Jumat, 27 Juni 2008

SEBERAPA AMAN TAYANGAN TELEVISI BAGI ANAK-ANAK KITA?

Pada era modern ini manusia tidak bisa lepas dari sarana media massa yang disebut dengan televisi. Dari mulai anak-anak hingga kakek-nenek, semua telah menganggapnya sebagai barang kebutuhan pokok untuk mendapatkan informasi, ilmu pengetahuan, dan hiburan. Akan tetapi sudah cukup amankah tayangan-tayangan televisi kita saat ini bagi anak-anak?


Temuan Nielsen Media Research (2004) menunjukkan televisi memiliki daya penetrasi jauh lebih besar daripada media lainnya. Penetrasi televisi mencapai 90,7%, sedang radio, surat kabar, majalah, dan internet, masing-masing hanya mencapai 39%, 29,8%, 22,4%, dan 8,8%. Kuatnya penetrasi televisi itulah yang menyebabkan televisi dianggap sebagai media paling berpengaruh bagi anak.


Berdasarkan beberapa riset nasional yang dilakukan terhadap anak-anak di Jakarta, seperti yang dilakukan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), menyebutkan bahwa televisi ternyata merupakan medium yang banyak ditonton dengan alasan paling menghibur. Kenyataan ini menunjukkan bahwa televisi benar-benar merupakan media yang diidolakan oleh anak-anak.


Sebuah penelitian lain juga menunjukkan, sekitar 60 juta anak Indonesia menonton televisi selama berjam-jam sepanjang hari. Pada tahun 2002 diperoleh angka mencengangkan. Jam menonton anak-anak Indonesia adalah 30-35 jam per minggu atau 1.560-1.820 jam per tahun. Jumlah jam ini lebih banyak dari jumlah jam belajar di SD yang hanya 1.000 jam per tahun.


Itu baru bicara soal televisi, belum bicara pada program-program games yang cenderung searah tanpa mempedulikan efek-efek yang ditimbulkannya. Kejadian ini tidak bisa dipungkiri karena kebanyakan keluarga tidak pernah memberi batasan yang jelas, tontonan apa yang sebaiknya dilihat anak dan tontonan apa yang sebaiknya dipinggirkan dari depan anak.


Pada tahun 2004, Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mencermati program televisi. Dari sejumlah sample, tayangan yang aman untuk anak hanya 15%. Saat ini (data diambil tahun 2007, -ket) jumlah acara televisi untuk anak prasekolah dan SD perminggu sekitar 80 judul ditayangkan selama 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam. Jadi, selain sudah sangat berlebihan, acara untuk anak juga banyak yang tidak aman.


Dalam Kidia (Kritisi Media Anak) pada Juni 2006 ada 3 kategori acara bagi anak: aman, hati-hati, tidak aman bagi anak.

Acara aman bagi anak bila tidak mengandung kekerasan, seks, dan mistis (VHS). Aman karena cerita sederhana dan mudah dipahami. Anak boleh menonton tanpa didampingi. Tayangan yang masuk kategori ini Surat Sahabat (Trans TV) dan Si Bolang (Trans 7).

Acara yang tergolong hati-hati adalah mengandung kekerasan, seks, dan mistis namun tidak berlebihan, tema dan jalan ceritanya mungkin tidak cocok untuk anak seusia SD, oleh karenanya anak harus didampingi saat menonton. Acara yang tergolong hati-hati adalah Doraemon (RCTI) dan Spong-Bob (Global TV).

Sementara yang terkategori tidak aman adalah tayangan yang mengandung kekerasan, seks dan mistis yang berlebihan dan terbuka. YPMA menyarankan anak-anak tidak menonton acara ini. Yang terkategori acara ini adalah Crayon Sinchan (RCTI), Popeye (anTV), Detective Conan (Indosiar), dan Tom and Jerry (TPI).


Harus Mengurangi Menonton Televisi


Ada sejumlah alasan mengapa tontonan televisi harus dikurangi:

  • Terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun tontonan televisi yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca verbal maupun pemahaman, menghambat kemampuan mengekspresikan pikiran secara tertulis, meningkatkan agresifitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.

  • Anak-anak merupakan target pengiklanan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif.

  • Anak yang banyak menonton televisi namun belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa.

  • Terlalu banyak menonton televisi akan mengurangi semangat belajar. Bahasa televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat memungkinkan anak menjadi malas belajar.

  • Terlalu sering menonton televisi dan tidak pernah membaca menyebabkan anak memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier (searah) dan akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreatifitas, dan perkembangan kognitifnya.

  • Rentang waktu konsentrasi anak adalah 7 menit, persis seperti acara iklan ke iklan, hal ini dapat membatasi daya konsentrasi anak.

  • Dengan adanya televisi, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi individualistis dan penyendiri. Waktu liburan, seperti akhir pekan atau liburan sekolah, lebih banyak digunakan untuk menonton televisi. Mereka seakan-akan tidak mempunyai pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktifitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.

  • Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton televisi, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di televisi dan cenderung mempengaruhi orang tua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Duduk berjam-jam di depan televisi akan membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme serta menimbulkan obesitas (kegemukan).

  • Kebanyakan anak-anak menonton televisi lebih dari 4 jam sehari. 40% keluarga menonton televisi sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ‘berbagi cerita’ antar anggota keluarga. Sehingga seandainya pun ada waktu dengan keluarga kita hanya akan mendiskusikan apa yang kita tonton di televisi saja. Rata-rata, televisi dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruang rumah yang berbeda.

  • Adegan seksual yang ditayangkan di televisi juga sangat berpengaruh pada kematangan seksual anak lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, rasa ingin tahu anak yang tinggi membuat mereka memiliki kecenderungan untuk meniru dan mencoba melakukan apa yang dilihat. Akibatnya, seringkali anak-anak akhirnya menjadi pelaku sekaligus korban perilaku-perilaku seksual.


Apa Yang Harus Dilakukan?


Jika meninggalkan kebiasaan menonton televisi masih terlalu sulit untuk dilakukan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberikan batasan kepada anak-anak untuk menonton televisi. Beberapa saran telah coba diinventarisir oleh Priyo SM sebagai bahan perenungan untuk keluarga dalam mencermati tayangan televisi, di antaranya:


  • Pilih Program: Perikasalah jadwal acara televisi sehari-hari. Dengan demikian maka kita akan mengetahui mana tayangan televisi yang layak ditonton anak-anak sendirian, perlu didampingi orang tua/keluarga, atau terlarang sama sekali untuk anak. Cermati istilah BO (Bimbingan Orang tua), yang artinya tayangan ini memerlukan bimbingan orang tua. Kode yang memudahkan untuk mengecek apakah tayangan ini sesuai atau tidak untuk anak.

  • Membaca Resensi Televisi: Seringlah membaca resensi atau ulasan mengenai film atau acara itu. Bisa ditemukan di koran, majalah atau promo tayangan dengan demikian kita akan mengetahui seperti apa kira-kira isi acaranya. Kita dapat mempertimbangkan apakah tayangan tersebut pantas atau tidak dilihat anak kita. Banyak keluarga lebih suka memilih program acara yang sehat, namun tetap menghibur dan memberi manfaat.

  • Munculkan Dialog: Dampingilah anak saat menonton televisi. Kita ajak anak-anak membahas apa yang dia lihat di televisi. Buatlah anak-anak mengerti bahwa apa yang ada di televisi adalah dunia realitas buatan yang dibuat semirip mungkin dengan realitas yang sebenarnya. Bilamana perlu, asahlah kemampuan wawasan anak dengan menonton berita televisi.

  • Kemanfaatan: Diskusikan dan bantulah anak memperoleh manfaat dari acara televisi, dengan menuntunnya mengambil nilai positif dari acara tersebut. Hindarkan pola menonton dengan saling diam seribu bahasa. Jangan biarkan anak-anak larut dalam imajinasi liarnya masing-masing.

  • Aturan ketat dan Kebiasaan: Buatlah aturan ketat jam-jam berapa anak boleh menonton televisi, dan jam-jam berapa televisi harus dimatikan. Bilamana perlu dibuat jadwal menonton sama seperti membuat jadwal pelajaran sekolah. Batasi jumlah jam menonton televisi setiap hari. Aturan ini cukup dibuat untuk rumah tangga sendiri, yang sepenuhnya ditaati bahkan oleh orang tua sendiri. Nyalakan televisi saat kita memang ingin menonton televisi, bukan menonton sambil melakukan aktifitas lainnya seperti makan, tidur, dan sebagainya.

  • Penempatan Terlevisi yang Tepat: Lokasi televisi di rumah sebaiknya diatur sedemikian rupa agar tidak berdekatan dengan tempat anak belajar, tidak terlihat dari tempat belajar anak. Sebaiknya hindari menempatkan televisi di setiap kamar anak-anak, karena kita tidak cukup waktu untuk mencermati tayangan apa yang sedang ditonton anak-anak.

  • Pilihan Aktivitas Lain: Ajak anak untuk melakukan banyak aktivitas lain, tidak menghabiskan waktu seharian di depan televisi. Bilamana perlu, manfaatkan pesawat televisi untuk menonton VCD-DVD edukatif, memutar channel televisi yang edukatif, atau menonton rekaman rekreasi keluarga.


Itulah beberapa saran yang bisa Anda lakukan untuk menyaring kemanfaatan televisi bagi anak-anak Anda. Ingat, perilaku Anda dalam memperlakukan televisi adalah perilaku yang ditiru sepenuhnya oleh anak-anak kita. Jangan berharap pada stasiun televisi sepenuhnya untuk mengatur tayangannya. Televisi memiliki 24 jam siaran yang tayangannya diatur sedemikian rupa, dan dibagi masing-masing menurut pola menonton pemirsanya. Tayangan anak-anak pada jam anak-anak, tayangan dewasa pada jam-jam dewasa. Tugas kita, jangan membiarkan anak-anak menonton pada jam yang sebenarnya diperuntukkan untuk orang dewasa. Kalau itu saja sudah cukup sulit: “Matikan saja televisi”. Itulah cara paling bijak untuk mencegah dampak negatifnya.@


( Sumber: Media Perempuan, 04 Tahun 2007 dan Media Perempuan, 05 Tahun 2007 )

1 komentar:

  1. Postingan yang bagus Jeng. Sangat bermanfaat untuk calon ibu hehehe. Maju teruuuuuus ya...

    BalasHapus