ’sama’, padahal antara keduanya jelas berbeda. Jika ’kesetaraan’ menyangkut soal keadilan dan kesesuaian (appropriateness), maka ’kesamaan’ belum tentu adil dan sesuai.

Banyak orang menilai untuk setara diharuskan sama. Padahal setiap orang dilahirkan dalam keadaan setara (equal) tapi sebenarnya di antara mereka tidak ada yang benar-benar sama walaupun pasangan kembar sekalipun. Konsepsi kesetaraan yang dianugerahkan oleh Allah swt sama sekali tidak ada hubungannya dengan perbedaan warna kulit, bahasa, suku bangsa, status sosial dan juga jenis kelamin.

Al Qur’an memberikan ilustrasi tentang hak, kewajiban, dan kesesuaian perihal pria dan wanita:

Demi malam jika telah gelap gulita. Demi siang jika terang benderang. Dan bagaimana Allah menciptakan pria dan wanita.” (QS. Al Lail: 1-3)

Ayat-ayat di atas menjelaskan dengan gamblang perpautan antara dua jenis manusia, pria dan wanita, ibarat siang dan malam. Ibarat dua sisi mata uang. Keduanya terikat, melekat dan tidak bisa dipisahkan. Namun demikian mereka tetaplah berbeda peran, sebagaimana Allah meneruskan dalam ayat selanjutnya:

Sungguh usaha/amalan kamu berbeda-beda.” (QS. Al Lail: 4)

Ada kalanya terdapat tugas-tugas atau kewajiban yang hanya sesuai dengan kondisi khusus pria. Sebaliknya juga ada kewajiban yang hanya sesuai dikerjakan oleh kaum wanita. Contohnya adalah dalam hal fungsi reproduksi. Sampai kapanpun meskipun sangat menginginkan anak seorang pria tidak akan mungkin dapat mengandung dan melahirkan seorang bayi. Sebaliknya, sekeras apapun seorang wanita melatih otot-otot tubuhnya menjadi maskulin dia tidak akan pernah bisa mengalahkan ketegaran logika kaum pria dalam berpikir dan berstrategi. Siapa memangnya yang bisa merubah perilaku hormon?

Sejak penciptaan, disebutkan dalam Al Qur’an bahwa Allah swt menempatkan Adam dan Hawa dalam kondisi yang setara. Keduanya diperbolehkan menikmati kesenangan surga bersama-sama tapi keduanya juga diberi peraturan yang sama untuk tidak mendekati pohon terlarang. Ketika keduanya tergoda untuk memakannya maka keduanya mendapatkan konsekuensi hukuman yang setara. Begitupun saat keduanya memohon ampun, mereka mendapatkan pengampunan yang setara. Singkat kata, Adam dan Hawa di hadapan hukum memiliki kesetaraan jender. Dosa manusia tidaklah ditanggung oleh satu pihak tertentu, sebagaimana umat non muslim selama ini mempercayai bahwa Hawa-lah yang telah menggoda Adam hingga terjatuh ke dalam dosa warisan (original sin). Islam jelas menolak pandangan ini karena menganggap yang paling bersalah adalah iblis bukan Adam maupun Hawa.

Kesetaraan yang ada dalam ajaran Islam adalah kesetaraan yang menyatu dan tidak terpisahkan. Ketenangan atau ”sakinah” hanya akan didapatkan dengan ”partnership” antara keduanya, seperti yang diilustrasikan Al Qur’an sebagai ”Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”

Dalam hal ritual keagamaan antara pria dan wanita memiliki kedudukan yang setara. Jika ada yang menganggap bahwa hak-hak semacam larangan sholat di saat haid atau nifas telah membuat hak-hak wanita dikurangi, maka itu adalah pandangan yang salah. Pemahaman ini didasarkan pada realita bahwa yang memerintahkan sholat adalah Allah swt, begitupun yang memerintahkan untuk tidak sholat. Jadi, inti permasalahannya bukan melakukan sholat atau tidak tapi apakah aturan itu diikuti atau tidak. Baik yang sholat maupun yang tidak diperbolehkan sholat, keduanya, sama-sama memiliki peluang untuk menerima pahala.

Begitu pula dalam bidang politik, pernah dikisahkan ada sekelompok wanita protes kepada Nabi Muhammad saw karena tidak diijinkan ikut berperang mengangkat senjata bersama suami mereka. Dalam hal ini, Nabi menyatakan bahwa setiap tasbih, tahmid, dan tahlil yang mereka ucapkan nilainya disetarakan dengan ayunan pedang suami-suami mereka dalam peperangan. Jika wanita barat baru mendapatkan hak suara mereka untuk berpendapat setelah abad ke-20, maka umat Islam ini telah mendapatkan hak itu sejak Islam berdiri. Terbukti, mereka bisa begitu bebas terbuka mengajukan protesnya kepada Nabi, sementara di belahan dunia yang lain rekan-rekan mereka masih mengalami penindasan dan perbudakan dari lawan jenisnya.

Dalam hal pendidikan, Islam pun tidak kalah setaranya. Ini bisa dibuktikan dengan Aisyah ra. Dia tidak hanya cerdas akan tetapi juga cukup ditinggikan derajatnya. Mungkin jika masa kejayaan Nabi masih berlangsung hingga kini, mungkin jabatan yang patut diemban oleh Aisyah ra adalah Wakil Presiden, setingkat lebih rendah di bawah Nabi yang menjadi Presidennya. Ini bisa dibuktikan dengan kepercayaan Nabi yang diberikan kepadanya untuk mengajar para sahabat berbagai ilmu-ilmu syariat, hadist, tafsir Al Qur’an dan sejarah sepeninggal beliau.

Dalam bidang kesehatan, para wanita sering dilibatkan sebagai perawat di tenda-tenda pasukan Muslim. Tugas mereka adalah mengobati para tentara yang terluka dan menjaga persediaan air di belakang barisan. Seringkali Nabi mengundi salah satu atau beberapa orang istrinya untuk ikut berperang bersamanya. Tujuannya adalah untuk menjadi petugas medis di tenda-tenda tentara semacam ini. Mungkin ini jugalah yang nantinya menjadi dasar munculnya Rumah Sakit modern seperti yang kita kenal saat ini, di mana ada dokter dan para perawat yang merawat para pasien secara khusus di ruangan terpisah.

Terakhir berkaitan dengan masalah warisan, Islam memberikan hak kepada wanita untuk menerima warisan, baik sebagai istri, anak perempuan, saudara perempuan ataupun nenek. Wanita juga berhak mendapatkan nafkah dari suaminya, sementara suami tidak berhak menuntut nafkah dari istrinya meskipun istrinya kaya dan suaminya miskin. Ini sebagai implikasi dari adanya peraturan hukum waris Islam yang menetapkan warisan bagi anak pria adalah 1 bagian sementara bagi anak wanita adalah ½ -nya. Dalam hukum waris Islam anak pria mendapat 1 bagian karena masih harus berbagi separuh bagian dengan istri dan anak yang harus ia nafkahi, sementara anak wanita tidak begitu.

Dengan demikian tidak ada kekhawatiran diskriminasi bakal terjadi dalam Hukum Islam yang lurus ini. Semuanya mendapatkan kesempatan yang setara dalam segala bidang tanpa perlu menafikkan kemampuan kodratinya.@

Sumber: Majalah Media Perempuan, Getar Gender: Buku Kedua, Muhammad (karya: Martin Lings), Ensiklopedia Al Qur’an Tematis, Ensiklopedia Feminis, National Geographic.

komentarku hari ini:
Cuapeeeek aku rek!!Wuaaah Surabaya Raya hari ini, 2 Juli 2008 puanaaas pol!!....

9 komentar:

  1. Permisi salam kenal yah. btw, aku copy yah postingannya. soalnya bagus banget....

    BalasHapus
  2. ass,.
    tulisannya km bagus but,. tolong referensi and daftar pustakanya dicantumkan agar lebih ilmiah dan bisa digunakan oleh para akademisi,
    TQ,.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, memang tdk lengkap tp sumber sdh saya yulis di bawah tulisan

      Hapus
  3. To Putri:
    salam kenal juga putri, iya ga apa-apa. disebarluaskan ke siapa aja juga boleh kok... :-D

    To Anonim:
    Wss, trims.
    hehehe...butuh referensi dan daftar pustakanya secara lengkap yah? btw, saya carinya dulu lagi yah soalnya itu tulisan udah lama banget bikinnya dan ambil referensinya dimana-mana, pokoknya ketemu buku bagus ya aku rangkum.
    tapi nanti deh saya usahain deh cari lagi. thanks yah masukannya. masukannya berharga banget buat saya... :-D

    BalasHapus
  4. halo, bolehkah saya meminta referensi mengenai wanita di Inggris yang diceritakan di atas? saya memerlukan artikel semacam tersebut untuk keperluan skripsi. trims

    BalasHapus
  5. halo, bolehkah saya meminta referensi mengenai wanita di Inggris yang diceritakan di atas? saya memerlukan artikel semacam tersebut untuk keperluan skripsi. trims

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus